Di Hari Raya Idul Adha, penyembelihan hewan menjadi momen sakral sekaligus penuh makna spiritual. Namun, di balik kekhusyukan tersebut, muncul pula pertanyaan yang kerap membayangi sebagian masyarakat: Apakah hewan kurban benar-benar tidak merasakan sakit saat disembelih?
Isu ini menjadi perbincangan hangat, terutama di era media sosial, di mana rekaman proses penyembelihan kerap viral dan menimbulkan perdebatan. Sebagian orang merasa iba melihat hewan yang tampak bergerak kejang saat disembelih.
Melalui wawancara bersama Anita Rahmadewi seorang Mahasiswi Kedokteran Hewan Universitas Brawijaya, artikel ini mengupas tuntas bagaimana sebenarnya mekanisme rasa sakit pada hewan kurban, bagaimana penyembelihan yang ideal, dan apa tantangan yang dihadapi di lapangan agar proses kurban berlangsung dengan penuh kepedulian dan sesuai dengan prinsip kesejahteraan hewan.
Advertisement
Hewan Kurban Tetap Merasakan Sakit, Tapi Bisa Diminimalkan
Dari sudut pandang kesehatan hewan, anggapan bahwa hewan kurban sama sekali tidak merasakan sakit ketika disembelih tidak sepenuhnya benar. "Hewan itu tetap merasakan rasa sakit, tapi rasa sakit ini bisa diminimalkan dengan teknik yang tepat," jelas Anita.
Teknik penyembelihan memiliki pengaruh besar terhadap seberapa besar rasa sakit yang dirasakan hewan. Penyembelihan yang dilakukan dengan cepat dan tepat, yakni memotong empat saluran penting—trakea, esofagus, arteri karotis komunis, dan vena jugularis—merupakan kunci utama untuk meminimalkan penderitaan hewan. Keempat saluran ini harus dipotong sekaligus dalam satu gerakan yang tegas menggunakan pisau yang sangat tajam, agar kematian terjadi secepat mungkin.
"Kalau prosesnya ini dilakukan dengan satu kali gorokan atau satu kali tarikan pisau, hewan akan mati dengan cepat, otomatis rasa sakitnya minim," terang Anita. Pisau yang tumpul atau teknik penyembelihan yang salah justru memperpanjang penderitaan hewan, menyebabkan stres, bahkan mempengaruhi kualitas daging.
Advertisement
Kehilangan Kesadaran Terjadi Cepat: Sekitar 5–10 Detik
Salah satu aspek yang sering membingungkan masyarakat adalah gerakan kejang yang muncul setelah hewan disembelih. Banyak yang mengira hewan masih sadar dan menderita. Namun faktanya, gerakan tersebut adalah refleks otot, bukan tanda bahwa hewan masih sadar.
"Setelah disembelih, hewan kehilangan kesadaran dalam waktu sekitar 5 sampai 10 detik," jelas Anita. Dalam waktu singkat tersebut, aliran darah ke otak terhenti karena pembuluh darah besar di leher sudah terputus, menyebabkan iskemia dan hipoksia (kekurangan oksigen), sehingga kesadaran hilang dengan cepat.
Ada beberapa tanda fisiologis yang menunjukkan bahwa hewan sudah tidak sadar dan tidak merasakan sakit lagi, antara lain:
- Gerakan kejang mulai melemah dan akhirnya berhenti.
- Darah berhenti mengalir dari leher, tanda bahwa jantung tidak lagi bekerja.
- Mata kehilangan refleks berkedip dan pupil membesar tanpa respons terhadap cahaya.
- Tidak ada lagi pernapasan.
- Tubuh menjadi kaku.
Dengan memahami mekanisme ini, masyarakat dapat lebih tenang dan yakin bahwa jika penyembelihan dilakukan dengan benar, maka hewan tidak mengalami penderitaan berkepanjangan.
Advertisement
Stunning vs Metode Tradisional: Mana yang Lebih Baik?
Dalam praktik penyembelihan hewan, dikenal juga metode stunning atau pemingsanan terlebih dahulu, yang digunakan di beberapa negara. Namun, apakah metode ini lebih baik dari segi kesehatan hewan?
Menurut narasumber, stunning justru menyimpan risiko tersendiri. "Metode stunning itu rawan gagal karena lebih ke menyebabkan trauma fisik pada hewan, terutama otaknya. Ini bisa menimbulkan stres metabolik dan kualitas daging jadi kurang baik," kata Anita.
Sebaliknya, metode penyembelihan sesuai syariat Islam, yang dilakukan dengan memotong keempat saluran penting secara langsung tanpa stunning, dianggap lebih alami dan memiliki dampak fisiologis yang lebih baik. "pH daging lebih stabil, konsistensi daging tidak keras, dan warnanya lebih segar," tambah Anita.
Hal ini menunjukkan bahwa dari sisi fisiologi hewan dan kualitas daging, metode penyembelihan tradisional jika dilakukan dengan benar, lebih unggul dibandingkan metode stunning.
Advertisement
Peran Krusial Juru Sembelih Halal (Juleha) dan Tantangan di Lapangan
Aspek penting lainnya yang kerap diabaikan dalam proses kurban adalah kualitas dan kesiapan dari juru sembelih halal (Juleha). Mereka bukan hanya bertugas memotong, tetapi juga bertanggung jawab atas kesejahteraan hewan dan hasil akhir daging.
"Pelatihan bagi Juleha itu penting, karena kalau teknik pemotongannya tidak tepat, hewan bisa menderita dan stres. Ini juga mempengaruhi kualitas daging," jelas Anita. Sayangnya, di lapangan, tidak semua panitia kurban memperhatikan aspek ini. Banyak penyembelihan dilakukan oleh orang yang belum terlatih dengan baik.
Tantangan lainnya adalah kondisi sekitar yang tidak mendukung. Keramaian, kehadiran anak-anak, suara gaduh, bahkan suara hewan lain yang sedang disembelih dapat memicu stres pada hewan yang menunggu giliran. "Hewan bisa stres karena gangguan suara, keramaian, atau perlakuan yang kasar. Ini sering terjadi sebelum penyembelihan (antemortem)," ungkap Anita.
Selain itu, peralatan yang tidak memadai seperti pisau yang tumpul, tempat yang tidak higienis, dan kurangnya persiapan teknis dari panitia juga menjadi kendala yang serius. Semua faktor ini secara langsung berpengaruh terhadap kesejahteraan hewan kurban dan kualitas hasil daging.
Advertisement
Menyembelih dengan Rasa Tanggung Jawab dan Kepedulian
Penyembelihan hewan kurban bukan semata ritual ibadah, tetapi juga amanah moral. Hewan yang dikurbankan bukan hanya makhluk hidup, tetapi juga ciptaan Tuhan yang harus diperlakukan dengan penuh kasih sayang dan kehormatan hingga akhir hayatnya.
Melalui wawancara ini, kita mendapatkan pemahaman bahwa penyembelihan yang benar bukan hanya soal teknik, tetapi juga soal empati. Ketika jagal memahami cara kerja sistem saraf hewan, tahu bagaimana menyembelih dengan tepat, dan memperhatikan kondisi lingkungan, maka rasa sakit bisa diminimalkan, dan kurban menjadi ibadah yang benar-benar berkah.
Untuk itu, sangat penting bagi masyarakat dan panitia kurban untuk lebih peduli terhadap aspek kesejahteraan hewan, mulai dari pelatihan juru sembelih, persiapan alat, hingga pengaturan lingkungan saat pelaksanaan. Hanya dengan cara inilah nilai-nilai spiritual dalam kurban dapat diwujudkan sepenuhnya dalam tindakan yang nyata.
Apakah hewan kurban merasakan sakit saat disembelih? Jawabannya adalah ya, namun rasa sakit itu dapat diminimalkan dengan teknik yang tepat, alat yang tajam, serta penanganan yang profesional dan penuh empati. Ilmu kesehatan hewan menjelaskan bahwa kehilangan kesadaran terjadi sangat cepat, dan gerakan yang tampak seperti penderitaan sesungguhnya adalah refleks belaka.
Lebih dari sekadar pemotongan, penyembelihan hewan kurban adalah soal tanggung jawab dan kemanusiaan. Sebagai umat beriman, sudah seharusnya kita tidak hanya memenuhi syariat, tetapi juga memastikan bahwa setiap hewan kurban diperlakukan secara layak dan penuh kasih hingga detik terakhir kehidupannya.