Ketahui Risiko Kehamilan yang Bisa Dialami oleh Penyandang Lupus

Menurut dokter spesialis kebidanan dan kandungan (Obstetri dan Ginekologi) Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, Adhi Pribadi, Lupus tidak hanya memperberat beban hidup penderita karena pengobatan jangka panjang, namun juga berdampak pada kualitas hidup pasien sebagai anggota keluarga.

Rizky Wahyu Permana
Oleh Rizky Wahyu Permana - Reporter
Ketahui Risiko Kehamilan yang Bisa Dialami oleh Penyandang Lupus
ilustrasi lupus. dr-dragonas.gr

Salah satu penyakit autoimun yang diderita banyak orang adalah lupus. Penyakit autoimun sendiri dapat dipahami sebagai kondisi ketika kekebalan tubuh menjadi berlebihan dan menyerang dirinya sendiri.

Penyakit yang bernama asli Lupus Eritematosus Sistemik bisa dialami seseorang. Masalah kesehatan ini dapat muncul sebagai nyeri pada sendi, gangguan pada pembuluh darah, gangguan pada ginjal, dan berbagai gejala lain.

Menurut dokter spesialis kebidanan dan kandungan (Obstetri dan Ginekologi) Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, Adhi Pribadi, Lupus tidak hanya memperberat beban hidup penderita karena pengobatan jangka panjang, namun juga berdampak pada kualitas hidup pasien sebagai anggota keluarga. Terlebih karena biasanya Lupus sering mengenai perempuan usia produktif.

"Pada penyandang Lupus, terdapat risiko pada kehamilan yang lebih besar dibandingkan orang normal, diakibatkan oleh masalah pembuluh darah, penyakit yang kambuh, maupun efek samping dari obat yang dikonsumsi," ujar Adhi dalam keterangan resminya.

Kehamilan pada orang dengan Lupus (odapus) lanjut Adhi, membutuhkan antisipasi ketat baik dari dokter maupun pasien sendiri untuk mencegah keguguran, kecacatan serta kematian janin dalam kandungan, dan mencegah komplikasi pada ibu.

Lupus Tidak Mengganggu Kesuburan

Sementara itu, dokter spesialis penyakit dalam subspesialisasi reumatologi RSHS, Rachmat Gunadi Wachjudi mengatakan penyandang Lupus dapat hamil sebagaimana wanita pada umumnya. Alasannya ucap Gunadi, karena Lupus tidak mengganggu kesuburan.

"Namun sebaiknya kehamilan perlu direncanakan agar mendapatkan hasil yang baik. Pada penelitian didapatkan kehamilan setelah 6 bulan keadaan penyakit tenang memberikan luaran yang baik," kata Gunadi.

Sementara dokter peneliti genetika pada lupus, Edhyana Sahiraatmadja menyatakan bahwa tidak selalu ibu dengan odapus akan memiliki anak yang juga lupus. Terdapat hal lain yang berpengaruh dan tidak hanya sekadar faktor genetik.

Walau begitu, dr. Edhyana menyebut bahwa faktor genetik, namun sifatnya poligenik. Dibutuhkan faktor-faktor lain seperti lingkungan, infeksi, maupun pencetus lain yang menyebabkan seseorang menderita lupus.

Reporter: Arie Nugraha
Sumber: Liputan6.com

Rekomendasi