Setiap tahun, jumlah orang yang menderita penyakit kejiwaan semakin tinggi. Tidak jarang pula orang yang memiliki riwayat penyakit ini di dalam keluarga. Dan fakta tersebut biasanya mengarah ke satu pertanyaan, apakah penyakit mental itu diturunkan dalam keluarga?
Ternyata, jawabannya tidak sesederhana yang kita pikirkan. Ada banyak hal yang perlu kita ketahui tentang sebelum membuat asumsi apa pun. Berikut penjelasannya, seperti dilansir The Huffington Post.
Tidak ada gen spesifik untuk penyakit mental, tetapi Anda bisa terpengaruh
Para ilmuwan belum menemukan gen spesifik yang dapat dikaitkan dengan penyakit mental. Penanda genetik untuk penyakit kejiwaan mungkin ada atau tidak.
"Ini adalah gambaran yang rumit," jelas Don Mordecai, pemimpin nasional untuk kesehatan mental dan kesehatan di Kaiser Permanente. "Ketika kita mengatakan suatu penyakit adalah 'genetik', sebenarnya kita mengatakan bahwa ada beberapa komponen yang bersifat genetik. Dari [kondisi] yang telah dipelajari tentang penanda genetik sejauh ini, kalau Anda memiliki gen, tidak bisa langsung dipastikan Anda akan menderita penyakit tersebut."
"Apa yang bisa kita lihat dengan pasti adalah bahwa ada kecenderungan genetik. Genetika dapat meningkatkan risiko Anda, tetapi itu bukan jaminan," lanjut Mordecai.
Pada tahun 2013, sebuah studi yang didanai oleh National Institute of Health menemukan bahwa lima gangguan mental, autisme, gangguan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), gangguan bipolar, depresi akut, dan skizofrenia berbagi akar genetik.
Sementara pada tahun 2015, para peneliti di University of Wisconsin-Madison mempelajari keluarga monyet rhesus dan menyimpulkan risiko mengalami kecemasan diturunkan dari orang tua kepada anak-anak mereka. Tetapi para ahli menekankan lebih banyak penelitian yang perlu dilakukan untuk mencapai kesimpulan lebih akurat.
Advertisement
Faktor lingkungan memainkan peran penting
Apa yang diketahui oleh para ilmuwan secara definitif adalah bahwa faktor lingkungan memainkan peran penting dalam perkembangan kondisi kesehatan mental. Mulai dari stres, gizi buruk, penyalahgunaan obat, kematian orang di sekitar, perceraian, penelantaran, hingga kehidupan keluarga berpengaruh besar.
Menurut Mordecai, kecenderungan genetik untuk menderita penyakit kejiwaan ditambah dengan faktor lingkungan dapat meningkatkan kemungkinan seorang anak atau orang dewasa untuk menunjukkan gangguan mental.
Ilustrasi stres ©Ilustrasi stres
Dari tahun 1995 hingga 1997, para peneliti mensurvei lebih dari 17.000 orang tentang pengalaman masa kecil mereka, termasuk kekerasan fisik, mental, dan seksual yang pernah dialami berikut status dan kondisi kesehatan mereka saat ini.
"Apa yang mereka temukan sangat, sangat mencolok, korelasi langsung antara sejumlah peristiwa yang dialami orang-orang ini saat masih anak-anak dan hasilnya adalah kesehatan yang negatif," Mordecai menjelaskan.
Studi ini menunjukkan bahwa semakin tinggi jumlah pengalaman negatif di masa kecil, semakin tinggi pula risiko terjadinya gangguan kesehatan fisik dan mental di masa depan. Tak terkecuali gangguan kejiwaan berupa depresi atau kecenderungan untuk bunuh diri.
Advertisement
Stres kronis dan faktor biologis juga bisa berperan
Model ilmiah lain yang dikenal sebagai model stres-diathesis mencoba untuk menjelaskan hubungan biologis antara predisposisi seseorang terhadap kondisi kesehatan mental dan stres akut atau berkelanjutan.
Menurut Jonathan Sperry, asisten profesor dan anggota fakultas konseling kesehatan mental di Universitas Lynn, model ini mengatakan bahwa kombinasi dari stres kronis seperti stres terkait finansial, pekerjaan, akademik, percintaan, kesehatan fisik, dan keluarga yang dibarengi dengan kecenderungan genetik untuk menderita gangguan kesehatan mental dapat meningkatkan kemungkinan Anda terkena gangguan kejiwaan.
Ilustrasi anak yang hidup di bawah garis kemiskinan ©Pexels
Kemiskinan dianggap sangat berpengaruh terhadap peningkatan risiko penyakit mental. Anak-anak yang tumbuh dalam kekurangan lebih rentan terhadap penyakit mental daripada rekan-rekan mereka yang lebih berkecukupan. Hal ini diungkapkan dalam sebuah makalah yang diterbitkan di Molecular Psychiatry pada tahun 2016.
Dan Notterman, salah satu penulis penelitian dan ahli biologi molekuler di Princeton University menemukan bukti bahwa telomere, sekuens DNA di ujung kromosom tertentu lebih pendek pada anak-anak dari keluarga miskin. Telomere yang lebih pendek dapat menyebabkan gangguan kesehatan fisik maupun mental. Bisa jadi hal ini dipicu oleh penyebab stres yang berasal dari gizi buruk.
Kesimpulannya...
Ada penelitian yang menunjukkan jika seorang anggota keluarga memiliki penyakit mental, peluang Anda untuk menderita gangguan kejiwaan tersebut mungkin juga akan meningkat.
Namun, bisa jadi Anda tidak akan pernah menunjukkan gejala jika Anda tidak mengalami peristiwa traumatis apa pun sejak kecil. Begitu juga jika Anda berada di lingkungan yang mendukung dan memiliki kehidupan sehari-hari yang relatif bebas stres.
Tetapi penting juga untuk diperhatikan bahwa kondisi kesehatan mental dapat berkembang bahkan jika tidak ada riwayat di dalam keluarga. Masalah kesehatan mental sangat kompleks, jadi penting untuk mengenali tanda-tandanya sejak dini. Misalnya saja penarikan diri dari lingkungan sosial, pemujaan berlebihan, kecemasan ekstrem, kecenderungan untuk menyakiti diri sendiri, periode mania, dan masih banyak lagi.