Menurut Penelitian Terbaru, Waspadai Kebiasaan Ini karena Bisa Memperparah Depresi pada Lansia yang Sudah Pensiun
Depresi adalah gangguan suasana hati yang umum. Kenali gejala, penyebab, jenis, dan cara efektif mengatasi depresi agar kualitas hidup meningkat.
Masa pensiun seringkali dipandang sebagai masa yang tenang dan menyenangkan. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa masa ini juga bisa menjadi periode yang penuh tantangan emosional, terutama jika diiringi oleh kebiasaan tertentu yang justru memperburuk kondisi mental. Salah satunya adalah kebiasaan mengonsumsi alkohol.
Penelitian Ungkap Hubungan Pensiun, Alkohol, dan Depresi
Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Aging and Mental Health menemukan bahwa orang dewasa yang sudah pensiun cenderung mengalami peningkatan gejala depresi dibandingkan dengan mereka yang masih bekerja. Penelitian ini menggunakan data dari 27.575 partisipan berusia 50 tahun ke atas di Amerika Serikat yang tergabung dalam Health and Retirement Study sejak tahun 1994 hingga 2020.
Setiap dua tahun, para partisipan menjawab pertanyaan seputar status pekerjaan, penggunaan alkohol, dan gejala depresi. Hasilnya cukup mengkhawatirkan: orang yang telah pensiun mengalami peningkatan gejala depresi sebesar 0,04 poin dibandingkan dengan mereka yang masih bekerja.
Namun, yang menjadi sorotan utama dalam studi ini adalah kaitan antara kebiasaan minum alkohol dan tingkat depresi. Retiree yang melakukan binge drinking—mengonsumsi empat gelas atau lebih dalam sehari untuk wanita, dan lima atau lebih untuk pria—mengalami peningkatan gejala depresi sebesar 0,07 poin dibandingkan dengan yang tidak minum sama sekali.
Ironi: Minum Sedikit Bisa Bantu, Minum Banyak Memperburuk
Meskipun konsumsi alkohol secara berlebihan terbukti memperburuk kondisi mental, studi ini juga menemukan bahwa konsumsi alkohol dalam jumlah moderat justru berkaitan dengan penurunan gejala depresi. Orang yang minum dalam batas moderat—yakni satu hingga tiga gelas per hari untuk wanita dan satu hingga empat untuk pria—melaporkan 0,09 poin gejala depresi lebih rendah dibandingkan non-peminum.
Fenomena ini tentu menjadi dilema: di satu sisi, minum sedikit tampaknya memberikan efek relaksasi, namun di sisi lain, risiko penyalahgunaan dan dampak kesehatan fisik tetap mengintai.
Mengapa Pensiun Bisa Picu Depresi?
Menurut Antonia Díaz-Valdés Iriarte, PhD, penulis utama studi dan asisten profesor di Health and Society Research Center di Universidad Mayor, Chili, masa pensiun bisa memicu perasaan kehilangan identitas, isolasi, hingga kecemasan finansial. Kombinasi faktor-faktor ini kerap mendorong lansia untuk mencari "pelarian" seperti alkohol.
Sayangnya, banyak orang tua yang tidak menyadari bahwa mereka menyalahgunakan alkohol sebagai bentuk coping mechanism, padahal justru memperburuk keadaan psikologis mereka.
“Penemuan ini menekankan pentingnya melakukan skrining terhadap konsumsi alkohol dan gejala depresi secara bersamaan, serta mengembangkan mekanisme coping yang lebih sehat,” ujar Díaz-Valdés Iriarte kepada Health.
Risiko Kesehatan Fisik: Jangan Disepelekan
Selain dampak psikologis, konsumsi alkohol, terutama dalam jumlah banyak, juga menimbulkan risiko fisik yang serius bagi lansia. Po-Chang Hsu, MD, pakar medis di Alpas Wellness, menegaskan bahwa bahkan minum alkohol dalam jumlah sedang pun dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit kronis, seperti kanker, sirosis hati, dan kematian dini.
“Meski memberikan kelegaan sesaat, risiko jangka panjang dari konsumsi alkohol tetap harus diperhitungkan,” kata Hsu.
Hal ini menjadi lebih penting karena metabolisme tubuh lansia cenderung melambat, sehingga alkohol bertahan lebih lama di tubuh dan meningkatkan risiko efek samping. Lansia juga sering mengonsumsi obat-obatan yang bisa berinteraksi buruk dengan alkohol.
Alternatif Sehat: Cara Lain Mengelola Depresi di Masa Pensiun
Kabar baiknya, banyak alternatif sehat yang bisa dilakukan lansia untuk mengatasi depresi tanpa perlu bergantung pada alkohol. Berikut adalah beberapa rekomendasi para ahli:
- Aktivitas Fisik
- Olahraga ringan seperti berjalan kaki, berenang, atau yoga terbukti dapat meningkatkan produksi endorfin yang berfungsi memperbaiki suasana hati.
- Pola Makan Seimbang
- Mengonsumsi makanan bergizi seperti sayuran hijau, biji-bijian utuh, dan makanan tinggi omega-3 dapat mendukung kesehatan mental dan fisik secara menyeluruh.
- Praktik Mindfulness
- Latihan meditasi, pernapasan dalam, atau mindfulness membantu mengurangi stres dan meningkatkan ketahanan emosional.
- Koneksi Sosial
- Menjaga hubungan sosial dengan keluarga, teman, dan komunitas dapat mengurangi rasa kesepian dan memberikan dukungan emosional yang penting.
- Menyalurkan Hobi dan Aktivitas Baru
- Menurut Díaz-Valdés Iriarte, menemukan kembali aktivitas yang dulu disukai, mencoba hal-hal baru seperti melukis, traveling, berkebun, atau menjadi relawan bisa menjadi cara efektif untuk memperkaya kehidupan di masa pensiun.
Gabrielle Jones, PhD, seorang psikolog dan CEO dari Steady Clinical Consultation menambahkan, “Membantu para lansia untuk menemukan kembali identitas diri yang sebelumnya mungkin ‘terkubur’ oleh pekerjaan bisa menjadi langkah besar dalam pemulihan dan kesejahteraan mental mereka.”
Kapan Harus Cari Bantuan Profesional?
Jika berbagai strategi di atas tidak memberikan hasil yang memadai, penting bagi lansia atau keluarga untuk mempertimbangkan konsultasi dengan tenaga kesehatan profesional. “Jika Anda merasa kewalahan atau bingung mengelola depresi atau konsumsi alkohol, berkonsultasilah dengan penyedia layanan kesehatan. Itu bisa menjadi langkah pertama yang signifikan,” ujar Hsu.
Menjalani Pensiun dengan Bahagia dan Sehat
Pensiun seharusnya menjadi fase kehidupan yang damai dan memuaskan. Namun, seperti yang ditunjukkan oleh penelitian ini, realita bisa berbeda ketika stres dan kebiasaan tak sehat seperti konsumsi alkohol berlebihan turut hadir.
Kuncinya adalah mengenali tanda-tanda awal depresi, membangun sistem pendukung yang positif, serta memilih mekanisme coping yang sehat. Dengan begitu, masa pensiun bisa menjadi waktu untuk tumbuh, belajar, dan menikmati hidup—tanpa perlu bergantung pada alkohol sebagai pelarian.