Mayoritas Peserta UTBK-SNPMB 2025 Terbukti Gunakan Joki Bertujuan ke Fakultas Kedokteran
Kecurangan UTBK-SNBT 2025 terungkap; mayoritas peserta yang menggunakan joki mengincar Fakultas Kedokteran, ungkap laporan dari berbagai sumber.
Praktik kecurangan ditemukan terjadi pada pelaksanaan seleksi nasional penerimaan mahasiswa baru (SNPMB) 2025. Tidak tanggung-tanggung, diperkirakan terdapat kurang lebih 50 peserta yang terlibat dengan jumlah joki kurang lebih 10 orang. Mayoritas tujuan dari peserta yang menggunakan joki ini juga tidak main-main yaitu Fakultas Kedokteran.
Dalam konferensi pers yang disiarkan di YouTube, Panitia Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) 2025 mencatat setidaknya 50 orang pelaku kecurangan dan 10 orang joki terdeteksi dalam enam hari pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) 2025. "Jumlah peserta yang terlibat kurang lebih 50, jumlah jokinya kurang lebih 10 keterlibatan," ungkap Ketua Tim Penanggungjawab Panitia SNPMB 2025, Eduart Wolok, dalam konferensi pers SNBP 2025.
Di Universitas Sumatera Utara (USU), ruang ujian di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) menjadi titik awal pengungkapan. Seorang peserta tertangkap menggunakan kamera kecil yang disembunyikan dengan rapi, merekam soal-soal ujian yang terpampang di layar komputer. Di telinganya, sebuah speaker bone conductor—alat mungil yang mentransfer suara melalui getaran tulang—beroperasi tanpa suara, nyaris tak terdeteksi. Identitas peserta itu ternyata palsu, dengan foto pada KTP dan ijazah diganti wajah pelaku, sebuah trik licik untuk mengelabui pengawas.
Awal Mula Pengungkapan: Kamera Tersembunyi di USU
Pengungkapan ini bermula di Universitas Sumatera Utara (USU), tepatnya pada Jumat, 25 April 2025, pukul 08.00 WIB. Di ruang ujian Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), seorang pengawas mencium gelagat mencurigakan dari seorang peserta. Dengan gerakan hati-hati, peserta itu mengeluarkan kamera kecil yang tersembunyi, diduga untuk memotret soal ujian. Tak hanya itu, ia juga menggunakan speaker bone conductor—alat canggih yang mentransfer suara melalui getaran tulang, hampir tak terdeteksi oleh telinga orang lain. Pengawas segera melapor, dan tim panitia bergerak cepat. Peserta tersebut diamankan, dan setelah diperiksa, ternyata identitasnya palsu: foto pada KTP dan ijazah telah diganti dengan wajah pelaku, sebuah modus klasik yang dikenal sebagai "joki ujian."
Penelusuran lebih lanjut membawa tim ke Hotel X di Medan, tempat tiga orang lainnya diamankan. Salah satunya mengaku telah mengikuti ujian sehari sebelumnya dengan cara serupa. Total, tujuh pelaku ditangkap di USU, dan barang bukti seperti kamera, aplikasi remote desktop, dan alat komunikasi diserahkan ke Polres Medan Baru. Dari 13 pusat UTBK yang terdeteksi, sekitar 50 peserta terlibat, didukung oleh 10 joki. Yang mencengangkan, mayoritas peserta ini memilih Fakultas Kedokteran sebagai tujuan utama mereka.
Kecurangan di Tempat Lain, Teknologi Canggih dan Orang Dalam
Di Universitas Diponegoro (Undip), kecurangan mengambil bentuk yang lebih terselubung. Kamera dan ponsel disembunyikan di dalam ciput, penutup kepala yang biasa digunakan peserta perempuan, menempel erat tanpa menimbulkan kecurigaan. Transmiter, diduga dipasang di kuncir rambut, menjadi alat komunikasi rahasia dengan joki di luar ruangan. Alat bantu lain, berukuran sangat kecil, terselip di telinga peserta, hampir tak terlihat oleh mata telanjang, memungkinkan bisikan jawaban mengalir tanpa hambatan.
Sementara itu, di Universitas Jember (UNEJ), kecurangan melibatkan orang dalam. Seorang staf di pusat ujian memasang perangkat proxy, sebuah alat yang menghubungkan PC peserta dengan jaringan eksternal. Komputer-komputer di ruang ujian, yang seharusnya terisolasi, menjadi jembatan bagi joki untuk mengendalikan dan menjawab soal dari jarak jauh, seolah-olah mereka berada di dalam ruangan itu sendiri.
Modus kecurangan lainnya terungkap melalui pengakuan Eduart Wolok. Jaringan perjokian lintas provinsi menjadi pola yang menonjol, dengan komunikasi yang terjalin antar kota-kota besar. "Jadi bisa saja kasus didapatkan di salah satu lokasi UTBK, setelah dilacak, komunikasi yang terbangun itu dari kota ini, kota ini, dan kota ini," jelas Eduart. Salah satu metode curang yang sering digunakan adalah menggantikan peserta asli dengan joki. Foto peserta dipalsukan, dokumen seperti surat keterangan Kelas XII dan ijazah dimanipulasi, memungkinkan joki masuk ke ruang ujian tanpa kendala.
Mayoritas Peserta yang Menggunakan Joki Hendak Masuk ke Fakultas Kedokteran
Mayoritas peserta yang menggunakan joki memilih Fakultas Kedokteran sebagai tujuan utama. Ruang-ruang ujian yang dipenuhi harapan untuk menjadi dokter masa depan ternyata tercoreng oleh praktik tidak jujur. Tekanan untuk masuk ke jurusan bergengsi ini, dengan kuota terbatas dan tingkat keketatan tinggi, menjadi pemicu utama. Fakultas Kedokteran di universitas ternama sering hanya menerima puluhan mahasiswa dari ribuan pendaftar, sebuah kompetisi sengit yang mendorong sebagian peserta mencari jalan pintas.
Fakta bahwa mayoritas peserta yang menggunakan joki menargetkan Fakultas Kedokteran bukanlah kebetulan. Menurut data dari Kementerian Pendidikan, Fakultas Kedokteran di universitas ternama seperti UI, UGM, dan Unair memiliki tingkat keketatan tertinggi, dengan rasio penerimaan sering kali kurang dari 1:50. Tekanan ini diperparah oleh biaya pendidikan yang tinggi—rata-rata mencapai Rp150 juta untuk universitas negeri hingga Rp1 miliar di universitas swasta—dan durasi studi yang panjang, yakni 5-6 tahun plus masa internship.
Sebuah studi dari Journal of Medical Education (2022) juga menunjukkan bahwa tekanan sosial dan ekspektasi keluarga menjadi pemicu utama kecurangan di bidang pendidikan kedokteran. Banyak orang tua yang memandang profesi dokter sebagai "jaminan masa depan," sehingga mendorong anak mereka untuk masuk Fakultas Kedokteran dengan segala cara, termasuk menggunakan joki. Studi ini juga mencatat bahwa di negara berkembang seperti Indonesia, kecurangan dalam ujian masuk kedokteran meningkat hingga 15% dalam dekade terakhir.
Eduart Wolok, mewakili panitia, menyampaikan kekecewaan mendalam. Pelaksanaan UTBK yang didasari asas kepercayaan kepada seluruh peserta didik di Indonesia untuk meraih pendidikan lebih baik ternyata dinodai. Koordinasi dengan pihak berwajib telah dilakukan di masing-masing lokasi UTBK untuk memproses kasus ini lebih lanjut, meskipun sanksi yang tepat untuk memberikan efek jera masih dalam pembahasan. "Andaikan semua peserta itu sepakat untuk menggunakan cara-cara yang jujur dan berintegritas, kan tidak perlu lah hal-hal seperti ini," ujar Eduart dengan nada prihatin, berharap peserta dan wali peserta tetap menjalani proses SNPMB 2025 dengan kejujuran, menjaga kesakralan ujian ini.
Rekap Kecurangan (Tentative Saat Ini)
Jumlah Pusat UTBK: 13 Pusat UTBK
Jumlah peserta yang terlibat: ± 50
Jumlah joki: ± 10
Keterlibatan:
- Jaringan perjokian lintas propinsi
- Salah satu LBB di Yogyakarta memobilisasi peserta
- Orang dalam di Lokasi Pusat UTBK
- Lokasi kecurangan terjadi pada Pusat UTBK yang lain propinsi atau pulau dari asal SMA
- Peserta dan pilihan juga di propinsi atau pulau lain lagi.
- Mayoritas pilihan prodi adalah Fakultas Kedokteran
Kategori dan Model Kecurangan yang Dilakukan
Mengambil soal dengan berbagai cara
a. Foto layar PC peserta dengan perangkat yang disembunyikan
b. Record Desktop PC peserta dengan memasang aplikasi record pada PC peserta
c. Remote Desktop PC peserta dengan memasang aplikasi remote dan perangkat lain sebagai proxy agar bisa komunikasi ke jaringan luar
Menggantikan peserta mengerjakan ujian di dalam ruangan (Joki)
a. Mengganti foto peserta dengan foto joki saat buat akun SNPMB
b. Memalsukan dokumen seperti KTP, copy ijazah, dan Surat Keterangan Kelas 12
Memberikan jawaban ke peserta yang sedang berada di ruang ujian
Memasang alat di badan peserta sebagai receiver dan/atau juga transmitter untuk komunikasi transfer jawaban
Melakukan remote PC peserta dari luar dan mengendalikan sekaligus menjawab ujiannya
Mengambil alih akses perangkat jaringan untuk melakukan setting tertentu pada perangkat tersebut
UTBK sendiri merupakan tes standar yang diselenggarakan oleh SNPMB di 74 pusat UTBK di seluruh Indonesia. Tes ini menjadi syarat utama bagi calon mahasiswa yang ingin masuk ke 136 Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Indonesia. Dengan mengikuti UTBK, peserta menunjukkan kesiapan akademik mereka untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi.