Ini Alasan Mengapa Obat Berbentuk Sirup Cenderung Memiliki Rasa yang Sama
Setiap obat berbentuk sirup terutama obat batuk yang kita konsumsi cenderung memiliki rasa yang sama. Mengapa hal ini bisa terjadi?
Setiap obat berbentuk sirup terutama obat batuk yang kita konsumsi cenderung memiliki rasa yang sama. Mengapa hal ini bisa terjadi?
Ini Alasan Mengapa Obat Berbentuk Sirup Cenderung Memiliki Rasa yang Sama
Setiap orang pasti memiliki kenangan tentang sakit saat masa kecil. Baik itu batuk, bersin, atau demam, solusi yang seringkali diberikan adalah obat berupa sirup.
Meskipun orang tua mungkin meyakinkan bahwa sirup batuk atau antibiotik akan terasa "seperti permen," kenyataannya adalah jauh dari itu. Ceri, yang sama sekali tidak memiliki rasa seperti buah yang manis dan lezat, sering kali menjadi pilihan rasa penyamar dalam obat.
Rasa ini mungkin paling bisa kenali dari berbagai obat batuk yang biasa kita minum dalam bentuk sirup. Rasa ceri di obat batuk terutama obat batuk hitam ini begitu dominan kita temui.
Salah satu alasan utama mengapa begitu banyak obat beraroma ceri adalah karena obat di masa lalu. Sebelum penemuan obat-obatan sintetis modern, para profesional medis bergantung pada rasa yang kuat seperti ceri untuk menyamarkan rasa pahit dari obat-obatan herbal. Produk seperti Sirup Campuran Cherry Liar Dr. Swayne (sekitar tahun 1838) menggunakan buah itu untuk membuat ramuannya lebih mudah ditelan.
Meskipun sudah berabad-abad sejak produk-produk herbal zaman dulu beredar di pasar, praktik menggunakan ceri untuk memberi rasa pada obat tetap ada. Meskipun mungkin bukan pilihan rasa yang paling lezat, namun hal ini sudah menjadi kebiasaan dan yang paling penting adalah membuat obat jadi tidak lagi terlalu pahit.
Menurut Pfizer, hingga 50 persen orang mengalami kesulitan menelan obat. Salah satu penyebab utamanya adalah karena rasa yang tidak enak dari obat itu sendiri. Rasa tidak enak ini menjadi masalah yang cukup serius terutama untuk anak-anak, yang mungkin menolak untuk mengonsumsi bahkan obat yang menyelamatkan jiwa.
Pada tahun 2009, sebuah perusahaan farmasi Swiss memperkenalkan obat malaria beraroma ceri yang lebih ramah anak. Sebelumnya, orang tua harus mencoba menghancurkan obat tersebut dan mencampurnya dengan gula agar anak-anak mau menelannya.
Namun, ceri bukanlah satu-satunya pilihan rasa yang digunakan oleh perusahaan farmasi. Anggur adalah alternatif populer lainnya, dan Anda mungkin juga melihat rasa jeruk dan berbagai rasa lainnya di rak-rak apotek atau di sejumlah toko.