Merdeka.com tersedia di Google Play


Teruskan dakwah Sunan Gresik, Sunan Ampel datang ke Tanah Jawa
Reporter : Moch. Andriansyah | Minggu, 5 Juli 2015 04:00




Teruskan dakwah Sunan Gresik, Sunan Ampel datang ke Tanah Jawa
Sunan Ampel. ©istimewa

Merdeka.com - Syekh Maulana Malik Ibrahim yang bergelar Sunan Gresik wafat pada 1419 dan disemayamkan di Gapura Sukolilo, Kecamatan Kota Gresik, Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Namun perjalanan dakwahnya di Tanah Jawa, meluruskan ahklak umat manusia belum terhenti.

Jejak sejarah penyebaran Islam sang ulama kecintaan kaum fakir-miskin itu, diteruskan oleh putranya, Sayyid Ali Rahmatullah atau Raden Rahmat yang kelak dikenal dengan sebutan Sunan Ampel di Surabaya.

Dikisahkan, sebelum datang ke Tanah Jawa, Sunan Gresik selama 13 tahun menempa pendidikannya di Negeri Campa, Kamboja. Selama berada di Campa itu, Syeikh Maulana Malik Ibrahim menikah dengan Dewi Chandrawulan yang masih mempunyai hubungan keluarga dengan permaisuri raja Majapahit.

Dari pernikahannya dengan putri Raja Campa tersebut, Sunan Gresik dikaruniai dua orang putra, yaitu Raden Rahmat dan Sayid Ali Murtadho atau Raden Santri.

"Setelah ayahnya wafat pada tahun 1419, Raden Rahmat datang ke tanah Jawa bersama adiknya Raden Santri," terang pemandu tur wisata Wali Songo, Chuzaimah pada merdeka.com, Selasa (2/6).

Beberapa versi berpendapat, Raden Rahmat datang ke Tanah Jawa sekitar tahun 1443, karena dipanggil khusus oleh Raja Majapahit, Prabu Brawijaya atau Bhre Kertabhumi atas saran istrinya Dwarawati.

"Tahun pastinya memang masih menjadi perdebatan. Yang jelas, saat datang, Raden Rahmat dan Raden Santri singgah lebih dulu di Palembang selama tiga tahun. Jika datang ke Jawa Tahun 1443, artinya mereka sampai di Palembang di Tahun 1440. Jadi tidak langsung ke Jawa," lanjut ibu lima anak ini.

Selanjutnya, setelah tiga tahun di Palembang, dua bersaudara itu singgah di Gresik, tempat ayahnya kali pertama datang ke Jawa dan mendirikan pesantren. Setelah berlabuh di Kota Pudak ini, mereka melanjutkan perjalanan menuju Majapahit menemui bibinya, Dwarawati.

Seperti saat kali pertama Sunan Gresik datang ke Tanah Jawa, kondisi Majapahit di ambang kehancuran akibat perang saudara pascakematian Prabu Hayam Wuruk dan wafatnya sang Maha Patih Gajah Mada. Pun begitu saat Raden Rahmat datang, kondisi masyarakat di Majapahit tidak lebih baik.

Sadar kondisi ini akan benar-benar bisa membawa Majapahit makin lemah, atas saran istrinya, Prabu Brawijaya memanggil Raden Rahmat. Sesuai keterangan sang istri, Prabu Brawijaya mendengar ketinggian ilmu dan akhlak yang dimiliki Raden Rahmat.

Untuk itu, raja meminta bantuan Raden Rahmat membimbing para pangeran, bangsawan dan adipati. "Karena Raden Rahmat bersedia membantu, Raja Majapahit kemudian memberi hadiah sebidang tanah di Surabaya, yaitu di kawasan Ampel. Dan di tempat inilah Raden Rahmat mendidik para pangeran, dan bangsawan Majapahit agar berakhlak mulia," tandas Hj Chuzaimah.

Di Ampel inilah, kemudian Raden Rahmat mendapat gelar Sunan Ampel dan hingga akhir hayatnya, beliau tinggal serta disemayamkan di Ampel. Sunan Ampel wafat pada tahun 1478.

[rep]



Komentar Anda


READ MORE


Back to the top

LATEST UPDATE