Polemik ijazah SMA Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang sempat mengemuka di sidang Mahkamah Konstitusi (MK) segera dijawab.
Ketua Umum Militan Gibran 08 Nusantara, Andi Azwan, memastikan Gibran akan segera memperlihatkan seluruh ijazah aslinya secara langsung, mulai dari SD hingga sarjana.
"Yang jelas ya, nanti akan diperlihatkan oleh Mas Gibran. Jadi, tunggu tanggal mainnya, seperti yang selalu saya katakan, tunggu tanggal mainnya," ujar Andi Azwan usai bertemu Jokowi di kediaman pribadi Sumber, Solo, Senin (12/10).
Andi menegaskan, isu ijazah ini sengaja diorkestrasi pihak tertentu untuk mendiskreditkan Gibran dan menyerang pemerintah. Dia menyebut banyak pihak salah kaprah dan minim literasi soal sistem pendidikan luar negeri ditempuh Gibran.
Dia menjelaskan, sertifikat dipersoalkan bukanlah sertifikat kelulusan tunggal, melainkan Certificate of Attendance yang merupakan satu kesatuan dari sistem pathway di Singapura.
"Certificate of Attendance itu adalah satu kesatuan, bukan sendiri-sendiri. Jadi di Orchid Park Secondary School itu ada all level namanya. All level itu setara kelas 10 ke kelas 11. Masuk ke pathway," jelas Andi.
Menurutnya, pathway tersebut bukan absensi biasa, melainkan syarat untuk melanjutkan ke jenjang Diploma hingga S1. Tanpa sertifikat itu, Gibran tidak mungkin bisa masuk ke program selanjutnya.
"Ya, sertifikat kelulusan itu nanti digabungkan dengan dia masuk di program D3 atau di program S1. Dia tidak bisa masuk ke diploma, tidak bisa masuk ke S1 kalau tidak mempunyai sertifikat model attendance itu. Itulah pathway," ujar dia.
Andi menambahkan, secara akademik Gibran telah melampaui jenjang tersebut dengan menyelesaikan Advanced Diploma di MDIS yang setara dengan A Level atau SMA Kelas 3, sebelum akhirnya meraih gelar Bachelor of Science Honours bidang Marketing di University of Bradford.
"Ahli kita mengatakan bahwasanya Mas Gibran telah melampaui yang namanya Advance Diploma. Advance Diploma itu adalah setara A level atau SMA kelas 3 tamat. Makanya setelah advance diploma dia selesai, dia langsung mendaftar ke Bradford University," kata Andi.
Andi menyayangkan polemik ini terjadi karena publik masih terpaku pada selembar ijazah, bukan skill dan logika pendidikan.
"Kurikulum luar negeri itu tidak bisa dipaksakan kepada kurikulum dalam negeri. Kita diketawain sama orang-orang dari luar. Kenapa kita masih ngurus-ngurus seperti itu. Lulusan dari luar negeri itu sudah speak up semua. Nggak mau dong mereka dikatakan harus ikut paket C, kan konyol buat kita," pungkas Andi.