Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Timur, Said Abdullah, meminta seluruh kader partai senantiasa dekat dengan masyarakat dan memastikan kehadiran partai membawa manfaat nyata. Menurut dia, rakyat harus ditempatkan sebagai pemilik kehormatan utama, bukan sekadar objek dalam kegiatan politik.
Pesan tersebut disampaikan Said dalam kegiatan konsolidasi internal dan bakti sosial di Kantor DPC PDI Perjuangan Kabupaten Malang, Jumat (9/10). Acara itu dihadiri jajaran pengurus partai dari tingkat DPC, PAC, hingga ranting.
Dalam kegiatan tersebut, PDI Perjuangan menyalurkan paket bantuan sosial kepada masyarakat yang masuk kategori Desil 1 dan 2. Partai juga memberikan paket bantuan kepada 20 anak yatim piatu sebagai bagian dari kegiatan sosial tersebut.
Ratusan warga berkumpul di kantor DPC untuk menerima tali asih yang diserahkan langsung oleh Said Abdullah bersama pengurus partai. Penyaluran turut melibatkan Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi dan kader partai berlogo Banteng lainnya seperti Dewanti Rumpoko dan Saifudin Zuhri.
Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Malang Didik Gatot Subroto menjelaskan, dari total 1.000 paket sembako yang disiapkan. Paket bantuan sosial itu berupa beras, minyak, kebutuhan pokok lain, dan uang tunai senilai Rp 200 ribu.
"Total yang kita bagikan ada 1.000 paket sembako. Pada hari ini, yang dibagikan ada 310 paket. Sisanya, akan kita bagikan melalui DPC di seluruh Kabupaten Malang agar penerimanya merata," kata Didik.
Said Abdullah sendiri menegaskan kegiatan sosial tersebut merupakan bentuk terima kasih kepada masyarakat sekaligus upaya menjaga hubungan antara partai dan warga. Dia mengingatkan agar masyarakat tidak diperlakukan sekadar sebagai objek dalam kegiatan politik.
"Kalau bantuan sosial, itu merupakan bentuk rasa terima kasih kami kepada masyarakat. Jangan kemudian menempatkan rakyat sebagai objek. Itu tidak boleh," ucap Said Abdullah.
Advertisement
Said Abdullah Sebut Bantuan Sosial sebagai Tali Asih
Politisi asal Madura itu menjelaskan, perhatian partai terutama ditujukan kepada masyarakat yang masuk kelompok Desil 1 dan 2. Bagi Said, kegiatan tersebut bukan semata-mata pembagian bantuan, melainkan bentuk empati yang perlu terus dipelihara.
"Bantuan tersebut merupakan bentuk rasa terima kasih, tali asih, dan upaya menyambung rasa dengan rakyat. Tentu, yang menjadi perhatian adalah masyarakat pada desil satu dan desil dua," katanya.
Said juga mengaku lebih nyaman menggunakan istilah tali asih dibandingkan bantuan sosial. Menurut dia, istilah tersebut mencerminkan rasa terima kasih dan komitmen untuk menjaga kedekatan dengan masyarakat.
"Karena itu, saya justru kurang suka menggunakan kata "bantuan". Saya lebih suka menyebutnya sebagai tali asih. Itu merupakan bentuk terima kasih agar empati kami terus-menerus terpelihara untuk menjaga hubungan dengan masyarakat," ucap politisi 63 tahun.
Advertisement
PDIP Ingin Kehadiran Partai Membawa Manfaat bagi Rakyat
Said mengatakan PDI Perjuangan perlu membangun paradigma baru yang menempatkan masyarakat sebagai penentu keberadaan partai. Dia meminta seluruh kader memahami bahwa kepercayaan rakyat menjadi dasar penting bagi keberlangsungan organisasi.
"Kami di PDI Perjuangan akan membangun paradigma baru di partai, bahwa eksistensi partai ditentukan oleh masyarakat," kata Said.
Dia menegaskan prinsip tersebut berlaku bagi seluruh unsur partai, mulai dari anggota DPR RI, DPD, DPRD provinsi, DPRD kabupaten/kota, hingga struktur organisasi di tingkat bawah. Seluruh kader harus menyadari bahwa rakyat merupakan pemilik kehormatan yang utama.
"Maka, anggota DPR RI, DPD, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten/Kota, serta seluruh struktur partai harus menyadari bahwa pemilik kehormatan yang utama adalah rakyat," ucap pria kelahiran 22 Oktober 1962.
Menurut Said, kedekatan dengan masyarakat tidak cukup dibangun melalui kegiatan seremonial atau penyaluran tali asih. Kader juga harus menyediakan ruang bagi warga untuk menyampaikan kebutuhan dan keluhan mereka.
"Rakyat merupakan pemilik kehormatan. Karena itu, meskipun kita dipilih oleh rakyat, bukan berarti kita bisa mengabaikan kebutuhan mereka. Rakyat membutuhkan sentuhan, ruang untuk berbicara, dan perhatian terhadap keluhan-keluhan mereka," tegasnya.