Penembakan massal di sebuah rumah di Erie, Pennsylvania, Amerika Serikat, pada Jumat pekan lalu menewaskan delapan orang. Dikutip dari The Guardian, Senin (12/10/2026), pelaku berusia 45 tahun yang merupakan kakek dari sejumlah korban mengakhiri hidupnya sendiri usai beraksi. Kepala Kepolisian Erie Rick Lorah menyebut pria tersebut memiliki hubungan keluarga dengan tujuh dari delapan korban, sementara satu korban lain adalah teman dari perempuan yang sedang hamil.
Orang-orang yang mengenal pelaku mengaku tidak pernah melihat tanda-tanda ia mampu melakukan kekerasan seperti itu. Seorang ayah korban, Julius Windham, menduga sikap pelaku selama ini hanya menutupi sesuatu. "Saya pikir itu hanya kedoknya," kata Julius Windham pada Minggu, saat menghadiri acara peringatan para korban, seperti dilaporkan Associated Press.
Putri Windham yang berusia satu tahun, Amarianna, menjadi salah satu korban. Ibu Amarianna yang sedang hamil, putra perempuan itu yang berusia lima tahun, serta bayi yang belum lahir juga tewas dalam penembakan tersebut. "Setiap hari dia tersenyum dan bersikap biasa saja. Anda tidak akan pernah menyangka hal seperti ini bisa terjadi," ujar Windham.
Polisi belum mengungkap identitas pelaku maupun nama-nama korban. Informasi mengenai hubungan keluarga pelaku dengan para korban disampaikan Lorah, tanpa merinci lebih jauh soal identitas.
Pada Minggu, para pelayat meletakkan lilin, bunga, dan boneka di depan rumah tempat penembakan terjadi. Insiden tersebut terjadi sesaat sebelum pukul 17.00 waktu setempat pada Jumat. Windham menghadiri acara peringatan dengan mengenakan kaus bergambar perempuan dan anak-anak yang tewas dalam penembakan, bertuliskan "Selamanya di hatiku".
"Kata-kata bahkan tidak bisa menggambarkan apa yang sedang saya alami sekarang," kata Windham. "Tetapi saya harus kuat untuk komunitas saya, keluarga saya, putri-putri saya, putra-putra saya, semuanya," lanjutnya.
Seorang teman keluarga korban mengatakan kepada Cleveland 19 News bahwa keluarga tersebut tidak ingin tragedi ini menjadi satu-satunya hal yang diingat dari kehidupan orang-orang yang meninggal. Ia juga mengungkap kepiluan yang dirasakan keluarga. "Bagaimana mungkin seseorang bisa memahami kejadian seperti ini? Bagaimana Anda pulang dan memberi tahu anak-anak Anda, 'Hei, ibu kalian, saudara-saudara kalian, paman-paman kalian, dan semua orang lainnya baru saja dibunuh oleh kakek kalian sendiri?'" ujarnya.
Nicole dan Debra Eller, yang sahabatnya termasuk di antara korban, menyebut sudah mengenal keluarga itu selama lebih dari 30 tahun. Nicole mengatakan pelaku sebelumnya merupakan orang yang baik, namun perilakunya belakangan memburuk. "Mereka keluarga yang menyenangkan. Siapa yang pernah menyangka hal seperti ini akan terjadi?" kata Debra. "Ya Tuhan, ini sangat menyedihkan. Hal ini tidak seharusnya terjadi pada perempuan itu, anak-anaknya, atau siapa pun. Cucu-cucunya, anak-anaknya sendiri, bagaimana dia bisa melakukan itu?" lanjutnya.
Advertisement
Penyelidikan Polisi dan Kronologi Awal
Kepala Kepolisian Erie Rick Lorah mengungkapkan bahwa penyidik telah menemukan bukti video dan audio yang membantu mengurai kronologi penembakan. Rekaman itu menangkap suara tembakan yang terdengar samar dari dalam rumah.
Menurut Lorah, sesaat sebelum itu, dua perempuan yang tampak dalam kondisi tertekan datang dan menggedor pintu. Pelaku kemudian keluar dari rumah dan menembak kedua perempuan tersebut sebelum kembali masuk.
Petugas yang tiba di lokasi menemukan kedua perempuan itu tewas di luar rumah. Setelah mengerahkan pesawat nirawak dan robot, polisi memasuki bangunan tersebut untuk melakukan penyisiran di dalam.
Di dalam rumah, petugas menemukan jasad seorang anak laki-laki berusia lima tahun dan seorang anak perempuan berusia satu tahun di lantai pertama. Dua perempuan dan dua pria muda lainnya ditemukan di area tangga, sedangkan pelaku ditemukan di lantai dua.
"Demi menghormati para korban dan keluarga mereka, saya tidak akan membahas secara terperinci apa yang ditemukan petugas kami di dalam rumah itu," kata Lorah dalam konferensi pers. "Namun, saya ingin masyarakat memahami betapa seriusnya kejadian ini dan dampak mendalam yang ditimbulkan tragedi tersebut terhadap mereka yang terlibat maupun komunitas kami secara keseluruhan," ujarnya.
Lorah menolak membahas motif penembakan, namun mengisyaratkan bahwa kondisi kesehatan mental mungkin menjadi salah satu faktor. Penyidik akan berbicara dengan kerabat pelaku serta memeriksa telepon seluler milik dua perempuan yang ditembak di luar rumah.
"Mereka mengetahui ada sesuatu yang sedang terjadi di rumah itu. Kami harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi," kata Lorah.
Erie berada sekitar 190 kilometer di utara Pittsburgh.
Advertisement
Belasungkawa Wali Kota Usai Penembakan Massal Erie
Peristiwa di Erie mengingatkan pada pembantaian di Wilkes-Barre, Pennsylvania, pada 1982, ketika seorang pria membunuh 13 orang, termasuk lima anaknya sendiri.
Dalam konferensi pers pada Sabtu, Wali Kota Erie Daria Devlin menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban. "Saya sungguh sangat menyesal," kata Devlin. "Apa yang terjadi pada kalian sangat mengerikan, dan tidak ada satu pun yang bisa kami katakan hari ini yang akan membuat semuanya terasa lebih mudah. Seluruh komunitas kami bersama kalian. Kami turut berduka dan hadir untuk memberikan dukungan," lanjutnya.
Gubernur Pennsylvania Josh Shapiro juga menyampaikan dukacita melalui unggahan di platform X pada Sabtu. "Hati saya hancur untuk keluarga ini. Lori dan saya berdoa bagi orang-orang terkasih mereka dan seluruh komunitas Erie," tulis Shapiro.