Muktamar NU Singgung Tambang, Begini Arahnya

Ide tersebut muncul dari Ketua PCNU Kota Semarang KH Anasom, Kiai pengasuh Ponpes Ashodiqiyah Genuk Semarang.

Danny Adriadhi Utama
Oleh Danny Adriadhi Utama - Reporter
Muktamar NU Singgung Tambang, Begini Arahnya
Sidang Pleno Muktamar ke-35 NU yang berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jumat (28/8/2026). (Liputan6.com/ Dok Humas Muktamar)

Pengurus Nahdlatul Ulama (NU) yang hadir dalam pelaksanaan Muktamar PBNU ke-35 mendorong Ketum PBNU KH Ahmad Hakim Mahfudz alias Gus Kikin untuk melanjutkan pengelolaan konsesi tambang. Ide tersebut muncul dari Ketua PCNU Kota Semarang KH Anasom, Kiai pengasuh Ponpes Ashodiqiyah Genuk Semarang.

Agar pengelolaan proyek tambang akan tetap dikerjakan oleh kepengurusan PBNU periode 2026-2031. Yang sebelumnya diketahui bahwa NU menjadi salah satu ormas keagamaan yang menerima konsesi tambang dari pemerintahan era Presiden Jokowi.

"Jadi kemarin (ketika muktamar) sudah ada arahan, tapi tidak terlalu jelas. Tapi semoga kepemimpinan yang baru bisa mengelola dengan baik. Karena dari sistem manajerial NU di hari ini kami rasakan sanggup melakukan itu," kata Anaom, Kamis (3/9).

Dari paparan RPJ dari Gus Yahya saat muktamar bahwa pengelolaan tambang tetap dikerjakan. Menurutnya konsesi tambang perlu dikelola dengan baik karena untuk kepentingan warga NU.

"Kemarin ketika RPJ oleh gus Yahya begitu (disampaikan). Kayaknya tidak ada pembicaraan menolak atau menerima tapi kayaknya (tambang) itu lanjut karena sudah disinggung Gus Yahya pas RPJ," ungkapnya.

Pasca Muktamar PBNU Ke-35, pihak menyarankan kepada Gus Kikin dan pengurus yang baru untuk merangkul calon-calon ketum yang kalah dalam seleksi bursa ketum periode 2026-2031.

Sebab muktamar di Jombang beberapa hari lalu memang dimeriahkan dengan munculnya banyak nama kiai yang tertarik jadi ketum PBNU.

Calon-calon ketum yang perlu dirangkul Gus Kikin, paling tidak sosok yang berani berkomitmen membawa NU berkembang di masa depan.

"Para calon yang tidak masuk lima besar, sepanjang punya komitmen terhadap visi membawa pengembangan NU ke depan ya harus dirangkul. Mereka itu potensial, sosok leader leader dan manajer yang tentu sudah punya pengalaman," jelasnya.

Calon ketum yang perlu dirangkul salah satunya pengasuh Ponpes API Tegalrejo Magelang Yusuf Chudlori. Beliau dilibatkan pada kepengurusan PBNU yang baru karena memiliki rekam jejak kepemimpinan di badan otonom (banom) dan politik yang mumpuni.

"Mereka sudah memimpin pengalaman organisasi NU struktural, banom bahkan di politik. Itu pengalaman bagus yang harus dirangkul semua. Seperti Gus Yusuf pengalaman dengan NU, mengelola politik namanya sangat bagus. Nah pengalaman ini harus dishare untuk masyarakat NU dan Indonesia," tutup Anasom.

Rekomendasi