Lokakarya MPR Soroti Peran Suku Perkuat Persatuan Sumut, Cegah Disintegrasi Bangsa

Lokakarya MPR di Medan membahas bagaimana peran suku-suku di Sumatera Utara dapat memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa, sekaligus mengantisipasi ancaman disintegrasi.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Lokakarya MPR Soroti Peran Suku Perkuat Persatuan Sumut, Cegah Disintegrasi Bangsa
Lokakarya MPR di Medan membahas bagaimana peran suku-suku di Sumatera Utara dapat memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa, sekaligus mengantisipasi ancaman disintegrasi. (AntaraNews)

Ketua Fraksi PKS MPR RI, Tifatul Sembiring, menyatakan bahwa lokakarya mengenai peran suku di Sumatera Utara sangat penting. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat rasa persatuan dan kesatuan di wilayah tersebut. Lokakarya diselenggarakan di Medan pada Sabtu, 20 Desember 2025.

Tifatul menjelaskan bahwa salah satu program utama MPR RI adalah mewujudkan dan meningkatkan persatuan bangsa. Upaya ini menjadi krusial mengingat adanya potensi ancaman disintegrasi yang perlu diantisipasi secara serius. Oleh karena itu, isu-isu persatuan harus terus diangkat dan dibahas dalam berbagai forum.

Sumatera Utara dianggap sebagai cerminan persatuan karena keberagaman suku yang mendiaminya. Daerah ini dihuni oleh berbagai suku seperti Batak, Tionghoa, Jawa, Nias, Minangkabau, dan Aceh. Keberagaman ini menjadi modal utama dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sumatera Utara dikenal sebagai wilayah yang kaya akan keragaman etnis dan budaya. Berbagai suku seperti Batak, Tionghoa, Jawa, Nias, Minangkabau, dan Aceh hidup berdampingan secara harmonis di provinsi ini. Keberagaman ini menjadikan Sumatera Utara sebagai contoh nyata dari Bhinneka Tunggal Ika.

Meskipun memiliki keberagaman suku yang luar biasa, Tifatul Sembiring menegaskan bahwa tidak pernah muncul tuntutan kemerdekaan dari kelompok mana pun. Fenomena ini menunjukkan kuatnya ikatan persatuan di tengah perbedaan yang ada. Kondisi ini sangat menarik dan patut dijadikan teladan bagi daerah lain di Indonesia.

Keunikan Sumatera Utara sebagai daerah dengan banyak suku menjadikannya miniatur Indonesia. Hal ini penting untuk dikaji lebih dalam dan dijadikan pembelajaran berharga bagi generasi muda. Baik di tingkat daerah maupun nasional, pemahaman tentang peran suku perkuat persatuan Sumut harus terus ditanamkan.

Hasil lokakarya yang menghadirkan para ahli sejarah juga menguatkan pandangan ini. Para pakar tersebut menyimpulkan bahwa suku-suku di Sumatera Utara telah memberikan kontribusi besar dalam menjaga persatuan. Kontribusi ini terwujud melalui berbagai aspek kehidupan sosial dan budaya masyarakat.

Kontribusi suku-suku di Sumatera Utara dalam menjaga persatuan tercermin dari ungkapan budaya yang kental dengan nilai kebersamaan. Sapaan seperti "horas" dan "menjuah-juah" bukan sekadar ucapan, melainkan mengandung doa serta harapan kebaikan bagi sesama. Ungkapan ini menjadi simbol eratnya tali persaudaraan antarwarga.

Selain itu, hubungan antarumat beragama di Sumatera Utara juga menunjukkan kehidupan yang rukun dan saling menghargai perbedaan. Toleransi beragama telah menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Budaya gotong royong pun masih terpelihara dengan baik, memperkuat ikatan sosial di berbagai komunitas.

Tifatul Sembiring berharap lokakarya ini dapat membekali generasi bangsa dengan pemahaman yang kuat. Dengan demikian, mereka tidak akan mudah terpengaruh oleh informasi hoaks yang berpotensi memecah belah antarsuku. Pendidikan tentang nilai-nilai persatuan menjadi benteng pertahanan dari disinformasi.

Nilai-nilai peradaban suku-suku di Sumatera Utara, seperti musyawarah, dapat menjadi perekat dan pemersatu masyarakat. Praktik musyawarah untuk mencapai mufakat telah lama menjadi tradisi. Hal ini membuktikan bahwa kearifan lokal memiliki peran signifikan dalam menjaga keharmonisan sosial dan politik.

Lokakarya tersebut menghadirkan sejumlah pakar terkemuka dari Universitas Negeri Medan (Unimed). Mereka adalah Guru Besar Ilmu Sejarah Unimed Prof Ichwan Azhari, Dekan Fakultas Ilmu Sosial Unimed Ratih Baiduri, serta Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unimed Prof Sahat Sembiring. Kehadiran para ahli ini memperkaya diskusi dan memberikan perspektif akademis yang mendalam.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi