Survei Litbang Kompas menyatakan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto (25,8 persen) menjadi kandidat presiden dengan elektabilitas tertinggi di kalangan pemilih Nahdlatul Ulama (NU).
Hasil Prabowo, menyalip calon presiden PDIP Ganjar Pranowo (24,9 persen) yang pada survei sebelumnya memiliki elektabilitas paling tinggi di segmen pemilih Nahdliyin.
Menanggapi hal itu, Ketua DPP PDIP Bidang Ideologi dan Kaderisasi Djarot Saiful Hidayat mengatakan, survei tidak menjadi patokan bagi PDIP. Namun, dia mengaku akan menjadi masukan untuk merumuskan pola-pola kampanye Ganjar nanti.
"Jadi begini, survei itu bukan patokan. Survei itu pengetahuan ya. Survei itu dinamis. Dan ini menjadi masukan bagi partai. Bagi Pak Ganjar dan PDIP untuk merumuskan pola-pola kampanye untuk bisa menggaet pemilih muda, salah satunya dengan warga Nahdliyin," kata Djarot, saat ditemui di Kantor DPP PDIP, Jakarta, Senin (5/7).
Akan tetapi, dia mengaku, antara PDIP dengan Nahdlatul Ulama (NU) memiliki kedekatan yang sangat erat. Bahkan, kedekatan itu juga dirasakan oleh Ganjar Pranowo.
"Karena ikatan PDIP dengan NU itu kan sangat erat, sangat dekat. Sebagai masukan bagi kami dan ini sebagai penyemangat. Sehingga kita lebih fokus lagi, aktif lagi untuk bisa bergerak bersama dengan rakyat NU, bersama Muhammadiyah. Dan bersama organisasi kemasyarakatan," imbuh dia.