Cerita SBY berkali-kali tegur Ruhut karena mengatasnamakan partai

Gerah dengan komentar Ruhut yang dinilai dapat berdampak buruk bagi citra partai, SBY akhirnya mencopotnya dari jubir.

Hery H Winarno
Oleh Hery H Winarno - Reporter
Cerita SBY berkali-kali tegur Ruhut karena mengatasnamakan partai
Ruhut Sitompul. ©2016 Merdeka.com/Raynaldo Ghifarri Lubabah

Ruhut Sitompul lagi-lagi disemprot oleh Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Bahkan SBY juga mencopot Ruhut dari jabatan sebagai juru bicara Partai Demokrat. Ruhut dicopot lantaran sering mengatasnamakan partai.Kasus terakhir yang membuat tidak ada ampun bagi si Poltak ini adalah ketika Ruhut mendukung bakal calon petahana Basuki T Purnama (Ahok). Padahal, Demokrat secara kelembagaan sama sekali belum memutuskan akan mendukung siapa.Gerah dengan komentar Ruhut yang dinilai dapat berdampak buruk bagi citra partai, SBY akhirnya mencopot anggota Komisi III DPR itu dari jabatan jubir. SBY memberikan teguran keras kepada Ruhut melalui pesan singkat dari ponselnya langsung."Sikapnya yang sebenarnya pribadi kerap mengatasnamakan partai. Padahal jelas-jelas tidak segaris dengan kebijakan partai," kata Wakil Ketua Umum Demokrat Roy Suryo kepada merdeka.com, Senin (22/8) lalu.Roy menegaskan, Ruhut dicopot bukan semata-mata karena SBY. Dia menjelaskan, pencopotan Ruhut dilakukan atas rekomendasi dewan kehormatan dan dewan pengawas partai."Ini yang membuat komisi pengawas dan dewan kehormatan membuat rekomendasi dan disetujui ketua umum alias tidak semata-mata keputusan ketum," tegas dia.

Sekjen Demokrat Hinca Panjaitan juga berkomentar senada. Menurut dia, Ruhut kerap diingatkan oleh partai namun tak kunjung berubah."Beberapa statement Bang Ruhut tidak sejalan dengan garis partai. Itu yang kemudian ketum menganggap perlu kita luruskan. Sudah berapa kali diingatkan agar statement beliau mengarah dengan arahan partai," kata Hinca.Ruhut Poltak Sitompul yang telah menyatakan dukungan ke pasangan capres dan cawapres nomor urut 2 Jokowi-JK tidak mendapat restu dari Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).Sebelumnya, saat gonjang ganjing pilpres, Ruhut juga pernah disemprot SBY. Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Max Sopacua mengatakan, Ruhut ditegor SBY lantaran telah dibohongi oleh mantan aktor serial Gerhana tersebut. Ruhut mengatasnamakan SBY dan telah mendapat restu untuk mendeklarasikan dukungan ke pasangan Jokowi-JK."Dan hari ini saya kasih tau ke anda semua bahwa dia (Ruhut di tegor langsung oleh SBY lewat SMS, bahwa SBY tidak pernah memberi restu mendukung Jokowi, cuma SMS itu tidak bisa saya publish karena itu terlalu riskan, dan Amir Syamsudin juga mendapat tembusan SMS itu yang ditujukan dari SBY kepada Ruhut, bahwa SBY tidak pernah mendukung kepada anda untuk mendukung mendeklarasikan ke Jokowi-JK," ujar Max di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Kamis (26/6/2014).Max yang juga menjabat sebagai anggota Komisi I DPR RI mengambil kesimpulan momen Ruhut mendukung Jokowi ini sama seperti pada saat tahun 2004 di mana SBY difavoritkan menjadi pemenang di pemilihan presiden (Pilpres), dan kala itu Ruhut masih berseragam Partai Golkar. Namun dengan keinginan Ruhut yang kuat Max mengatakan Ruhut pun diterima menjadi kader Partai Demokrat."Tetapi di ujung-ujung ini flash back saya kembali ke sana, bahwa pada waktu itu SBY sudah mau jadi presiden nah loncat dia dari Golkar karena mau nempel SBY di Demokrat karena mau jadi Presiden. Kejadiannya sama seperti sekarang, ketika SBY sudah mau lengser Ruhut loncat ke Jokowi, nah bagi dia Jokowi mau jadi presiden berikutnya," tegasnya.Sebelum gelaran Pilpres, Ruhut juga pernah ditegur SBY. Hal itu karena Ruhut tiba-tiba menyatakan bahwa Ani Yudhoyono adalah kandidat capres paling kuat di 2014. Pernyataan Ruhut pun segera menuai polemik di masyarakat.Segera setelah Ruhut menyampaikan usulannya itu, banyak meme di dunia maya soal pencapresan Bu Ani. SBY yang gerah pun meminta hal itu diusut."Saya minta tolong diinvestigasi siapa ini, siapa yang melepas ini, mungkin tujuannya tidak baik. Pembusukan atau pemecah-belah kekompakan kita. Tidak ingin seorang Ibu Ani atau siapa pun menjadi korban dari serangan-serangan sosial media, dibully kiri dan kanan, dari orang yang membikin ini semua," tegas SBY.

Rekomendasi