Menebak peluang Tommy Soeharto jadi calon presiden 2019

Berdasarkan perkiraan Hendri, massa yang akan mendukung Tommy hampir seluruh dari suara pendukung Partai Golkar.

Dieqy Hasbi Widhana
Oleh Dieqy Hasbi Widhana - Reporter
Menebak peluang Tommy Soeharto jadi calon presiden 2019
Tommy Soeharto. ©2015 merdeka.com/muhammad luthfi rahman

Ormas Perisai Swara Rakyat Indonesia (Parsindo) di Surabaya, Jawa Timur, Minggu (28/6) wacanakan Hutomo Mandala Putra atau Tommy Soeharto sebagai calon presiden di Pemilu 2019 mendatang. Ormas tersebut mengklaim bahwa saat ini masyarakat Indonesia rindu era orde baru di bawah kepemimpinan Soeharto.Mungkinkah Tommy Soeharto memiliki peluang jika menjadi calon presiden?Pengamat komunikasi politik Universitas Paramadina Hendri Satrio melihat Tommy punya peluang untuk menjadi presiden. Namun sayangnya, tingkat kepercayaan masyarakat masih rendah."Peluang ada tapi belum besar. Saat ini salah satu faktor unggulan Tommy adalah faktor nostalgia orde baru. Tapi dari sisi elektabilitas, Tommy masih perlu kerja keras," kata Hendri saat dihubungi merdeka.com, Minggu (28/6).Menurut Hendri, untuk mengikat dukungan publik, Tommy harus lebih sering muncul ke publik. Bukan hanya berkomentar melalui sosial media. Akan tetapi turun langsung ke masyarakat dengan program-program prorakyat.Di sisi lain Hendri mengiyakan adanya kerinduan sebagian masyarakat untuk dimanjakan seperti pada era orde baru. "Saya rasa ada kelompok masyarakat yang rindu era Soeharto itu. Pasti ada kelompok masyarakat yang merindukan zaman Soeharto, terutama kelompok masyarakat yang merasakan subsidi ekonomi zaman Soeharto," ucapnya.Hendri menyatakan pula bahwa salah satu sifat orang Indonesia ialah senang hal yang bersifat nostalgia. Dari kelompok pecinta nostalgia tersebut, kata dia, Tommy bisa memaksimalkan suara.Berdasarkan perkiraan Hendri, massa yang akan mendukung Tommy hampir seluruh dari suara pendukung Partai Golkar. "Banyak. Mungkin bisa dicitrakan seperti suara Golkar dalam Pileg, sekitar 15 persen. Walaupun bisa jadi ada perbedaan dan tidak bisa digeneralisir bahwa suara Golkar sama dengan suara orde baru," ungkapnya.

Rekomendasi