Film dokumenter "Senyap" mengungkap realitas degil yang membayangi sejarah Indonesia selama puluhan tahun. Karya ini menyoroti kisah hidup Adi Rukun, 44 tahun, warga asal Kabupaten Langkat, Sumatera Utara.
Dia kehilangan sang kakak, bernama Ramli, pada gestok 1965. Semua orang di desanya tahu, Ramli dibunuh secara sadis, lantaran ikut jadi pengurus Pemuda Rakyat yang dituding underbow Partai Komunis Indonesia.
"Karena sejak saya SMP, saya mulai mengerti tentang apa yang terjadi terhadap Ramli. Hanya saja saya tidak tahu akan bertanya kepada siapa, apa yang terjadi pada korban," kata Adi selepas pemutaran perdana "Senyap" di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Senin (10/11) malam.
Pembantaian anggota PKI selama periode 1965-1966 menyisakan luka mendalam bagi keluarga lebih dari satu juta orang yang tewas. Itu baru angka moderat, dari perkiraan antara 500.000 hingga tiga juta versi banyak sumber.
Adi mengatakan ibunya trauma saban mengingat kejadian itu. Ramli sempat dihajar dan pulang ke rumah. Tapi massa tak dikenal menjemputnya naik truk dengan alasan mau mengobati. Alhasil, besoknya, cuma beberapa organ Ramli tersisa untuk dikuburkan.
Adi, bekerja sebagai petugas optik, mengaku tidak benci pada pelaku yang merenggut nyawa abangnya. Sebagai keluarga korban, justru dia lebih tertarik menguak kebenaran.
Itu sebabnya, dia menerima ajakan sutradara "Senyap", Joshua Oppenheimer, untuk memfilmkan realitas pembantaian warga komunis di Sumut. Ternyata sutradara asal Amerika Serikat ini sudah pernah memfilmkan orang-orang yang mengaku membunuh tokoh PKI bernama Ramli.
"Ketika itu juga saya minta Joshua mempertemukan saya dengan para pembunuh. Joshua bilang itu sangat berbahaya, tapi tetap dia pikirkan. Baru sekitar 2012 awal saya dipertemukan dengan para pembunuh," ungkap Adi.
Di dalam "Senyap", para pembunuh itu hidup tenang. Ada yang jadi pengusaha, politikus DPRD, jawara desa, dan sebagainya. Dua orang bahkan secara terbuka pada Adi menyampaikan bahwa minum darah korban adalah cara paling ampuh untuk menghindari kegilaan. Sebab, didukung Angkatan Darat, laskar sipil membantai ratusan ribu warga selama nyaris tiga bulan sehingga banyak jagal manusia merasa stres.
Mengingat semua kebiadaban tersebut, Adi ingin baik keluarga korban maupun pelaku bertemu untuk menatap masa depan. Syarat rekonsiliasi, menurutnya, adalah ketika semua pihak mengakui kejadian 49 tahun lalu itu adalah murni pembunuhan.
"Ketika mereka mengaku pahlawan ideologi, itu yang paling saya tidak suka. Saya harap mereka mengakui, tapi itu tidak pernah saya dapatkan. Itu yang membuat keinginan saya ingin menemui. Jangankan minta maaf, menyesal sedikit pun juga tidak ada," kata Adi.
Walau suasana korban-pelaku masih dingin, Joshua dalam forum yang sama, berharap rekonsiliasi tetap diupayakan. Indonesia tidak akan lepas dari bayang-bayang masa lalu bila pembantaian PKI belum dibicarakan terbuka sebagai fakta sejarah.
"Senyap menggambarkan kebenaran sebagai rekonsiliasi, dan semuanya mungkin sebagaimana perubahan telah datang di Indonesia," kata Joshua.
Komisioner Komnas HAM Muhammad Nur Khaeron yang mengapresiasi film ini, mengakui jalan panjang rekonsiliasi terjal. Tapi bukannya tidak mungkin. Sebab para pembantai kendati masih berkuasa di ormas maupun TNI, sudah masuk usia senja.
"Kalau tidak didorog semua orang tembok besar akan tetap menghalangi," ucapnya.
Agenda rekonsiliasi korban-pelaku makin memungkinkan, asal banyak pihak memang mendukung terutama dalam pengajaran sejarah.
"Saya yakin sudah saatnya sejarah kita harus diubah. Dan persepsi kita tentang komunisme harus diubah. Dalam konteks kewenangan saya di Komnas HAM adalah penulisan sejarah. Kami sudah berkomunikasi dengan beberapa teman sejarawan, mudah-mudahan kita sama-sama tergugah," kata Nur Khaeron.