Diakui atau tidak, pengaruh Presiden Joko Widodo (Jokowi) masih memberi dampak positif bagi politik elektoral di Tanah Air. Buktinya, banyak partai politik ramai-ramai mengusung Jokowi dua periode. Harapannya, meraih suara signifikan di Pileg 2019.
Sementara itu PDIP tidak ingin berandai-andai soal Jokowi effect. Untuk itu, PDI Perjuangan lebih fokus pada kerja politiknya untuk meraih kemenangan, khususnya memenuhi target 20 persen suara di Jawa Timur.
Ditegaskan Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Timur, Kusnadi, bahwa pengaruh Jokowi harus dilihat dari dua sisi: positif dan negatif. "Kita tidak berandai-andailah, tidak berandai-andai apakah ada Jokowi effect atau tidak ada Jokowi effect. Iya toh?" kata Kusnadi usai mendaftarkan 120 caleg ke KPU Jawa Timur, Selasa (17/7) malam.
"Tapi yang bisa kita lakukan adalah bekerja. Iya kalau ada Jokwoi effect, kalau tidak ada jokowi effect? Lemah. Tenggelam kan kita? Alhamdulillah kalau (memang) ada Jokwoi effect, kita akan mendapatkan lebih dari itu," ungkapnya lagi.
Namun, dengan kerja keras tanpa terpengaruh dengan istilah Jokowi effect, Kusnadi menyebut, perolehan suara partainya tetap stabil. Bahkan bisa melampau target. "Kalau tidak ada Jokowi effect, kita juga akan mendapatkan sebagaimana yang kita raih. Jadi kita harus tetap bekerja, bekerja, dan bekerja."
"Karena biar bagaimanapun, Jokowi effect itu bisa bersifat positif, tapi juga bisa berdampak negatif, gitu toh? Dan juga percaya bukan hanya Jokowi effect, tapi PDI Perjuangan effect juga bisa mempengaruhi Jokowi, kan begtu," sambung Kusnadi yang juga wakil ketua DPRD Jawa Timur.
Sehingga menurut Kusnadi, antara PDI Perjuangan dan Jokowi effect, bisa saling mempengaruhi. "Jadi ini tidak hanya satu sisi, tapi dua-duanya bisa mempengaruhi, oleh karena, maka kita jangan berandai-andai, kita tidak berangan-angan."
Yang terpenting, masih kata Kusnadi, seluruh kader dan Caleg dari PDI Perjuangan bekerja mendekatkan diri pada konstituen. Sehingga di Pileg 2019 nanti, partai besutan Megawati Soekarnoputri ini mampu memenuhi target suara di Jawa Timur, yaitu 20 persen. "Dan bagi kita akan ketemu. Tidak bergantung kita, kalau bergantung mati kita," selorohnya.