PAN Koalisi Rasa Oposisi, Gerindra Dinilai Lebih Bisa Diterima Pendukung Jokowi

Kamis, 18 Juli 2019 23:35 Reporter : Muhammad Genantan Saputra
PAN Koalisi Rasa Oposisi, Gerindra Dinilai Lebih Bisa Diterima Pendukung Jokowi Pertemuan Jokowi-Prabowo usai Pemilu 2019. ©2019 Merdeka.com

Merdeka.com - Pengamat Politik asal Lingkar Madani, Ray rangkuti menilai, potensi partai Gerindra bergabung koalisi pemerintah lebih besar dibanding Partai Amanat Nasional dan Demokrat. Dia melihat partai pengusung Jokowi-Ma'ruf Amin lebih terbuka ke Gerindra.

"Bagi saya Prabowo gabung lebih besar dari partai lain, Gerindra itu tidak ada resistensi partai lain. Tapi PAN dan Demokrat lebih ke resisten. Koalisi itu agak resisten dengan PAN," kata Ray dalam diskusi Format Ideal Kabinet Jokowi 2 di kantor Formappi, Jakarta Timur, Kamis (18/7).

Menurut Ray, sikap PAN terlihat tidak konsisten. Sehingga sulit membedakan PAN di pihak oposisi atau penguasa.

"Batas oposisi dan berkuasa tipis saja mereka di kekuasaan saja kadang juga oposisi. Itu alasan PAN tidak diterima di koalisi. Dia koalisi rasa oposisi tapi kan tidak aneh begitu di politik," kata Ray.

Ray pun menilai ada sisi positif jika Gerindra bergabung ke koalisi pemerintah. Yaitu tradisi baru dan ada regenerasi di tubuh partai besutan Prabowo Subianto itu.

"Itu cukup realistis bagi Gerindra. Apakah (Gerindra) ditinggalkan (pendukung) tidak menurut saya kekecewaan itu ketika ketemu di MRT saja. Ketika (Gerindra) masuk kabinet saya kira tidak ada hambatan serius," ucapnya.

Sedangkan PKS sudah bulat berada di luar pemerintahan. Ray menilai, PKS sadar tidak diterima di barisan penguasa. "Mereka sudah sadar dari hampir semua koalisi tidak menerima jadi mereka saya lihat ya oposisi saja. 01 juga ada yang ajak, oleh karena itu sadar," katanya. [noe]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini