Bukan Sekadar Belajar, BNPT Ungkap 3 Peran Penting Sekolah dalam Pencegahan Terorisme di Kalangan Pelajar

BNPT tegaskan sekolah memiliki peran vital dalam Pencegahan Terorisme di kalangan pelajar, bukan hanya tempat belajar, tapi juga benteng karakter kebangsaan. Simak 3 peran krusial ini!

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Bukan Sekadar Belajar, BNPT Ungkap 3 Peran Penting Sekolah dalam Pencegahan Terorisme di Kalangan Pelajar
BNPT tegaskan sekolah memiliki peran vital dalam Pencegahan Terorisme di kalangan pelajar, bukan hanya tempat belajar, tapi juga benteng karakter kebangsaan. Simak 3 peran krusial ini! (AntaraNews)

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menegaskan bahwa institusi pendidikan, khususnya sekolah, memiliki fungsi yang jauh melampaui sekadar penyedia ilmu pengetahuan. Sekolah kini diakui sebagai wadah fundamental untuk pembentukan karakter kebangsaan, utamanya dalam upaya mencegah penyebaran paham radikal terorisme di kalangan generasi muda.

Pernyataan ini disampaikan oleh Direktur Pencegahan BNPT, Irfan Idris, saat membuka Dialog Kebangsaan bersama Satuan Pendidikan Tingkat SMA/SMK/MA. Acara penting tersebut diselenggarakan di Pendopo Sipanji, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, pada Kamis (30/10), menggarisbawahi urgensi peran sekolah.

Dalam kesempatan tersebut, Irfan Idris mengajak seluruh pelajar untuk aktif mengambil tiga peran krusial sebagai generasi muda di era digital. Peran ini diharapkan dapat membekali mereka dalam merawat kebhinnekaan serta mengamalkan nilai-nilai luhur Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, sekaligus menjadi garda terdepan Pencegahan Terorisme.

Irfan Idris menekankan pentingnya peran pertama bagi pelajar, yaitu menjadi generasi yang kritis dan bijak dalam mengakses media digital. Ia menjelaskan bahwa meskipun para pelajar lahir di era teknologi dan terbiasa dengan aplikasi, kecakapan digital bukan hanya soal kemampuan mengoperasikan, melainkan juga kebijaksanaan dalam penggunaannya.

Prinsip "saring sebelum sharing" menjadi kunci utama agar pelajar tidak mudah terjebak dalam informasi hoaks dan provokasi yang berpotensi memecah belah. Oleh karena itu, BNPT mengimbau para pelajar untuk senantiasa menggunakan kemampuan berpikir kritis mereka guna memverifikasi setiap informasi sebelum membagikannya ke ruang publik.

Peran kedua yang didorong oleh BNPT adalah agar pelajar menjadi duta perdamaian dan produsen konten positif di ruang digital. Irfan mendorong siswa untuk tidak berdiam diri ketika narasi kebencian mulai mendominasi media sosial, melainkan aktif menciptakan kontra-narasi.

“Gunakan kreativitas kalian untuk mengisi media sosial dengan pesan-pesan damai, toleransi, dan kebersamaan lintas suku dan agama. Tunjukkan bahwa moderasi itu keren,” tegas Irfan, mengajak pelajar untuk menunjukkan bahwa nilai-nilai kebangsaan dapat disajikan secara menarik. Selain itu, peran ketiga berfokus pada menjaga toleransi di lingkungan nyata.

Toleransi, menurut Irfan, tidak cukup hanya dibicarakan, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan sehari-hari di sekolah. Tindakan ini bisa dimulai dari hal sederhana, seperti menghargai teman yang berbeda keyakinan atau menghentikan perundungan yang didasari perbedaan, menciptakan lingkungan sekolah yang inklusif dan aman dari bibit radikalisme.

Di tengah derasnya arus informasi dan keterbukaan digital, tantangan kebangsaan semakin kompleks, dengan narasi permusuhan dan ujaran kebencian yang mudah menyebar. Irfan Idris mengingatkan bahwa sekolah memiliki peran vital dalam memperkuat moderasi beragama dan memperkokoh semangat kebangsaan sebagai bagian dari Pencegahan Terorisme.

“Dialog seperti ini harus melahirkan komitmen nyata di sekolah masing-masing. Jadikan sekolah kalian sebagai ‘zona nol’ dari intoleransi, radikalisme, dan kekerasan,” tuturnya. Komitmen ini diharapkan menjadi landasan bagi setiap satuan pendidikan untuk aktif menciptakan lingkungan yang kondusif.

Tidak hanya pelajar, BNPT juga menegaskan pentingnya pembekalan bagi para tenaga pendidik agar memiliki daya tangkal terhadap paham ekstrem. Irfan menjelaskan bahwa apabila guru terpapar paham radikal, dampaknya bisa sangat berbahaya bagi generasi muda, sehingga penguatan wawasan kebangsaan bagi pendidik juga tak kalah penting.

Anggota Komisi XIII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Yanuar Arif Wibowo, turut menekankan urgensi ruang dialog antara guru dan siswa untuk memperkuat daya tahan generasi muda terhadap berbagai pengaruh negatif. Gagasan penyelenggaraan Dialog Kebangsaan ini muncul setelah melihat sejumlah kerusuhan di berbagai daerah yang melibatkan pelajar.

“Dari hasil diskusi saya dengan Kapolresta Banyumas dan Kapolresta Cilacap, banyak pelaku kerusuhan berasal dari kalangan pelajar,” ungkap Yanuar, menunjukkan betapa krusialnya perhatian terhadap kelompok ini. Oleh karena itu, dirinya berkomunikasi dengan Kepala dan Sekretaris Utama BNPT agar kegiatan dialog damai bisa digelar khusus bagi siswa dan guru.

Yanuar menegaskan bahwa generasi muda merupakan kekuatan strategis bangsa, bukan hanya karena jumlah atau usia, melainkan karena mereka lahir dan tumbuh sebagai digital natives yang terbiasa dengan teknologi. “Anak muda kita sangat kreatif, inovatif, dan cepat beradaptasi terhadap perubahan. Namun, kemampuan ini juga harus diimbangi dengan kebijaksanaan agar teknologi tidak menjadi bumerang,” katanya.

Acara Dialog Kebangsaan ini diikuti oleh sekitar 130 siswa dan 70 guru serta kepala sekolah dari 38 SMA, SMK, dan MA di Banyumas. Kegiatan ini terselenggara atas kolaborasi apik antara BNPT dengan Komisi XIII DPR RI, menunjukkan sinergi antar lembaga dalam upaya Pencegahan Terorisme dan pembentukan karakter bangsa.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi