Tim Gabungan Intensifkan Pencarian Pesawat ATR Hilang di Sulawesi Selatan

Operasi pencarian pesawat ATR 42-500 yang hilang kontak di Sulawesi Selatan terus diintensifkan, melibatkan tim gabungan besar untuk menyisir medan sulit dan menemukan titik terang.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Tim Gabungan Intensifkan Pencarian Pesawat ATR Hilang di Sulawesi Selatan
Operasi pencarian pesawat ATR 42-500 rute Yogyakarta-Makassar yang hilang kontak di Maros kembali diintensifkan dini hari ini, melibatkan tim SAR gabungan dari berbagai elemen. (AntaraNews)

Tim penyelamat gabungan berskala besar akan melanjutkan pencarian pesawat ATR 42-500 yang hilang pada Minggu dini hari. Pesawat tersebut dilaporkan hilang kontak dalam rute penerbangan dari Yogyakarta menuju Makassar. Upaya pencarian ini semakin diintensifkan di tengah kondisi medan yang sulit di Sulawesi Selatan.

Operasi SAR terpadu ini melibatkan berbagai pihak, termasuk Basarnas, badan penanggulangan bencana, militer, kepolisian, polisi air, Palang Merah, mahasiswa pecinta alam, dan ratusan relawan dari berbagai organisasi. Seluruh elemen ini bekerja sama di bawah struktur komando terpadu untuk efisiensi dan koordinasi yang optimal.

Pesawat turboprop tersebut diyakini kehilangan kontak sekitar pukul 13.17 waktu setempat pada hari Sabtu. Lokasi terakhir yang diketahui berada di dekat Distrik Maros, Sulawesi Selatan, memicu respons cepat dari seluruh tim penyelamat dan lembaga terkait.

Operasi terpadu ini dijadwalkan dimulai pada pukul 04.00 waktu setempat, dengan penekanan pada disiplin dan kepatuhan terhadap satu rantai komando. Tim pencarian akan beroperasi menggunakan sistem berbasis sektor yang disesuaikan dengan kondisi medan, guna meningkatkan koordinasi dan keselamatan para petugas di lapangan.

Komandan militer Pangkep menegaskan pembagian tugas dan sektor pencarian telah diperkuat dalam briefing malam sebelumnya. Tiga personel badan penanggulangan bencana Makassar ditugaskan pada unit data dan informasi untuk mendukung pelaporan dan integrasi temuan, memastikan informasi terpusat.

Tujuh personel tambahan yang terlatih dalam penyelamatan vertikal ditunjuk untuk memimpin beberapa tim lapangan, seiring dengan terus bertambahnya jumlah personel penyelamat dan relawan. Badan penanggulangan bencana Makassar juga berkomitmen untuk terus mendukung pencarian, menekankan profesionalisme, koordinasi, dan keselamatan responden di bawah sistem komando terintegrasi.

Komandan tim, Rahmat, menyatakan bahwa semua personel siap untuk dikerahkan dan akan mengikuti perintah operasional secara ketat di lapangan. "Kami siap bergerak di bawah instruksi komando, berfokus pada data, informasi, dan memimpin tim pencarian sesuai keahlian kami," ujarnya, menunjukkan kesiapan penuh tim.

Pesawat ATR 42-500, yang dioperasikan oleh Indonesia Air Transport, kehilangan kontak di dekat Distrik Maros, Sulawesi Selatan. Insiden ini terjadi saat pesawat dalam perjalanan dari Yogyakarta menuju Makassar, menambah daftar panjang tantangan dalam penerbangan di wilayah tersebut.

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) telah mulai mengumpulkan data terkait insiden ini di area Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Ketua KNKT, Soerjanto Tjahjono, menyatakan bahwa penyebab insiden belum dapat ditentukan karena kesulitan yang muncul setelah Emergency Locator Transmitter (ELT) pesawat diduga tidak aktif.

Kendala ELT yang tidak aktif menjadi tantangan besar dalam upaya pencarian dan penentuan lokasi pasti pesawat. Soerjanto Tjahjono menambahkan bahwa upaya saat ini tetap difokuskan pada penemuan puing-puing dan pengumpulan informasi mengenai kemungkinan korban, sebelum investigasi lebih lanjut.

Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU) mengerahkan helikopter H225M Caracal untuk operasi pencarian dan penyelamatan di area yang sulit dijangkau. Helikopter ini sangat penting untuk menyisir medan pegunungan dan hutan yang menjadi bagian dari wilayah pencarian yang luas.

Juru bicara TNI AU, I Nyoman Suadnyana, menyatakan bahwa koordinat terakhir yang diketahui adalah 04°57’08” lintang selatan dan 119°42’54” bujur timur. Helikopter yang dipiloti oleh Kapten Rahman ini berangkat dari pangkalan udara Sultan Hasanuddin menuju sektor pencarian Maros.

Selain helikopter, TNI AU juga mengerahkan 82 personel dari unit reaksi cepat dan pertahanan udara, bersama dengan kendaraan komando bergerak. Dukungan ini bertujuan untuk memperkuat operasi darat gabungan, memastikan cakupan area pencarian yang lebih luas dan respons yang lebih cepat di lapangan.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi