Tiga Bulan Pasca Gencatan Senjata, Bantuan Kemanusiaan Gaza Masih Jauh dari Cukup

Komisaris Jenderal UNRWA Philippe Lazzarini mengungkapkan bahwa pasokan Bantuan Kemanusiaan Gaza masih sangat tidak memadai, tiga bulan setelah gencatan senjata, meninggalkan jutaan warga dalam kondisi memprihatinkan.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Tiga Bulan Pasca Gencatan Senjata, Bantuan Kemanusiaan Gaza Masih Jauh dari Cukup
Komisaris Jenderal UNRWA Philippe Lazzarini mengungkapkan bahwa pasokan Bantuan Kemanusiaan Gaza masih sangat tidak memadai, tiga bulan setelah gencatan senjata, meninggalkan jutaan warga dalam kondisi memprihatinkan. (AntaraNews)

Komisaris Jenderal UNRWA, Philippe Lazzarini, menyatakan bahwa kondisi kemanusiaan di Jalur Gaza belum menunjukkan perbaikan signifikan. Pernyataan ini disampaikan tiga bulan setelah gencatan senjata diberlakukan di wilayah tersebut. Arus Bantuan Kemanusiaan Gaza yang masuk masih jauh di bawah tingkat yang dibutuhkan untuk menopang kehidupan warga yang terdampak perang.

Menurut Lazzarini, bantuan yang telah tiba hingga kini tidak sebanding dengan besarnya kebutuhan mendesak masyarakat. Kesenjangan antara pasokan dan kondisi lapangan yang terus memburuk menjadi perhatian utama. Hal ini menimbulkan kekhawatiran serius terhadap kelangsungan hidup jutaan penduduk Gaza.

Warga Gaza masih berjuang bertahan hidup di tengah puing-puing bangunan yang hancur. Mereka menghadapi tempat berlindung tidak aman serta cuaca dingin yang ekstrem. Situasi ini memperparah penderitaan penduduk setelah konflik dua tahun yang menyebabkan kehancuran luas dan pengungsian paksa.

Lazzarini menyoroti bahwa meskipun bantuan pangan telah mulai tiba, dukungan non-pangan masih sangat terbatas. Banyak keluarga kehilangan hampir seluruh kebutuhan dasar untuk hidup layak. Ini termasuk pakaian hangat, selimut, dan perlengkapan kebersihan yang sangat dibutuhkan.

Ribuan tenda yang digunakan sebagai tempat berlindung darurat banyak yang bocor, tidak mampu melindungi warga dari hujan dan angin kencang. Kondisi ini diperparah oleh cuaca dingin yang ekstrem, menambah penderitaan penduduk yang telah kelelahan. Mereka telah melalui dua tahun perang dengan kehancuran luas dan kehilangan orang-orang terkasih.

Komisaris Jenderal UNRWA menegaskan kembali bahwa bantuan yang tersedia saat ini belum mampu memenuhi kebutuhan minimum. Ini mencakup aspek perlindungan, kesehatan, dan layanan dasar penting lainnya. Kesenjangan ini menciptakan krisis kemanusiaan yang mendalam dan berkelanjutan di Jalur Gaza.

Di tengah keterbatasan yang ada, pendidikan tetap menjadi prioritas utama bagi UNRWA. Lazzarini mencatat bahwa lebih dari 60.000 anak telah kembali mengikuti pembelajaran tatap muka. Selain itu, lebih dari 280.000 anak lainnya menerima pendidikan jarak jauh.

Namun, capaian tersebut masih jauh dari cukup untuk menjamin hak belajar seluruh anak Gaza yang terdampak konflik. Banyak fasilitas pendidikan hancur atau rusak parah, membuat akses terhadap pendidikan menjadi sangat sulit. Upaya pemulihan sektor pendidikan memerlukan dukungan yang lebih besar dan berkelanjutan.

Lazzarini juga menyinggung krisis keuangan yang melanda UNRWA, yang semakin memperparah keterbatasan operasional. Pembekuan pendanaan dari Amerika Serikat sejak Februari 2024, menyusul tuduhan terhadap sebagian staf, menjadi pukulan telak. Situasi ini menghambat kemampuan UNRWA dalam menyalurkan Bantuan Kemanusiaan Gaza secara efektif.

Selain itu, sejumlah kegiatan UNRWA di Yerusalem Timur yang diduduki terhenti sepenuhnya. Hal ini terjadi akibat undang-undang Israel dan penetapan wilayah tersebut sebagai bagian dari teritorinya. Pembatasan ini semakin mempersempit ruang gerak UNRWA dalam memberikan layanan vital kepada masyarakat yang membutuhkan.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi