Temui Keluarga Korban Tewas Banjir di Sumbar, Wakapolri Buka Opsi Percepat Identifikasi Lewat Tes DNA di Jakarta
Dedi menyebut, tim DVI terus mempercepat proses identifikasi. Apalagi, mengingat kondisi jenazah sudah lebih dari sepekan.
Wakapolri Komjen Dedi Prasetyo mengecek kegiatan pelayanan tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri di RS Bhayangkara Padang, Sumatera Barat (Sumbar). Di sela proses pengecekan, Dedi menyerahkan dokumen identifikasi jenazah dan surat kematian kepada keluarga korban yang menanti di lokasi.
"Saya mewakili Bapak Kapolri menyampaikan turut berduka cita ya, Pak. Bapak sekeluarga yang tabah, yang sabar ya, Pak," kata Dedi kepada perwakilan keluarga korban, Kamis (4/12).
"Iya terima kasih, Pak," jawab perwakilan keluarga korban.
Dedi menyebut, tim DVI terus mempercepat proses identifikasi. Apalagi, mengingat kondisi jenazah sudah lebih dari sepekan. "Identifikasi ini harus dilakukan sesegera mungkin. Karena kita kasihan, kalau misalnya korban terlalu lama. Ini semakin ke depan kan kondisi (jenazah)-nya semakin tidak baik," sebutnya.
Mantan Kadiv Humas Polri ini menjelaskan, metode identifikasi tercepat adalah melalui pemeriksaan sidik jari. Ketepatan identifikasi dengan sidik jari 99 persen. "Jadi salah satunya kecepatan kita untuk melakukan identifikasi DVI adalah dengan sidik jari. Kalau sidik jari yang dia masih bisa kita identifikasi dengan Inafis, maka sangat cepat. Tingkat akurasinya dengan sidik jari itu bisa sampai 99 persen," jelasnya.
Usai hasil sidik jari keluar, data antemortem dari pihak keluarga serta post-mortem disebutnya dicocokkan untuk memperkuat akurasi. "Kemudian dari post-mortem nanti melakukan rekonstruksi dan melakukan identifikasi juga. Kalau misalnya itu identik, maka akan segera dirilis hari ini," sebutnya.
Opsi Percepat Identifikasi Korban, DNA Dikirim ke Lab Jakarta
Selain itu, jenderal bintang tiga ini membuka opsi untuk mempercepat proses identifikasi jenazah korban banjir dan tanah longsor di sejumlah wilayah Sumatera. Jika identifikasi menggunakan sidik jari tak dapat dilakukan karena faktor kondisi jasad sudah tak mendukung, maka tes DNA merupakan langkah akurat yang terakhir.
Mengingat kondisi jasad semakin lama semakin sulit teridentifikasi maka Komjen Dedi mengatakan DNA-DNA para korban dapat dikirim ke laboratorium DVI di Jakarta. Tentunya tim DVI akan mengambil sampel DNA keluarga inti korban untuk pembanding.
"Langkah terakhir apa yang memang kondisinya memang, mohon maaf, sudah tidak baik, maka harus dengan menggunakan DNA," ungkapnya.
Dedi mengungkapkan, laboratorium DVI milik Polri di Jakarta dapat memeriksa DNA dengan cepat. Mantan Inspektur Pengawasan Umum Polri ini menerangkan proses DNA diambil, dikirim dan mengeluarkan hasil diperkirakan tiga hari.
"(Sampel) DNA ini kami mintakan dari keluarga korban. Kita punya lab DNA yang cukup cepat di Jakarta. Mungkin dalam waktu tiga hari tes DNA, bisa langsung disampaikan kepada pihak keluarga. Sehingga jenazah yang ada di seluruh rumah sakit Polri ini bisa diserahkan dan segera dimakamkan," paparnya.
Nakes 'Jemput Bola' di Agam Sumbar
Sesuai perintah Presiden Prabowo Subianto Subianto yang diteruskan oleh Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo ditegaskannya, jajaran DVI diminta cepat mengidentifikasi korban. Oleh sebab itu, harus dilakukan langkah 'jemput bola'.
Teknis dari langkah 'jemput bola" ini, dipaparkanDedi, dimulai dari jenazah ditemukan lalu langsunh diidentifikasi oleh tim DVI Polri. Tentunya identifikasi itu dilakukan dengan metode paling simpel yakni sidik jari hingga metode paling kompleks yakni tes DNA. Hal tersebut tergantung kondisi jenazah.
"(Wilayah) Agam kami kirim tenaga kesehatan (nakes). Jadi jangan harus menunggu lama di sini (RS Bhayangkara Padang), kalau perjalan dari Agam ke sini membutuhkan waktu. Harusnya tim DVI kita bisa langsung setelah dapat jenazah dari relawan atau tim kita, bisa kita langsung identifikasi. Sidik jari dulu yang cepat. Kemudian baru antemortemnya, setelah antermortem selesai baru clear baru kita cari," paparnya.
Untuk percepatan identifikasi jenazah, ia memastikan, tim DVI dari Jakarta telah dikerahkan seluruhnya ke wilayah terdampak bencana alam di Sumatera. Tak hanya Polri, stakeholders lainnya seperti Pemerintah Daerah, TNI dan Basarnas juga berjibaku mengevakuasi korban, baik yang selamat maupun tewas.
"Tim dari Jakarta, semuanya turun ke sini, bahu-membahu. Dan pemerintah daerah, Basarnas, kemudian Badan Penanggulangan Bencana, TNI, dan sektor terkait lainnya. Ini kecepatan kita juga untuk segera mengevakuasi korban, baik itu korban meninggal dunia, khususnya korban yang harus kita selamatkan dan mendapat perawatan rumah sakit," pungkasnya.