Tahukah Kamu Remaja Habiskan 7,8 Jam/Hari dengan Gawai? BKKBN Luncurkan Akademi Keluarga Indonesia untuk Bentuk Karakter Menuju Indonesia Emas

BKKBN menginisiasi Akademi Keluarga Indonesia, program revolusioner untuk membentuk karakter remaja di era digital. Siapkah generasi muda menyongsong Indonesia Emas 2045 dengan fondasi keluarga yang kuat?

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Tahukah Kamu Remaja Habiskan 7,8 Jam/Hari dengan Gawai? BKKBN Luncurkan Akademi Keluarga Indonesia untuk Bentuk Karakter Menuju Indonesia Emas
BKKBN menginisiasi Akademi Keluarga Indonesia, program revolusioner untuk membentuk karakter remaja di era digital. Siapkah generasi muda menyongsong Indonesia Emas 2045 dengan fondasi keluarga yang kuat? (Merdeka.com)

Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (Kemendukbangga/BKKBN) secara resmi meluncurkan program Akademi Keluarga Indonesia. Inisiatif strategis ini bertujuan untuk mempersiapkan remaja Indonesia agar memiliki karakter berkualitas tinggi. Program ini menjadi fondasi penting dalam menyongsong visi besar Indonesia Emas 2045 mendatang.

Peluncuran Akademi Keluarga Indonesia tersebut berlangsung di Jakarta pada Kamis, 18 September, dan dihadiri oleh sejumlah pihak terkait. Kepala BKKBN, Wihaji, menegaskan bahwa keluarga memegang peranan krusial dalam pembentukan karakter. "Kita ingin Indonesia lebih baik, maka kita mulai dengan memperkuat keluarga sebagai fondasi pembangunan karakter remaja Indonesia," ujarnya.

Akademi ini dirancang untuk membekali generasi muda dengan keterampilan dan pemahaman yang relevan di era digital. Program ini akan menghadirkan tiga kelas khusus yang menyasar pelajar SMP, SMA, hingga mahasiswa. Tujuannya adalah menyiapkan generasi penerus yang matang, termasuk calon pengantin baru di masa depan.

Peran Keluarga dan Tantangan Era Digital

Kepala BKKBN Wihaji menekankan bahwa penguatan keluarga adalah langkah awal untuk mewujudkan Indonesia yang lebih baik. Fondasi keluarga yang kokoh akan menjadi penentu utama dalam membangun karakter remaja yang tangguh. Melalui Akademi Keluarga Indonesia, BKKBN berupaya mengembalikan peran sentral keluarga.

Wihaji juga menyoroti fenomena "keluarga baru" yang kini akrab dengan kehidupan remaja, yaitu gawai. Riset menunjukkan bahwa rata-rata anak Indonesia menghabiskan waktu sekitar 7,8 jam setiap hari di depan layar gawai mereka. Angka ini menunjukkan betapa dominannya perangkat digital dalam keseharian remaja.

Dampak dari penggunaan gawai yang masif ini sangat signifikan, di mana algoritma digital disebut lebih cepat memengaruhi pikiran remaja. Pengaruh ini bahkan bisa melampaui nasihat yang diberikan oleh guru atau orang tua. Oleh karena itu, Akademi Keluarga Indonesia dirancang untuk membekali remaja agar cerdas menghadapi dunia digital.

Membangun Remaja Cerdas dan Berkarakter di Dunia Maya

Akademi Keluarga Indonesia akan menjadi platform penting untuk membentuk remaja yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki karakter kuat. Program ini akan fokus pada pengembangan kemampuan remaja dalam menghadapi berbagai tantangan di dunia digital. Tujuannya adalah menciptakan generasi yang sehat dan berkarakter di tengah gempuran informasi.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Arifatul Choiri Fauzi, turut menyampaikan pesan penting kepada para remaja. Ia mengingatkan agar remaja memanfaatkan waktu belajar dengan sebaik mungkin, menghormati orang tua dan guru, serta tidak melupakan ibadah. "Remaja adalah calon pemimpin 2045," tegasnya, menyoroti peran strategis mereka.

Kepala Pusat Kajian Gender dan Anak IPB, Yulina Eva Riany, menambahkan bahwa remaja adalah "digital native" yang sangat aktif sekaligus rentan. Ancaman seperti perundungan siber, hoaks, kecanduan gawai, hingga krisis identitas menjadi isu krusial yang perlu diantisipasi. Akademi Keluarga Indonesia diharapkan dapat memberikan solusi atas tantangan ini.

Strategi untuk mengatasi ancaman digital tersebut meliputi pengaturan screen time, pemilihan konten positif, dan pembangunan identitas yang sehat. Yulina juga menekankan pentingnya memperkuat literasi digital di kalangan remaja. Sementara itu, Direktur Pengelolaan Kerja Sama Pendidikan Kependudukan BKKBN, I Made Yudhistira Dwipayama, mengajak remaja peduli lingkungan.

Peluncuran Akademi Keluarga Indonesia ini diikuti oleh sedikitnya 167 peserta, yang sebagian besar merupakan remaja. Mereka adalah perwakilan dari 34 provinsi di seluruh Indonesia, menunjukkan cakupan nasional dari inisiatif ini. Kehadiran mereka menegaskan antusiasme terhadap program pembentukan karakter remaja.

Sebagai bentuk dukungan terhadap pendidikan, para remaja yang hadir juga menerima tabungan pendidikan. Bantuan ini diberikan oleh PT Bank Negara Indonesia (BNI), yang merupakan mitra kerja Kemendukbangga/BKKBN. Inisiatif ini diharapkan dapat memotivasi remaja untuk terus berprestasi dan mengembangkan diri.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi