Tahukah Anda? Perubahan Sosial Berawal dari Keluarga: Ashoka Tumbuhkan Gerakan Pembaharu di Lampung

Ashoka Indonesia gencar menumbuhkan Gerakan Pembaharu di Lampung, fokus pada keluarga sebagai inti perubahan sosial. Mengapa pendekatan ini krusial di tengah krisis yang ada?

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Tahukah Anda? Perubahan Sosial Berawal dari Keluarga: Ashoka Tumbuhkan Gerakan Pembaharu di Lampung
Ashoka Indonesia gencar menumbuhkan Gerakan Pembaharu di Lampung, fokus pada keluarga sebagai inti perubahan sosial. Mengapa pendekatan ini krusial di tengah krisis yang ada? (AntaraNews)

Ashoka Indonesia secara aktif mendorong inisiatif gerakan pembaharu di Lampung. Fokus utama gerakan ini adalah menumbuhkan perubahan sosial yang dimulai dari unit terkecil, yakni keluarga. Direktur Ashoka Asia Tenggara, Nani Zulminarni, menyampaikan hal ini dalam keterangannya di Bandarlampung pada Sabtu (01/11).

Inisiatif ini muncul sebagai respons terhadap kondisi sosial yang mengkhawatirkan di Lampung. Data menunjukkan akses sanitasi aman baru mencapai 2,3 persen, serta 120 kasus kekerasan terhadap perempuan dan 432 pengajuan dispensasi kawin sepanjang tahun 2024. Angka-angka ini mengindikasikan adanya kerapuhan fondasi sosial di tingkat keluarga dan komunitas.

Untuk mengatasi tantangan tersebut, para penggerak lintas komunitas di Lampung berkolaborasi. Mereka berupaya menyalakan harapan dengan menumbuhkan semangat perubahan sosial yang berakar pada nilai lokal, solidaritas lintas iman, dan spiritualitas. Ashoka percaya bahwa perubahan sejati harus dimulai dari rumah, tempat empati dan kolaborasi tumbuh.

Krisis Sosial di Lampung: Mengapa Keluarga Menjadi Kunci?

Provinsi Lampung saat ini menghadapi berbagai tantangan sosial yang signifikan. Nani Zulminarni menyoroti bahwa akses sanitasi aman di wilayah ini masih sangat rendah, hanya mencapai 2,3 persen. Selain itu, sepanjang tahun 2024, tercatat ada 120 kasus kekerasan terhadap perempuan dan 432 pengajuan dispensasi kawin. Data ini menunjukkan adanya fondasi sosial yang rapuh di tingkat keluarga dan komunitas.

Kondisi ini mendorong Ashoka untuk melihat keluarga sebagai titik awal perubahan. Menurut Nani, situasi tersebut menandakan perlunya intervensi yang berakar kuat dari unit sosial terkecil. "Hal ini menandakan rapuhnya fondasi sosial di tingkat keluarga dan komunitas," ujar Nani Zulminarni, menekankan urgensi pendekatan ini.

Dalam menghadapi krisis ini, kolaborasi lintas komunitas dan lintas iman menjadi sangat penting. Nani menjelaskan bahwa perubahan tidak dapat berdiri di atas satu kelompok saja, melainkan membutuhkan sinergi dari berbagai pihak. Lampung memiliki potensi besar dengan energi luar biasa, solidaritas lintas iman, peran aktif perempuan, dan semangat komunitas yang kuat.

Ashoka meyakini bahwa perubahan sosial sejati bermula dari lingkaran terdekat manusia, yaitu keluarga. Nani Zulminarni menegaskan, “Perubahan sejati dimulai dari rumah. Ketika keluarga menjadi ruang yang menumbuhkan empati, kolaborasi, dan keberanian untuk bertindak, masyarakat pun tumbuh dengan kepemimpinan yang berakar kuat.” Pendekatan ini diharapkan dapat menciptakan dampak yang berkelanjutan.

Membangun Ekosistem Pembaharu dari Dalam Komunitas

Ashoka Indonesia saat ini sedang giat membangun ekosistem pembaharu atau changemaker ecosystem di empat kota dinamis di Indonesia. Kota-kota tersebut adalah Bandung, Pontianak, Surabaya, dan Lampung, yang dipilih sebagai simpul gerakan sosial baru di Asia Tenggara. Inisiatif ini bertujuan untuk memperkuat kapasitas komunitas lokal dalam mendorong perubahan positif.

Lampung dipilih karena memiliki karakteristik unik yang mendukung gerakan pembaharu. Nani Zulminarni menyoroti adanya solidaritas lintas iman, peran aktif perempuan, dan semangat komunitas yang kuat di wilayah tersebut. "Semua ini adalah bahan bakar bagi gerakan pembaharu yang berkelanjutan,” tambahnya, menunjukkan optimisme terhadap potensi Lampung.

Pendiri Gerakan Sosial Masyarakat Payungi, Dharma Setyawan, turut memberikan pandangannya mengenai pentingnya gerakan sosial yang tumbuh dari dalam masyarakat. Ia menegaskan bahwa ekosistem perubahan tidak bisa dibentuk dari luar, melainkan harus berakar pada inisiatif lokal. “Ekosistem perubahan tidak bisa dibentuk dari luar. Ia harus tumbuh dari dalam masyarakat, dengan semangat gotong-royong dan keberlanjutan,” kata Dharma.

Dharma Setyawan juga menjelaskan bahwa agen perubahan sejati adalah mereka yang mampu menumbuhkan nilai kemanusiaan. Nilai ini mencakup kesejahteraan material, mental, hingga spiritual. Dengan demikian, gerakan pembaharu yang didorong oleh Ashoka di Lampung tidak hanya fokus pada solusi praktis, tetapi juga pada penguatan nilai-nilai kemanusiaan inti dalam masyarakat.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi