Tahukah Anda? Ditjenpas Sulteng Gandeng 6 Mitra Lokal Perkuat Pembinaan Warga Binaan, Dorong Ekonomi Kreatif

Ditjenpas Sulteng menjalin kemitraan strategis dengan enam mitra lokal di bidang pertanian, perikanan, dan UMKM. Langkah ini perkuat program Pembinaan Warga Binaan dan dorong ekonomi kreatif, bagaimana dampaknya?

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Tahukah Anda? Ditjenpas Sulteng Gandeng 6 Mitra Lokal Perkuat Pembinaan Warga Binaan, Dorong Ekonomi Kreatif
Ditjenpas Sulteng menjalin kemitraan strategis dengan enam mitra lokal di bidang pertanian, perikanan, dan UMKM. Langkah ini perkuat program Pembinaan Warga Binaan dan dorong ekonomi kreatif, bagaimana dampaknya? (AntaraNews)

Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Kanwil Ditjenpas) Sulawesi Tengah mengambil langkah progresif dengan menggandeng enam mitra lokal. Kemitraan ini bertujuan untuk memperkuat program pembinaan kemandirian di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) dan Balai Pemasyarakatan (Bapas) Palu.

Kolaborasi strategis ini mencakup sektor pertanian, perikanan, serta pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di wilayah tersebut. Inisiatif ini menandai pergeseran paradigma bahwa pemasyarakatan tidak lagi berdiri sendiri dalam menjalankan fungsinya.

Kepala Kanwil Ditjenpas Sulteng, Bagus Kurniawan, menyatakan bahwa kerja sama ini akan menumbuhkan ekosistem produktif. Ekosistem tersebut melibatkan lembaga pemasyarakatan, warga binaan, dan masyarakat luas untuk mencapai tujuan bersama.

Sinergi Strategis untuk Kemandirian Ekonomi

Langkah strategis yang diambil Ditjenpas Sulteng merupakan bagian integral dari dukungan terhadap 13 Program Akselerasi Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan. Selain itu, inisiatif ini juga mendukung implementasi Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) yang baru.

Bagus Kurniawan menegaskan bahwa kolaborasi ini menjadi bukti nyata fokus pemasyarakatan. Fokus tersebut tidak hanya pada pembinaan semata, tetapi juga pada pembangunan daya saing ekonomi bagi warga binaan dan masyarakat sekitar. “Pemasyarakatan kini tidak lagi berdiri sendiri. Melalui kerja sama ini, kami ingin menumbuhkan ekosistem produktif antara lembaga, warga binaan, dan masyarakat,” ujarnya.

Program kemitraan ini diharapkan menjadi model kolaborasi berkelanjutan yang efektif. Tujuannya adalah memperkuat ketahanan pangan lokal, mengembangkan UMKM, serta membuka ruang rehabilitasi sosial yang lebih inklusif di seluruh Sulawesi Tengah.

Enam mitra lokal yang terlibat dalam penguatan program Pembinaan Warga Binaan ini adalah:

  • Adit Koi Farm (mitra Lapas Kelas IIA Palu)
  • Dapur Roaku (mitra Lapas Kelas IIA Palu)
  • Kelompok Tani Mosibinti (mitra Bapas Kelas I Palu)
  • Kelompok Tani Madamba (mitra Bapas Kelas I Palu)
  • UMKM Amalia UPT Bulupountu Jaya (produsen bawang goreng, mitra Bapas Kelas I Palu)
  • UMKM Sambal Roa Dapur Keluarga (mitra Bapas Kelas I Palu)

Dampak Nyata Kolaborasi di Lapas dan Bapas

Kepala Lapas Kelas IIA Palu, Makmur, menjelaskan bahwa kerja sama dengan Adit Koi Farm dan Dapur Roaku merupakan langkah awal yang signifikan. Kemitraan ini bertujuan memperkuat pembinaan kemandirian berbasis keterampilan dan pasar yang relevan. “Kami ingin pembinaan di Lapas Palu tidak berhenti di pelatihan. Ada nilai ekonomi nyata, ada produk yang bisa diterima masyarakat,” katanya.

Melalui kemitraan ini, warga binaan diharapkan dapat berlatih dan mengasah kemampuan mereka secara optimal. Hal ini akan memberikan kontribusi nyata dalam menghasilkan produk berkualitas tinggi yang memiliki nilai jual di pasaran. Peningkatan ekonomi kreatif menjadi salah satu target utama dari program ini.

Sementara itu, Kepala Bapas Kelas I Palu, Hasrudin, menekankan pentingnya kemitraan dengan kelompok tani dan UMKM. Menurutnya, ini adalah bentuk implementasi nyata dari pidana pokok berupa pidana pengawasan dan kerja sosial, sebagaimana diatur dalam KUHP baru. “Bapas berperan penting dalam menghubungkan klien pemasyarakatan dengan masyarakat. Lewat kolaborasi ini, mereka bisa bekerja, berdaya, dan kembali diterima tanpa stigma,” jelasnya.

Optimisme Mitra Lokal dan Pemberdayaan Berkelanjutan

Mugiati, pemilik usaha Dapur Roaku, yang mewakili pihak mitra, menyatakan optimismenya terhadap kolaborasi ini. Ia meyakini bahwa kemitraan ini akan memberikan manfaat timbal balik yang positif bagi semua pihak yang terlibat. “Kami melihat banyak potensi dari warga binaan ataupun klien pemasyarakatan. Mereka punya semangat dan keterampilan. Kami ingin jadi bagian dari proses pemberdayaan itu,” ungkap Mugiati.

Kemitraan ini diharapkan tidak hanya memberikan pelatihan, tetapi juga membuka peluang pasar yang lebih luas bagi produk-produk hasil Pembinaan Warga Binaan. Dengan demikian, warga binaan dan klien pemasyarakatan dapat memiliki kesempatan lebih baik untuk reintegrasi sosial dan ekonomi. Program ini juga diharapkan dapat mengurangi stigma negatif terhadap mantan narapidana di masyarakat.

Melalui jalinan kerja sama ini, Ditjenpas Sulteng berharap para warga binaan dan klien bisa berdaya. Mereka diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata dalam menghasilkan produk berkualitas serta meningkatkan ekonomi kreatif daerah. Pemberdayaan ini menjadi kunci untuk menciptakan masyarakat yang lebih inklusif dan produktif.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi