Situs Bongal di Tapanuli Tengah Dihantam Banjir Bandang, Diyakini Titik Awal Perdagangan Islam di Nusantara

Beberapa aset budaya, termasuk Situs Bongal di Tapanuli Tengah, terancam akibat banjir bandang di Sumatera.

Dinny Mutiah
Oleh Dinny Mutiah - Reporter
Situs Bongal di Tapanuli Tengah Dihantam Banjir Bandang, Diyakini Titik Awal Perdagangan Islam di Nusantara
Kementerian Kebudayaan RI dukung tiga film yang tembus seleksi awal Oscar 2026 yakni Sore: Istri Dari Masa Depan, Little Rabels Cinema Club, dan Daly City. (Foto: Dok. Istimewa) (© 2025 Liputan6.com)

Menteri Kebudayaan, Fadli Zon mengungkapkan bahwa bencana Sumatra mengancam berbagai aset kebudayaan di tiga provinsi yang terdampak, yaitu Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.

Salah satu lokasi yang menjadi perhatian adalah Situs Bongal di Tapanuli Tengah.

"Aset-aset kebudayaan kita banyak yang terancam juga, seperti di Situs Bongal itu terendam. Kita lagi ada membantu membangun galeri dan lain-lain, itu terendam dan rusak-rusak. Di sekitarnya itu juga terputus aksesnya," kata Menbud di Jakarta setelah menghadiri diskusi mengenai Pemasangan Chattra Candi Borobudur pada Rabu, 3 Desember 2025.

Banjir bandang ini juga berpengaruh pada rumah beberapa juru pelihara cagar budaya di Aceh dan Sumatera Barat.

"Ada yang hancur dari aset-aset rumahnya," tambah dia.

Saat ini, pihaknya masih melakukan pendataan terhadap kondisi situs budaya lainnya, termasuk kawasan Museum PDRI di Koto Tinggi, Kabupaten Lima Puluh Koto, Sumbar.

"Ada terjadi longsoran-longsoran kecil, tapi museumnya masih aman. Tapi, jalan menuju sana banyak yang putus sehingga belum bisa dilewati," sambung dia.

Sampai saat ini, pihaknya belum melakukan kunjungan ke lokasi bencana karena mengikuti arahan presiden melalui Menteri Sekretaris Negara dan Sekretaris Kabinet, yang menekankan pentingnya menyelamatkan korban bencana terlebih dahulu selama masa tanggap darurat. Oleh karena itu, mereka akan memberdayakan Balai Pelestarian Kebudayaan untuk mendukung upaya tanggap darurat dengan menyediakan makanan.

"Menteri-menteri tidak harus datang ke sana karena itu akan merepotkan protokoler. Akan rebutan helikopter dan lain-lain, kecuali menteri-menteri yang terkait langsung," ujar dia.

Mempelajari Situs Bongal

Banjir Bandang Sumatera Rendam Situs Bongal, Diyakini Sebagai Titik Awal Perdagangan Islam di Nusantara
Kementerian Kebudayaan RI dukung tiga film yang tembus seleksi awal Oscar 2026 yakni Sore: Istri Dari Masa Depan, Little Rabels Cinema Club, dan Daly City. (Foto: Dok. Istimewa) © 2025 Liputan6.com

Mengacu pada informasi dari laman BRIN, Ery Soedewo, arkeolog dari Pusat Riset Arkeologi Lingkungan, Maritim, dan Budaya Keberlanjutan BRIN, percaya bahwa Situs Bongal merupakan indikasi bahwa perdagangan Islam di wilayah Nusantara telah ada jauh sebelum berdirinya Kesultanan Islam Nusantara. Keyakinan ini didasarkan pada penemuan artefak purbakala dan kepingan koin yang ditemukan di lokasi tersebut.

Riset mengenai Situs Bongal dimulai pada tahun 2019 atas permintaan Dinas Pendidikan Kabupaten Tapanuli Tengah, yang kemudian melakukan kunjungan ke lokasi penemuan artefak tersebut. Ery Soedewo menyatakan, "Saya memperkirakan saat itu temuan tersebut bukan dari zaman Kesultanan Islam Nusantara, tapi ini jauh lebih tua," saat peluncuran dan bedah buku berjudul "Perdagangan Maritim Dunia Islam di Pantai Barat Sumatra Abad I--IV H/VII--X M" di BRIN Kawasan Sains dan Teknologi (KST) Sarwono Prawirohardjo, Jakarta, pada Selasa, 12 Agustus 2025.

Setelah penemuan awal, dilakukan ekskavasi sistematis di Situs Bongal. Dalam kurun waktu empat tahun, tim peneliti berhasil membuka 30 kotak gali yang terletak di sisi kiri Sungai Lumut, yang menunjukkan potensi besar dalam penelitian lebih lanjut mengenai sejarah perdagangan di daerah tersebut.

Penemuan Artefak di Bongal

Banjir Bandang Sumatera Rendam Situs Bongal, Diyakini Sebagai Titik Awal Perdagangan Islam di Nusantara
Kementerian Kebudayaan RI dukung tiga film yang tembus seleksi awal Oscar 2026 yakni Sore: Istri Dari Masa Depan, Little Rabels Cinema Club, dan Daly City. (Foto: Dok. Istimewa) © 2025 Liputan6.com

Menurut Ery, hasil dari ekskavasi tersebut sangat mengagumkan. Di dalamnya terdapat ratusan artefak yang berasal dari berbagai belahan dunia, seperti koin Arab-Sasaniyah, dirham dari Umayyah dan Abbasiyah, keramik Changsha yang berasal dari Dinasti Tang, pecahan kaca dari Persia, manik-manik Romawi, perhiasan berbahan batu pirus, hingga papan kapal yang memiliki aksara Palawa. Dia menjelaskan bahwa benda-benda tersebut berasal dari India, Sri Lanka, dan Pakistan. Selain itu, artefak-artefak juga ditemukan dari kawasan Asia Timur, terutama dari China atau Tiongkok. "Dari situ, saya membuka buku-buku artikel terkait kawasan terdekat," ungkapnya.

Dari hasil ekskavasi tersebut, juga ditemukan bukti berupa tulisan yang terukir pada pecahan lambung kapal. "Hasil ekskavasi itu yakni graba-graba bergelasir dari situs-situs di Teluk Persia, seperti Situs Siraf, Alroy, dan Nisapur," terangnya. Berdasarkan penemuan tersebut, ia menyimpulkan bahwa tradisi menulis sudah berlangsung cukup intensif di Situs Bongal. Fakta menarik lainnya adalah lempengan kuningan yang ditemukan mengandung huruf-huruf. Awalnya, pihaknya mengira itu adalah huruf kufi, namun setelah berkonsultasi dengan rekannya di Prancis, ternyata itu adalah huruf Suryani, yang merupakan huruf yang lebih tua daripada huruf Arab. Huruf tersebut, kata Ery, digunakan oleh masyarakat di wilayah yang kini dikenal sebagai Suriah atau Surya, sebelum mereka memeluk agama Islam.

Letak Situs Bongal Strategis

Banjir Bandang Sumatera Rendam Situs Bongal, Diyakini Sebagai Titik Awal Perdagangan Islam di Nusantara
Kementerian Kebudayaan RI dukung tiga film yang tembus seleksi awal Oscar 2026 yakni Sore: Istri Dari Masa Depan, Little Rabels Cinema Club, dan Daly City. (Foto: Dok. Istimewa) © 2025 Liputan6.com

Sebelum penemuan Bongal, catatan tertua mengenai pantai barat Sumatra berasal dari sumber Yunani Kuno yang ditulis pada abad ke-2 M, yang menyebutkan 'Barus' atau 'Fansur' sebagai pusat penghasil kapur barus. Namun, bukti arkeologis yang lebih baru ditemukan di Situs Lobu Tua dan Barus, yang berasal dari abad ke-9 M. "Kami menyebutnya gap tujuh abad," ungkap Ery. Menurutnya, Bongal mengisi sebagian besar kekosongan informasi yang ada. Tim yang dipimpin Ery kemudian melakukan pengujian karbon pada berbagai artefak seperti pala, kemiri, kayu kemudi kapal, dan tali ijuk, yang menunjukkan bahwa artefak tersebut berasal dari abad ke-7 hingga ke-8 M. Bahkan, artefak lain yang ditemukan oleh masyarakat, seperti sisir kayu dan gading gajah, terbukti berasal dari abad ke-4 M. "Ini membuktikan bahwa jurang waktu antara catatan Yunani dan bukti fisik saat ini telah menyempit secara signifikan," jelas Ery.

Ery juga menjelaskan bahwa secara geografis, Bongal memiliki posisi yang sangat strategis, yaitu menghadap langsung ke Samudra Hindia dan terletak di antara jalur Selat Malaka di utara dan Selat Sunda di selatan. Jalur ini berfungsi sebagai penghubung antara Afrika Timur, Timur Tengah, India, dan Sri Lanka dengan Cina serta Asia Tenggara. Dengan posisi yang demikian, Bongal menjadi titik penting dalam perdagangan dan pertukaran budaya di wilayah tersebut.

Rekomendasi