Sanksi Sosial: Artis Terlibat Prostitusi Jangan Diorder Sinetron, Sebut Pelacur

Senin, 7 Januari 2019 13:41 Reporter : Merdeka
Sanksi Sosial: Artis Terlibat Prostitusi Jangan Diorder Sinetron, Sebut Pelacur Ilustrasi PSK. ©2013 Merdeka.com/Shutterstock/djedzura

Merdeka.com - Kasus Prostitusi online artis kembali terbongkar. Kali ini aktris peran VA serta model majalah dewasa AS yang diciduk polisi.

Diharapkan kasus tersebut bisa diusut hingga ke akar, baik mencikari, penjaja seks serta pelanggan dibongkar aparat. Sebab, prostitusi online yang melibatkan kalangan selebritas tak hanya kali ini.

Sebut saja NM yang digerebek polisi dalam kondisi 'siap pakai' di sebuah hotel bilangan Thamrin, Jakarta Pusat. Tak jauh dari kamar hotel tempat NM digerebek, polisi juga menangkap PV. Kemudian AA ditangkap Polres Jakarta Selatan. Sementara di Lampung, polisi menangkap pedangdut HES atas kasus serupa.

VA dan AS sudah meminta maaf secara terbuka di depan awak media usai menjalani pemeriksaan 1x24 jam di Mapolda Jatim.

"Saya meminta maaf atas kegaduhan yang terjadi dan atas opini dan asumsi masyarakat yang sudah terbentuk di media sosial. Saya menyadari perbuatan saya merugikan banyak orang," ujar VA usai diperiksa selama 8 jam di Mapolda Jawa Timur, Minggu (6/7) kemarin.

Psikolog Forensik Reza Indragiri Amriel mengamini dalam hukum Indonesia seorang Pekerja Seks Komersial (PSK) diposisi korban.

"Hukum tidak memposisikan pelacur sebagai pelaku," kata Reza dalam pesan yang diterima Liputan6.com, Senin (7/1).

Lantaran, lanjutnya, seorang pelacur adalah orang yang dieksploitasi dan tak berdaya.

Namun, pengertian tersebut nampaknya tak lagi cocok untuk zaman sekarang. Sebab, saat ini seseorang memutuskan menjadi PSK karena perhitungan untung dan rugi, bukan lagi dieksploitasi pihak lain.

"Si pelacur berkehendak dan memutuskan sendiri untuk menjadi pelacur. Dia adalah pelaku aktif dalam pelacuran," beber Reza.

Bukan isapan jempol terkait pernyataan tersebut. Senin 11 Mei 2015 lalu, Liputan6.com mewawancarai seorang muncikari prostitusi artis, RA. Dia mengakui bahwa dari 200 artis dan foto model yang ada di dalam daftar yang dijajakan, rata-rata mereka mencari 'job' ke RA untuk jasa seks yang ditawarkan.

"Macam-macam, Mas. Ada yang menawarkan langsung ke saya, ada juga yang saya tawarkan ke mereka," kata RA kala itu.

Berkaca dari kasus yang sudah-sudah dan pandangan PSK adalah korban, Reza mengaku ragu aparat akan menjerat pidana PSK artis.

"Alhasil, penangkapan dan pemberitaan seolah menjadi promosi gratis saja," kata Reza.

Lebih jauh Reza mendorong revisi KUHP di DPR patut memuat poin tentang pemidanaan pekerja seks tipe voluntary prostitute.

Adapun, kata Reza, sanksi sosial harus diterapkan kepada para artis yang terjerat prostitusi online.

"Jangan kasih mereka order sinetron (panggung), sebut pelacur, jangan pakai sebutan eufemistik (penghalusan)," tegas Reza.

"Komisi Penyiaran Indonesia perlu buat ketentuan untuk memastikan para pelacur daring tidak muncul di layar kaca. Juga, untuk memastikan bahwa mereka tidak menjadi agen HIV-AIDS maupun penyakit menular seksual lainnya," katanya.

Sumber : Liputan6.com [rhm]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini