Korban Jiwa Dampak El Nino Diprediksi Bertambah, Indonesia Tertinggi Kedua

Laporan Climate Impact Lab memproyeksikan lonjakan kematian akibat panas imbas El Nino hingga Februari 2027. Negara berkembang disebut paling rentan.

Septian Deny
Oleh Septian Deny - Reporter
Korban Jiwa Dampak El Nino Diprediksi Bertambah, Indonesia Tertinggi Kedua
Warga menggembala hewan ternaknya pada sawah yang retak akibat kekeringan di kawasan Weninggalih, Jonggol, Jawa Barat, Selasa, 25 Agustus 2026. (KLY/ Arie Basuki)

Lebih dari 450.000 kematian tambahan diperkirakan terjadi dalam enam bulan ke depan akibat gelombang panas yang dipicu El Nino dengan kekuatan tidak biasa. Proyeksi itu disampaikan Climate Impact Lab dari University of Chicago, dikutip dari Al Jazeera, Sabtu (26/9).

Perhitungan mencakup periode hingga Februari 2027 dan membandingkan risiko kematian terkait panas selama El Nino dengan proyeksi kematian pada tahun normal.

Para peneliti memperkirakan suhu daratan global naik sekitar 1,2 derajat Celsius, sementara hari-hari dengan suhu sangat panas terjadi 44 persen lebih sering dibanding tahun rata-rata. Negara-negara berkembang, terutama kawasan Sahel di Afrika, diperkirakan terdampak paling berat.

Di Sahel, kematian tambahan diproyeksikan mencapai sekitar 66.800 kasus. Nigeria menjadi negara dengan lonjakan tertinggi, sekitar 31.400 kematian tambahan, diikuti Indonesia 19.300 dan Sudan 17.600.

Di kawasan lain, Filipina, Vietnam, Thailand, dan Kamboja secara gabungan diperkirakan mengalami sekitar 19.400 kematian tambahan. India diproyeksikan mencatat 15.800 dan Brasil 13.300.

Michael Greenstone, salah satu pendiri Climate Impact Lab sekaligus penulis laporan, menekankan bahwa panas menjadi ancaman terbesar di wilayah yang sejak awal sudah bersuhu tinggi dan berpendapatan relatif rendah.

"Jika Anda sudah berada di tempat yang panas, tambahan beberapa derajat akan jauh lebih berbahaya," ujarnya.

Menurut Greenstone, wilayah yang lebih kaya cenderung memiliki akses yang lebih baik terhadap pendingin ruangan, pasokan air yang stabil, serta layanan kesehatan. Ia juga menyebut risiko akibat panas kemungkinan bertahan lebih lama dibanding fenomena El Nino itu sendiri, dengan dampak yang dapat berlanjut hingga musim panas tahun depan.

Kesiapan Menghadapi Panas Ekstrem Imbas El Nino

Abhiyant Tiwari, pakar panas dari NRDC India, menilai proyeksi tersebut seharusnya memicu tindakan lebih lanjut untuk melindungi masyarakat.

Ia menyebut pendanaan dan pelaksanaan kebijakan masih menjadi titik lemah, termasuk di India yang sudah memiliki rencana penanganan panas yang dinilai baik di atas kertas.

"Ukuran sebenarnya dari kesiapan kita bukan berapa banyak peringatan panas yang dikeluarkan, tetapi seberapa efektif kita melindungi masyarakat dan mengurangi kematian yang sebenarnya dapat dicegah," katanya.

El Nino tahun ini mulai berkembang pada Juni dan diperkirakan menjadi salah satu yang terkuat. Para pakar menilai pola cuaca alami yang bersifat siklik itu kini kian kuat akibat perubahan iklim.

Pada awal September, badan cuaca Perserikatan Bangsa-Bangsa melaporkan probabilitas 100 persen El Nino akan berlanjut hingga Februari 2027.

Namun, para peneliti memperkirakan bahaya yang ditimbulkannya dapat bertahan lebih lama, bahkan hingga pertengahan 2027.

Rekomendasi