Saat Mama Papua Bertaruh Nyawa Selamatkan Pengungsi Wamena

Senin, 30 September 2019 11:43 Reporter : Wisnoe Moerti
Saat Mama Papua Bertaruh Nyawa Selamatkan Pengungsi Wamena Kerusuhan di Wamena. ©2019 Merdeka.com

Merdeka.com - Nani Susongki sudah 17 tahun hidup di Kota Wamena, Papua. Selama itu pula perempuan asal Kecamatan Tegalsiwalan, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur hidup damai berdampingan dengan warga asli Papua.

Tapi kemarin, Nani harus mengungsi dari Kota Wamena. Pasca-demonstrasi yang diwarnai aksi amuk massa di ibu kota Kabupaten Jayawijaya, Papua pada 23 September 2019.

Wanita paruh baya ini berbagi cerita. Seperti dikutip dari jubi.co.id. Dia selamat dari aksi kerusuhan di Kota Wamena berkat pertolongan Mama Manu. Mama Manu adalah tetangganya. Letak rumah Mama Manu tepat berada di belakang rumah Nani.

"Kami sembunyi di Honai (rumah) Mama Manu. Kami disembunyikan di situ," kata Nani Susongki di Aula Lanud Jayapura yang dijadikan lokasi pengungsian sementara, Sabtu (28/9).

Hari itu tak bisa dilupakan. Sebelum aksi amuk massa terjadi di pusat Kota Wamena, sekitar pukul 07.30 Waktu Indonesia Timur (WIT), ponselnya berbunyi. Anak perempuannya yang bekerja di salah satu gerai ponsel mengingatkan Nani agar tidak keluar rumah.

Tak berapa lama, informasi menyebar. Daerah Homhom sudah terbakar. Situasi di dalam Kota Wamena bergejolak. Nani bersama beberapa anggota keluarganya meninggalkan rumah. Menuju ke bagian belakang rumah. Dalam perjalanan, dia bertemu tiga orang yang menenteng senjata tajam.

"Kami mundur pelan-pelan. Saya pikir bagian dari orang yang rusuh, ternyata mereka menolong kami. Mereka suruh kami masuk ke rumah Mama Manu. Hampir satu jam kami bersembunyi tak bersuara, bersama beberapa warga lain," ujar wanita yang sehari-hari bekerja sebagai tukang pijat itu.

Di rumah itu, Nani, keluarganya dan beberapa warga lain bersembunyi. Tiba-tiba sekelompok orang bersenjata tajam mendatangi rumah Mama Manu. Pemilik rumah berupaya melindungi warga yang berada dalam rumahnya.

Mama Manu juga meminta massa tidak membakar mobil yang sehari-harinya dijadikan mata pencaharian suami Nani.

"Mama Manu bilang tolong jangan dibakar. Itu saya punya anak. Jangan bakar mobil nanti merembet ke rumah saya. Akhirnya massa meninggalkan lokasi. Kami sendiri sudah lemas, seperti tidak bisa berdiri lagi," ucapnya.

Nani tidak pernah menyangka Mama Manu mempertaruhkan nyawanya, berhadapan dengan sekelompok orang bersenjata tajam untuk melindungi warga yang berlindung dalam rumahnya.

"Penduduk asli di sana, kalau kita baik sama mereka, pasti mereka juga baik sama kita," katanya.

Setelah bersembunyi hampir satu jam, Nani Susongki dan beberapa warga yang berlindung di rumah Mama Manu dievakuasi polisi ke Polres Jayawijaya. Setelah tiga hari di Polres, Nani bersama keluarganya memilih mengungsi ke Jayapura, dan berencana kembali ke kampung halaman.

"Mobilnya dan rumah kami tidak dibakar, akan tetapi hancur. Kami juga berterimakasih kepada AURI di Jayapura yang telah menampung kami dan memenuhi kebutuhan kami selama di sini," ucapnya.

Cerita lain datang dari Abdullah Sihanudin (40). Sejak 2014 dia merantau ke Wamena. Sehari-hari, dia bekerja sebagai tukang ojek dan agen tiket pesawat. Saat demonstrasi dan kerusuhan terjadi, istrinya terlebih dahulu telah menyelamatkan diri bersama warga lain.

Ketika Abdullah bersama anak perempuannya yang masih balita akan menyelamatkan diri, ada yang bertanya kepada akan bersembunyi di mana. Dia menjawab akan bersembunyi sementara waktu di honai hingga ada polisi yang menolongnya.

Abdullah bersembunyi di rumah salah satu warga asli Papua. Biasa disapa Mama Lani. Dia bersembunyi sejak pukul sembilan hingga 12 siang.

"Seorang ibu di belakang rumah saya yang menyelamatkan saya. Anak saya langsung dirangkul dan Mama Lani berteriak jangan dibunuh, pak de ini yang setiap hari membantu saya," kata Abdullah.

Ketika demonstrasi berujung rusuh pecah di Wamena, sejumlah bangunan dibakar, termasuk kios milik istri Abdullah.

"Ketika itu sudah ada 10 orang yang pesan tiket pesawat, tapi karena kejadian itu akhirnya tiket semua hangus. Hingga kini uang orang yang sudah pesan tiket saya belum bisa ganti. Totalnya Rp3,5 juta," ucapnya.

Seperti Nani Susongki, Abullah juga berencana kembali ke kampung halamannya di Probolinggo. Dia ketakutan. Apalagi hingga kini sebagian besar warga Wamena mengungsi.

"Sudah tiga hari kami di Jayapura. Di Jayapura saya tidak punya keluarga. Saya ingin pulang secepatnya ke kampung halaman," harapnya. [noe]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini