Balai Pelayanan Pelindungan dan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) melaporkan capaian signifikan remitansi dari Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal NTT. Sepanjang tahun 2025, total pengiriman uang dari luar negeri ini mencapai angka Rp78,46 miliar. Data ini menegaskan peran krusial para pekerja migran dalam mendukung perekonomian daerah dan nasional.
Capaian tersebut berasal dari 19.574 pengirim, menunjukkan tingginya kontribusi individu PMI NTT. Kepala BP3MI NTT, Suratmi Hamida, menyampaikan informasi ini di Kupang, NTT, pada hari Kamis. Angka remitansi ini menjadi indikator penting terhadap kesejahteraan keluarga PMI dan stabilitas ekonomi makro.
Pengiriman uang ini tidak hanya memenuhi kebutuhan dasar keluarga di kampung halaman, tetapi juga menjadi salah satu sumber devisa negara. Remitansi ini berperan vital dalam menggerakkan roda ekonomi lokal melalui konsumsi dan investasi. Ini juga membantu memperkuat nilai tukar rupiah di pasar global.
Advertisement
Advertisement
Data remitansi yang dikumpulkan oleh BP3MI NTT bersumber dari berbagai lembaga keuangan terkemuka. BNI Cabang Kupang menyumbang Rp9,91 miliar dari 2.551 pengirim, sementara BNI Cabang Maumere mencatat Rp10,43 miliar dari 3.923 pengirim. Ini menunjukkan jangkauan luas pengiriman uang di berbagai wilayah NTT.
Kontribusi terbesar datang dari Kantor Pos Cabang Kupang, yang berhasil membukukan Rp58,11 miliar dari 13.100 pengirim. Angka ini menyoroti peran strategis Kantor Pos sebagai kanal utama bagi PMI untuk mengirimkan uang kepada keluarga mereka. Keberadaan berbagai saluran pengiriman mempermudah akses bagi para pekerja migran.
Total akumulasi dari ketiga sumber tersebut mencapai Rp78,46 miliar, menegaskan skala ekonomi dari aktivitas remitansi ini. Sebaran data ini memberikan gambaran komprehensif mengenai aliran dana yang masuk ke NTT. Hal ini juga membantu pemerintah dalam merumuskan kebijakan yang lebih tepat sasaran.
Advertisement
Advertisement
Sektor pekerjaan informal masih menjadi penyumbang terbesar dalam aliran remitansi PMI NTT. Penempatan pekerja migran dari NTT, khususnya, lebih banyak berada pada sektor informal, seperti pekerjaan rumah tangga atau domestik. Kondisi ini mencerminkan pola migrasi tenaga kerja dari wilayah tersebut.
Malaysia tercatat sebagai negara penempatan dengan jumlah pengirim remitansi terbesar, karena mayoritas PMI NTT bekerja di negara tersebut. Kedekatan geografis dan peluang kerja yang tersedia menjadi faktor utama pemilihan Malaysia sebagai destinasi kerja.
Fokus pada sektor informal dan negara tertentu menunjukkan karakteristik unik dari migrasi PMI asal NTT. Pemahaman akan pola ini penting untuk upaya perlindungan dan pemberdayaan pekerja migran. Pemerintah terus berupaya memastikan hak-hak PMI terlindungi di negara penempatan.
Advertisement
Advertisement
Suratmi Hamida menegaskan bahwa remitansi memiliki manfaat yang sangat besar, baik bagi keluarga PMI maupun negara. Bagi keluarga, dana ini membantu pemenuhan kebutuhan pokok sehari-hari, biaya pendidikan anak, dan akses layanan kesehatan. Remitansi juga sering digunakan untuk perbaikan rumah serta sebagai modal usaha bagi PMI purna.
Secara nasional, remitansi menjadi devisa penting yang memperkuat nilai tukar rupiah. Aliran dana ini juga menggerakkan ekonomi lokal melalui konsumsi rumah tangga dan dukungan terhadap Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal. Ini menjadikan remitansi sebagai salah satu pilar utama ketahanan ekonomi nasional.
“Bagi keluarga, remitansi membantu pemenuhan kebutuhan pokok, pendidikan, kesehatan, perbaikan rumah, serta modal usaha bila sudah kembali ke daerah. Sementara bagi negara, remitansi menjadi devisa penting memperkuat nilai tukar rupiah, menggerakkan ekonomi lokal melalui konsumsi, mendukung UMKM lokal, serta menjadi salah satu pilar utama ketahanan ekonomi nasional,” ujar Suratmi Hamida. Pernyataan ini menggarisbawahi dampak ganda remitansi.
Advertisement
Advertisement
BP3MI NTT menekankan pentingnya literasi keuangan untuk meningkatkan pemahaman tentang pengelolaan uang yang bijak. Baik pekerja migran maupun keluarganya di daerah asal perlu memiliki bekal pengetahuan ini. Literasi keuangan membantu PMI merencanakan masa depan ekonomi mereka dengan lebih baik.
Literasi keuangan menjadi materi bekal yang senantiasa diberikan dalam sosialisasi dan Orientasi Pra-Pemberangkatan (OPP). Tujuannya adalah agar para pekerja migran mampu mengelola uang dan memiliki perencanaan ekonomi yang matang. Ini adalah langkah proaktif untuk mencegah masalah keuangan di kemudian hari.
Sepanjang tahun 2025, BP3MI NTT juga aktif melaksanakan program pemberdayaan ekonomi bagi PMI purna dan keluarga PMI. Program-program ini meliputi pelatihan tenun dan standarisasi produk usaha tenun, serta literasi keuangan digital untuk calon pekerja migran. Ada pula bimbingan teknik pemberdayaan ekonomi bagi perempuan dan milenial, serta kegiatan sejenis lainnya.
Advertisement
Sumber: AntaraNews