Terseret Kasus Penyadapan Prabowo, Listyo Sigit Dicopot dari Dewan Pembina KSPSI

KSPSI mengambil keputusan soal posisi Listyo Sigit Prabowo setelah namanya terseret dugaan penyadapan Prabowo.

Ady Anugrahadi
Oleh Ady Anugrahadi- Reporter
Terseret Kasus Penyadapan Prabowo, Listyo Sigit Dicopot dari Dewan Pembina KSPSI
Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Jenderal Listyo Sigit Prabowo bertemu Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta. (Dok. Instagram @sekretariat.kabinet)

Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) mencopot Listyo Sigit Prabowo dari jabatan Ketua Dewan Penasihat menyusul munculnya dugaan penyadapan terhadap Presiden Prabowo Subianto. Langkah ini diputuskan agar polemik yang melibatkan tokoh publik tidak menimbulkan dampak terhadap organisasi.

Presiden KSPSI Andi Gani Nena Wea menyebut keputusan tersebut diambil melalui rapat pimpinan guna menjaga fokus perjuangan pekerja.

"Beliau diberhentikan dari Ketua Dewan Penasihat KSPSI. Karena hubungan kami dengan beliau adalah hubungan dalam rangka perjuangan kepentingan kaum pekerja. Tapi ketika ada sesuatu yang di luar dugaan kami, maka kami bersepakat untuk mengakhiri posisi beliau sebagai dewan penasihat," kata Andi Gani dalam keterangannya, Sabtu (7/11/2026).

Ia mengakui peristiwa ini menjadi pelajaran dalam membangun relasi dengan figur publik di luar organisasi.

"Menjadi pelajaran buat kami, nanti ke depan jangan terlalu banyak berhubungan dengan tokoh-tokoh publik. Bingung juga nanti kita kalau ada masalah, terbawa-bawa organisasi," ujarnya.

Di tengah polemik tersebut, Andi menolak gerakan buruh dikaitkan dengan dugaan makar dan menegaskan aktivitas kelompok di luar Koalisi Besar Perjuangan Buruh Indonesia bukan menjadi tanggung jawab koalisi.

"Tentu tidak menjadi tanggung jawab Koalisi Besar, karena saya yakin teman-teman yang bergabung dalam Koalisi Besar Perjuangan Buruh Indonesia sudah sangat dewasa," tegasnya.

Menurut Andi, KSPSI selama ini memperjuangkan kepentingan pekerja melalui diskusi, audiensi, lobi dengan DPR, hingga aksi untuk mengawal komitmen pemerintah dan parlemen. Ia menyayangkan gerakan buruh diseret ke isu makar.

"Tentulah kami semua bersedih sekali sebagai gerakan buruh secara umum, kok dikait-kaitkan dengan soal urusan makar? Ini kan menjadi sangat-sangat luar biasa sekali," katanya.

Pengganti Listyo Sigit Prabowo, KSPSI Tunggu Kongres

Andi mengaku terkejut ketika beredar informasi mengenai rencana aksi buruh pada 20 Oktober yang kemudian dikaitkan dengan dugaan makar. Ia menyebut sejumlah pimpinan koalisi saat itu justru sedang berada di Jombang.

"Kami sedang di Jombang, tiba-tiba seorang ahli, profesor menyampaikan 20 ada rencana, lalu tiba-tiba Gibran hadir, kaget. Padahal sebagian besar di sini pada saat pilpres yang lalu secara sangat jelas tidak berada di pihak mereka. Jadi itu hal yang sangat-sangat mengagetkan buat kami semua," ungkapnya.

Ia kembali menegaskan bahwa gerakan buruh di luar koalisi memiliki tanggung jawab masing-masing dan tidak berkaitan dengan organisasi yang dipimpinnya.

"Kalaupun ada gerakan buruh lain, ya itu urusan masing-masing pihak. Tidak ada urusan dengan Koalisi Besar," tandasnya.

Terkait pengganti Listyo Sigit Prabowo sebagai Ketua Dewan Penasihat, Andi memastikan belum ada pembahasan di internal KSPSI. Organisasi memprioritaskan pelaksanaan kongres sebelum menentukan nama.

"Kami belum membahas sama sekali soal pengganti beliau atau siapa yang menjadi calon. Belum ada sama sekali," ujarnya.

Rekomendasi