Viral di media sosial (medsos) memperlihatkan atlet pencak silat asal Kabupaten Blora mengalami kejang setelah terkena benturan kepala saat bertanding melawan atlet asal Surakarta dalam Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Tengah 2026.
Kabar yang diunggah dalam akun instagram @beritasemaranghariini menyebut atlet asal Blora bernama Kukuh terjatuh setelah menerima teknik bantingan dari lawannya. Akibat kejadian tersebut bagian belakang kepalanya membentur matras hingga mengalami kejang-kejang.
Kejadian tersebut kemudian memicu perhatian karena atlet dalam kondisi tergeletak justru harus menunggu hitungan dari wasit.
Pihak KONI Jateng akan mengevaluasi SOP pertandingan dan meningkatkan dukungan medis, termasuk jumlah ambulans hingga tenaga medis.
Sekretaris Umum KONI Jateng, Budi Santoso mengatakan bahwa setiap cabang olahraga memiliki risiko yang harus diantisipasi. Sehingga keselamatan atlet perlu menjadi prioritas.
"Pertama, kami sampaikan untuk peningkatan kualitas SOP yang memberi ruang untuk kepentingan keselamatan atlet lebih diutamakan," kata Budi di gedung Pemprov Jateng, Kamis (29/10).
Advertisement
Kondisi Atlet
Terkait kondisi atlet yang terjatuh akibat bantingan, hingga saat ini kondisi Kukuh kini berangsur membaik setelah mendapatkan perawatan di rumah sakit.
"Kondisinya sekarang semakin baik. Dirawat di RS Primaya, mudah-mudahan dalam waktu dekat bisa segera pulang dan beraktivitas kembali," ujar dia.
KONI akan mengusulkan perubahan aturan kepada Pengurus Besar (PB) Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI).Usulan tersebut berkaitan dengan langkah wasit ketika terjadi benturan fatal yang menyebabkan atlet terjatuh dan membutuhkan penanganan medis segera.
Dalam kondisi seperti itu, wasit diharapkan dapat langsung menghentikan pertandingan dan memanggil tim medis tanpa harus menuntaskan hitungan terlebih dahulu.
"Insiden ini menjadi perhatian dari silat yang akan diusulkan ke PB, sudah ada kelonggaran, yaitu saat ada atlet jatuh dalam kondisi kejang harus segera ditolong atau diberi tindakan," ujar dia.
Ketua Umum KONI Kota Semarang, Arnaz Agung Andrarasmara menilai, insiden tersebut menjadi momentum untuk mengevaluasi pelaksanaan pertandingan, terutama dalam aspek keselamatan atlet.
Evaluasi, menurut dia, perlu mencakup peran wasit yang memimpin pertandingan, ofisial di sudut arena, hingga kesiapsiagaan tim medis.
Wasit dinilai memiliki peran penting dalam menentukan kapan pertandingan harus dihentikan demi mencegah risiko cedera yang lebih serius.
"Wasit adalah penguasa penuh di lapangan yang bisa menghentikan atau tidak menghentikan pertandingan. Ke depan, wasit-wasit harus lebih mengedepankan safety first agar atlet bisa tetap aman," tutupnya.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9386433/original/037296500_1793347763-Atlet_silat_Blora_kejang-kejang_di_Porprov_Jateng.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9386667/original/044675000_1793356033-IMG_1393.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9386713/original/026868500_1793358336-Bayi_Nakla_saat_menjalani_perawatan_di_RSUD_Sulthan_Dg_Radja_Bulukumba..jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9386709/original/056306000_1793357777-IMG-20261029-WA0021.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9386700/original/075720600_1793357369-Screenshot_20261029-121503_WhatsApp.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9386695/original/021387700_1793357130-WhatsApp_Image_2026-10-29_at_16.46.21.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9386591/original/087901500_1793350892-IMG_3273.jpg)