Dwi Bagus Pembunuh Istri dan Anak Bekerja di Proyek Asing, Gaji Rp 9 Juta Sehari

Fakta mengenai latar belakang pekerjaan Dwi Bagus tersebut diungkap kepolisian.

Erwin yohanes
Oleh Erwin yohanes- Reporter
Dwi Bagus Pembunuh Istri dan Anak Bekerja di Proyek Asing, Gaji Rp 9 Juta Sehari
Penampakan Dwi Bagus pembunuh istri dan anak di Madiun. (merdeka.com/erwin yohanes).

Tersangka pembunuhan ibu dan anak di Kota Madiun, Dwi Bagus Martono (40), ternyata memiliki profesi dengan bayaran mencapai Rp 9 juta sehari.

Pria yang diduga menghabisi nyawa istri siri dan anak tirinya itu bekerja sebagai tenaga ahli di bidang manufaktur yang jasanya banyak digunakan perusahaan asing.

Fakta mengenai latar belakang pekerjaan Dwi Bagus tersebut diungkap Kasubdit III Jatanras Ditreskrimum Polda Jawa Timur, AKBP Arbaridi Jumhur, Kamis (29/10).

Penampakan Dwi Bagus pembunuh istri dan anak di Madiun. (merdeka.com/erwin yohanes).
Penampakan Dwi Bagus pembunuh istri dan anak di Madiun. (merdeka.com/erwin yohanes).

Menurut Jumhur, tersangka bukan pekerja biasa. Ia memiliki keterampilan khusus yang dibutuhkan dalam pengerjaan proyek industri berskala besar, terutama sektor eksplorasi minyak dan gas bumi.

Dwi Bagus kerap dilibatkan dalam pekerjaan pembangunan anjungan minyak lepas pantai, pengeboran bawah laut, hingga penelitian kondisi tanah sebelum dilakukan kegiatan eksplorasi.

"Proyek-proyek besar perusahaan asing yang mau bikin anjungan minyak, mau bikin penelitian kondisi tanah, butuh kemampuan dia," ungkap Jumhur.

Keahlian tersebut membuat Dwi Bagus memperoleh bayaran tinggi setiap kali mendapatkan kontrak dari perusahaan luar negeri. Nilainya bahkan mencapai jutaan rupiah hanya untuk satu hari kerja.

"Dia kalau dikontrak itu per hari aja bisa Rp 9 juta," lanjut dia.

Jumhur menjelaskan, masa kontrak yang dijalani tersangka bisa berlangsung hingga tiga bulan. Namun, Dwi Bagus tidak bekerja secara permanen pada satu perusahaan karena sistem pekerjaannya bergantung pada kebutuhan proyek.

Dengan pendapatan sebesar itu, kondisi ekonomi tersangka dinilai cukup mapan. Polisi juga mengungkap bahwa Dwi Bagus mempunyai latar belakang pendidikan yang baik.

Ia diketahui menempuh pendidikan tinggi pada jurusan manufaktur di salah satu perguruan tinggi ternama di Indonesia.

Kemampuan akademis tersebut dinilai menjadi salah satu faktor yang menunjang kariernya sebagai tenaga profesional dalam proyek-proyek perusahaan asing.

"Pintar juga lah dulu, jurusan dia tuh jarang kali ya, manufaktur itu," ucap Jumhur.

Selain dikenal cerdas, Dwi Bagus disebut memiliki kepribadian pendiam dan gemar belajar.

Jumhur menilai tersangka merupakan pribadi yang mempunyai banyak cara ketika menghadapi suatu persoalan. Hal itu terlihat dari dugaan upayanya menghilangkan jejak pembunuhan terhadap kedua korban.

"Menghilangkan jejak aja sampai harus kayak gitu," pungkas Jumhur.

Diketahui, Dwi Bagus Martono ditangkap polisi pada Minggu, 25 Oktober 2026, setelah penyelidikan kasus hilangnya Dini Hardiyanti (30) bersama anaknya, AGF (4), mengarah pada dugaan pembunuhan.

Dini merupakan istri siri tersangka, sedangkan AGF adalah anak korban dari hubungan sebelumnya.

Keduanya dilaporkan menghilang sejak 20 September 2026, setelah sebelumnya berencana merayakan ulang tahun AGF dengan berwisata ke Telaga Sarangan, Kabupaten Magetan.

Hasil penyelidikan mengungkap bahwa Dini diduga dibunuh di sebuah hotel di Kota Madiun. Sementara itu, anaknya diduga dihabisi beberapa jam kemudian di dalam kendaraan.

Untuk menghilangkan jejak, tersangka diduga membakar jasad kedua korban menggunakan tungku buatan, menghancurkan sisa pembakaran dengan mesin, lalu membakarnya kembali sebelum membuang sisa material ke sungai.

Dwi Bagus kini menjalani proses hukum di Ditreskrimum Polda Jawa Timur atas dugaan pembunuhan berencana terhadap kedua korban.

 

Rekomendasi