Pemerintah Provinsi DKI Jakarta membutuhkan Rp 5,67 triliun untuk membiayai elektrifikasi armada Transjakarta. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyebut skema pendanaan ini menjadi salah satu kerja sama yang paling berat untuk direalisasikan.
Pernyataan itu disampaikan dalam penandatanganan kerja sama antara BUMD, BUMN, dan perangkat daerah di Balai Agung, Balai Kota Jakarta, Senin (12/10/2026). "Dari tadi yang ditandatangani, menurut saya yang paling berat untuk diwujudkan yaitu pembiayaan untuk elektrifikasi armada Transjakarta, Rp 5,67 triliun," ujar Pramono.
Ia mengaku telah membicarakan besarnya kebutuhan tersebut dengan Ketua DPRD DKI Jakarta Suhud Alynudin dan Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Basri Baco. "Tadi saya bisik-bisik dengan Pak Ketua, bisik-bisik dengan Pak Basri Baco, angkanya besar banget," katanya. Saat ini, jumlah armada Transjakarta tercatat lebih dari 3.800 bus, dengan sekitar 500 unit bus listrik yang sudah beroperasi.
Advertisement
Target Bus Lebih Hijau Lewat Listrik, Hibrida, dan Hidrogen
Pramono berharap elektrifikasi mendorong adopsi teknologi yang lebih ramah lingkungan pada hampir seluruh bus di Jakarta, baik melalui kendaraan listrik, hibrida, maupun hidrogen.
"Kalau itu sudah bisa diwujudkan, sebenarnya hampir 100 persen bus kita itu bus elektrik, hybrid, dan hidrogen. Karena sebentar lagi akan ada bus hidrogen dan juga hybrid," ucap Pramono.
Meski demikian, ia menyoroti efektivitas elektrifikasi kendaraan dalam menekan polusi udara. Upaya itu, menurutnya, perlu dibarengi dengan penanganan sumber emisi lain, termasuk pembangkit listrik dan industri yang masih menggunakan batu bara.