Sebanyak 130 nelayan dari Pulau Sebesi, Lampung Selatan, ikut membantu pencarian lima jurnalis dan tiga kru speedboat yang hilang kontak di perairan Selat Sunda. Para nelayan diminta memantau keberadaan rombongan saat menjalankan aktivitas melaut.
Kepala Desa Tejang, Pulau Sebesi, Syamsiar mengatakan pemerintah desa langsung menginformasikan kejadian tersebut kepada kelompok-kelompok nelayan setelah menerima kabar hilangnya kontak rombongan yang tengah menuju Gunung Anak Krakatau.
Desa Tejang memiliki 13 kelompok nelayan dengan total sekitar 130 anggota. Mereka diminta segera melapor jika melihat speedboat yang dicari atau menemukan tanda-tanda keberadaan rombongan.
"Kami sudah share ke grup-grup kelompok nelayan dan juga menginformasikan kepada ketua RT serta kepala dusun. Kalau saat melaut melihat keberadaan speedboat tersebut atau menemukan sesuatu yang mencurigakan, diminta segera melapor," kata Syamsiar kepada Liputan6.com, Kamis (10/9/2026).
Menurut Syamsiar, para nelayan tetap menjalankan aktivitas mencari ikan sembari membantu proses pencarian.
"Setiap nelayan yang pergi melaut tetap kami imbau untuk ikut memantau. Sambil mencari ikan, mereka juga membantu tim SAR mencari keberadaan speedboat itu," ujarnya.
Advertisement
Titik Sinyal Dicek, Hasilnya Nihil
Selain mengerahkan nelayan, pemerintah Desa Tejang sempat menindaklanjuti informasi mengenai titik koordinat sinyal telepon seluler yang terdeteksi di sekitar Pulau Sebesi.
Syamsiar mengatakan informasi tersebut diterima dari Bhabinkamtibmas. Aparat desa kemudian melakukan pengecekan di lokasi yang disebut berada sekitar 200 meter dari bibir pantai.
"Memang kemarin kami diinformasikan oleh Bhabinkamtibmas karena terakhir titik koordinat itu ada di Pulau Sebesi. Setelah kami cek sesuai titik koordinat yang dikirim, hasilnya masih nihil," katanya.
"Titiknya sekitar 200 meter dari bibir pantai. Kami langsung mengarahkan aparat desa untuk melakukan pengecekan, tapi sampai saat ini belum ditemukan keberadaan mereka maupun speedboat yang dicari," lanjut Syamsiar.
Advertisement
Ombak Besar, Nelayan Hindari Arah Krakatau
Pencarian dilakukan di tengah kondisi laut yang disebut kurang bersahabat. Syamsiar mengatakan ombak di jalur menuju Gunung Anak Krakatau cukup besar, sementara angin juga bertiup kencang.
"Kalau arah menuju Krakatau memang cuaca lagi tidak bagus. Ombaknya agak besar dan anginnya juga cukup kencang. Nelayan sekarang mencari ikan dengan mengambil arah lain," terangnya.
Pulau Sebesi merupakan salah satu wilayah yang berada dekat dengan Gunung Anak Krakatau. Dari Desa Tejang, perjalanan menuju kawasan Krakatau menggunakan kapal nelayan membutuhkan waktu sekitar tiga hingga empat jam.
Gunung Anak Krakatau kembali mengalami erupsi pada Kamis pagi. Meski demikian, Syamsiar mengatakan dampak abu vulkanik di Pulau Sebesi masih relatif aman.
"Kalau untuk debu vulkanik, Kepulauan Sebesi bisa dikatakan masih aman. Ada dampaknya, tapi tidak separah di Kalianda dan daerah lainnya," ujarnya.
Hingga hari ketiga pencarian, Tim SAR Gabungan dari Lampung dan Banten masih melakukan penyisiran untuk menemukan lima jurnalis dan tiga kru speedboat yang hilang kontak di perairan Selat Sunda.
Para nelayan Pulau Sebesi juga terus diminta membantu memantau perairan sekitar Gunung Anak Krakatau sambil menjalankan aktivitas mereka di laut.