Anak Harimau Masuk Sumur Warga di Musi Rawas Utara

Penemuan ini tengah ditangani Balai Konseevasi Sumber Daya Alam (BKSDA) setempat.

irwanto
Oleh irwanto - Reporter
Anak Harimau Masuk Sumur Warga di Musi Rawas Utara
Anak harimau sumatera terjebak di sumur warga. (Istimewa).

Seekor anak harimau Sumatera masuk dan terjebak di sumur warga di Desa Belani, Rawas Ilir, Musi Rawas Utara (Muratara), Sumatera Selatan. Penemuan ini tengah ditangani Balai Konseevasi Sumber Daya Alam (BKSDA) setempat.

Penemuan anak harimau tersebut diketahui dari unggahan Bupati Muratara Devi Suhartoni di akun Facebook pribadinya, Rabu (9/9). Dalam bahasa daerah, dia mengabarkan adanya anak harimau masuk sumur warga di kampung tempat tinggalnya.

"Anak imau masuk sumur di kebon belani, ado-ado bae, lah diam cuman bagawe imau pulak bakal rame hahah (Anak harimau masuk sumur di kebun Belani, ada-ada saja, sudah diamankan cuma kerja, harimau juga bakal ramai," begitu unggahan Devi Suhartoni seperti dilihat merdeka.com, Kamis (10/9).

Devi Suhartoni meminta masyarakat tidak membunuh hewan dilindungi itu. Setelah berhasil dievakuasi, harimau tersebut harus dilepaskan kembali.

"Tidak boleh ditembak dan dibunuh, diselamatkan dan dilepas," kata dia

Kepala Seksi Konservasi Wilayah (SKW) II BKSDA Sumsel Yusmono mengatakan telah menurunkan tim ke lapangan guna memastikan kebenaran kabar tersebut dan segera mengevakuasi anak harimau itu jika benar adanya. Dia mengimbau warga tetap waspada dan tidak mengambil tindakan karena justru akan berbahaya.

"Tim nanti akan segera ke lapangan," singkat Yusmono.

 

Warga Resah Kemunculan Harimau

 

Sebelumnya, warga Kecamatan Ulu Rawas, Muratara, juga, resah dengan kemunculan harimau di perkebunan dan perkebunan. pada April 2026, delapan kerbau milik warga mati dimangsa hewan buas itu. Dugaan warga diperkuat dengan jejak kaki harimau di pemukiman dan perkebunan. Para petani pun khawatir beraktivitas di kebun karena takut kemunculan hewan dilindungi itu.

Kepala SKW II BKSDA Sumsel Yusmono mengatakan, petugas telah mengecek jejak-jejak yang ditemukan warga. Hasil peneltian, jejak itu mengarah pada jejak kaki harimau.

"Tim sudah ke lapangan dan jejaknya memang kemungkinan besar milik harimau. Dari jejaknya cuma satu harimau," kata Yusmono.

Yusmono menjelaskan, lokasi penemuan jejak berada tak jauh dari kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS). Kemunculan harimau disinyalir karena adanya aktivitas perambahan dan perburuan liar sehingga mengganggu habitatnya.

Untuk mengantisipasi konflik dengan harimau, masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan saat beraktivitas di kebun. Warga juga diminta menghindari memasuki kawasan hutan yang rawan terjadi serangan binatang buas.

Rekomendasi