Debit air waduk dan embung yang menyusut drastis karena terhentinya pasokan air baku akibat kemarau yang berkepanjangan. Rata-rata embung yang kosong Pantura barat seperti Kabupaten Tegal hingga Brebes.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Jawa Tengah, Henggar Budi Hanggoro mengatakan sampai pertengahan bulan ini ada sepuluh embung kosong melompong. Dampak pada sistem pengairan pertanian di sejumlah daerah Jawa Tengah.
"Sekarang ini banyak embung yang berkurang debitnya. Ada kisaran sepuluh embung dari total keseluruhan 92 embung sudah kosong tidak ada airnya," kata Henggar, Jumat (4/9).
Dia menyebut keberadaan debit air embung maupun waduk yang menyusut cukup mengkhawatirkan karena bisa berdampak terhadap aktivitas penanaman pada sampai akhir tahun.
"Kondisi saat ini, kami memang agak khawatir apalagi kalau hujannya baru turun di tahun 2027 mendatang. Pasti ketersediaan air pas musim tanam ketiga tahun ini justru berat untuk dipenuhi," ujar dia.
Advertisement
Kebutuhan Air
Sementara meski kondisi waduk yang ada di 11 titik debit airnya menyusut, menurut dia, akan tetapi sebagian besar kapasitas airnya masih mencukupi.
Sebagai contoh dari pendataan PUPR Jateng per 1-17 Agustus 2026, debit air Waduk Malahayu sebanyak 210 persen, Waduk Cacaban menyusut 30 persen, Waduk Rawapening masih 99 persen, Waduk Logung dan Waduk Jatibarang masih berkisar 90 persen.
"Kebutuhan posisi tampungan air waduk masih sesuai perencanaan awal tahun," kata Henggar.
Kendati begitu, pihak DPUPR Jateng sedang berusaha keras untuk berkoordinasi dengan Dinas Peternakan dan Perkebunan (Distannak) dan Dinas ESDM untuk mengoptimalkan peralatan penunjang untuk menyediakan air irigasi.
Salah satunya ESDM Jateng kini mulai memasang pompa-pompa tenaga surya. Untuk Distannak juga sedang berupa untuk pemenuhan air irigasi. "Siklus masa tanam kan setahun ada tiga kali. Untuk tahun ini masih tersisa satu kali masa tanam lagi. Air waduk masih mencukupi sampai November," tutupnya.