Korban Dugaan Keracunan MBG di SMPN 1 Kabuh Jombang Bertambah Jadi 256 Siswa

Dari ratusan siswa mengalami gejala, sebagian besar telah mendapatkan penanganan secara mandiri maupun menjalani pemeriksaan rawat jalan di sejumlah fasilitas kesehatan.

Erwin yohanes
Oleh Erwin yohanes - Reporter
Korban Dugaan Keracunan MBG di SMPN 1 Kabuh Jombang Bertambah Jadi 256 Siswa
Siswa SMPN 1 Kabuh mengeluhkan sakit usai menyantap menu MBG. (Istimewa).

Jumlah siswa SMPN 1 Kabuh, Kecamatan Kabuh, Kabupaten Jombang, mengeluhkan kesehatan setelah menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) bertambah menjadi 256 orang.

Data terbaru tersebut disampaikan Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Jombang, dr. Hexawan Tjahja Widada.

Dari ratusan siswa mengalami gejala, sebagian besar telah mendapatkan penanganan secara mandiri maupun menjalani pemeriksaan rawat jalan di sejumlah fasilitas kesehatan.

Sementara itu, tujuh siswa masih menjalani perawatan di puskesmas. Mereka mendapat pemantauan karena mengalami kondisi tubuh lemas.

"Yang tujuh ini kondisinya lemas. Sebetulnya kondisinya sudah bagus, paling rehidrasi saja. Mungkin besok sudah pulang," kata Hexawan.

Siswa SMPN 1 Kabuh mengeluhkan sakit usai menyantap menu MBG. (Istimewa).
Siswa SMPN 1 Kabuh mengeluhkan sakit usai menyantap menu MBG. (Istimewa).

Kronologi

Peristiwa tersebut bermula setelah para siswa mengonsumsi menu MBG sekitar pukul 11.30 WIB pada Rabu (2/9). Beberapa jam kemudian, sejumlah siswa mulai mengeluhkan gangguan kesehatan.

Keluhan yang muncul antara lain diare, mual, muntah, hingga pusing. Gejala tersebut dilaporkan muncul secara bertahap sejak sore hingga malam hari.

Menurut Hexawan, pada awalnya keluhan yang dialami siswa belum dianggap sebagai kejadian luar biasa. Namun, setelah pihak sekolah melakukan pendataan, jumlah siswa yang mengalami gejala ternyata cukup banyak.

"Jadi kejadiannya mulai dari kemarin, Rabu (2/9/2026). Awalnya orang menganggap diare biasa, tetapi setelah datanya dikumpulkan ternyata jumlahnya banyak," ujar Hexawan.

Dinkes Jombang kini masih melakukan penelusuran untuk mengetahui penyebab pasti munculnya keluhan kesehatan tersebut. Investigasi dilakukan untuk memastikan apakah persoalan berkaitan dengan proses pengolahan makanan, distribusi, maupun bahan pangan yang digunakan.

Selain tujuh siswa yang masih dirawat, sekitar 74 siswa lainnya tercatat menjalani pemantauan melalui layanan rawat jalan. Mereka mendapatkan penanganan di puskesmas maupun sejumlah klinik swasta, termasuk Klinik Mitra Plus dan Klinik As-Syifa.

Dinkes menyebut jumlah 256 siswa tersebut masih dapat berubah. Petugas masih membuka pemantauan terhadap kemungkinan adanya siswa lain yang mengalami gejala dan kemudian melaporkan kondisinya atau mendatangi fasilitas kesehatan.

"256 ini. Ya kan masih bergerak terus, nanti apakah ada yang masuk lagi di Puskesmas atau tidak," pungkas Hexawan.

Rekomendasi