Sekelompok massa yang mengatasnamakan diri sebagai kader Nahdlatul Ulama (NU) menggelar aksi ujuk rasa di area digelarnya rapat pleno di Gedung Graha Serbaguna Pondok Pesantren Bahrul Ulum. Aksi ini berujung ricuh lantaran massa aksi berupaya menerobos masuk ke ruang digelarnya rapat pleno pada Minggu (30/8).
Dari pantauan merdeka.com, massa yang menggelar aksi sejak awal sudah berupaya menerobos barikade keamanan lokal. Massa berhasil menembus lapis pertama penjagaan yang dijaga Banser.
Begitu berhasil mencapai pintu pengamanan kedua, massa kembali berhasil menembus lapis kedua dengan mudah.
Hingga akhirnya, kericuhan terjadi saat massa berusaha menembus pintu keamanan terakhir yang berada tepat di depan gedung serbaguna yang digunakan untuk rapat pleno.
Baku pukul pun sempat tak bisa dihindari, lantaran sejumlah petugas keamanan terus berupaya menghalangi massa memasuki pintu pengamanan terakhir.
Seorang petugas keamanan "SIGAP" mengaku sempat terkena pukulan pada bagian lehernya. Ia sempat kesakitan namun tetap berupaya mempertahankan posisinya mengamankan pintu lapis terakhir.
Orator massa dengan menggunakan megaphone yang dipegangnya, menuntut panitia agar segera menghadirkan Saifullah Yusuf atau Gus Ipul yang nota bene adalah ketua panitia. Mereka sempat memberikan waktu pada panitia agar menghadirkan orang yang dimaksud.
"Mana Ipul (Gus Ipul/Saifullah Yusuf), mana. Kita minta pada panitia agar menghadirkan Ipul," ujar pimpinan massa.
Dalam orasinya, sang orator juga sempat menyinggung soal aturan muktamar yang merugikan sebagian kelompok dan menguntungkan sebagian orang.
"Ketua panitia yang mendzalimi kami. Kami sama sama punya hak untuk menyampaikan aspirasi. Siapa yang bisa mendatangkan Gus Ipul," ungkapnya.
"Saya minta sidang di skors sampai Gus Ipul datang. Ada perubahan tiba - tiba oleh pak Nuh, ini merugikan sebagian orang dan menguntungkan sebagian kelompok," tegasnya.
Hingga berita ini ditulis pukul 14.30 Wib, antara petugas keamanan panitia dan massa masih saling dorong dan berhadap hadapan.