Rencana Stasiun Gambir Layani KRL, KAI Ungkap Kesiapan Infrastruktur

PT KAI menyiapkan pengembangan Stasiun Gambir untuk memperkuat integrasi transportasi di Jakarta. Begini penjelasan mengenai potensi layanan KRL di sana.

Immanuel Christian
Oleh Immanuel Christian - Reporter
Rencana Stasiun Gambir Layani KRL, KAI Ungkap Kesiapan Infrastruktur
Suasana Stasiun Gambir, Jakarta, Minggu (26/2/2023). PT Kereta Api Indonesia (KAI) mulai menjual tiket kereta api jarak jauh untuk keberangkatan H-10 pada periode Idul Fitri 2023. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

 

Lonjakan mobilitas masyarakat di kawasan Jabodetabek yang mencapai 58,11% dalam tiga tahun terakhir mendorong PT Kereta Api Indonesia (Persero) untuk memperkuat konektivitas di Stasiun Gambir, Jakarta Pusat. Langkah ini diambil guna menyelaraskan fungsi stasiun sebagai gerbang utama perjalanan Kereta Api (KA) Jarak Jauh dengan kebutuhan moda transportasi publik perkotaan yang semakin tinggi.

Data internal KAI menunjukkan pertumbuhan signifikan pada jumlah perjalanan KRL Jabodetabek. Tercatat, perjalanan KRL meningkat dari 217.964.892 pada tahun 2022 menjadi 344.621.825 perjalanan pada 2025. Peningkatan sebanyak 126.656.933 perjalanan tersebut mencerminkan ketergantungan masyarakat terhadap sistem transportasi publik yang terintegrasi.

Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, menyatakan bahwa pengembangan Stasiun Gambir harus selaras dengan ritme mobilitas publik dan posisi strategis kawasan tersebut. Anne mengatakan, "Gambir memiliki peran strategis dalam ekosistem transportasi Jakarta. Pengembangannya diarahkan untuk memperkuat fungsi Gambir sebagai gerbang perjalanan KA Jarak Jauh sekaligus mendukung konektivitas masyarakat menuju pusat aktivitas Jakarta," ujar Anne di Jakarta, Minggu (30/8/2026).

Tantangan Operasional dan Kesiapan Teknis

Kebutuhan akan integrasi moda transportasi kian mendesak seiring tingginya lalu lintas di koridor Bogor Line yang melintasi kawasan Gambir. Sepanjang tahun 2025, koridor tersebut melayani 153.538.393 perjalanan atau menyumbang 44,55% dari total perjalanan KRL Jabodetabek. Namun, hingga saat ini, Stasiun Gambir belum melayani naik dan turun penumpang Commuter Line, meski jalur layangnya setiap hari dilintasi KRL rute Jakarta Kota–Bogor dan Jakarta Kota–Nambo.

Terkait potensi pembukaan layanan KRL di stasiun tersebut, Anne menekankan pentingnya kesiapan berbagai elemen teknis. "Apabila layanan Commuter Line di Gambir dikembangkan, maka berbagai aspek harus dipersiapkan secara menyeluruh, mulai dari fasilitas pelayanan pelanggan, kesiapan peron, alur perpindahan, kapasitas lintas, kelistrikan, persinyalan, hingga pola operasi. Keselamatan dan keandalan perjalanan tetap menjadi prioritas utama," jelas Anne.

Sebagai gambaran kepadatan aktivitas, Stasiun Gambir telah melayani 3.871.579 pelanggan KA Jarak Jauh sepanjang Januari hingga Juli 2026, yang terdiri dari 1.990.205 penumpang naik dan 1.881.374 penumpang turun. Setiap harinya, stasiun ini memfasilitasi 34 perjalanan KA reguler dengan kurang lebih 78 aktivitas pemberhentian kereta.

Konsep New Gambir sebagai Hub Terpadu

Dalam merespons tantangan mobilitas masa depan, KAI tengah merancang konsep New Gambir. Proyek ini bertujuan menciptakan hub transportasi terpadu yang menghubungkan KA Jarak Jauh, KRL, MRT, TransJakarta (BRT), serta kawasan Monas. Konsep tersebut dirancang tidak hanya untuk efisiensi mobilitas, tetapi juga mengintegrasikan fungsi hospitality, leisure, dan pusat aktivitas kawasan.

Anne menambahkan bahwa transformasi ini dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kapasitas infrastruktur, operasional, dan keselamatan pengguna jasa. "Pertumbuhan perjalanan KRL menunjukkan kebutuhan masyarakat terhadap konektivitas menuju pusat Jakarta terus meningkat. Karena itu, kesiapan Gambir perlu dilihat sebagai bagian dari pengembangan sistem transportasi yang terintegrasi, termasuk apabila ke depan terdapat pengembangan layanan Commuter Line di stasiun ini," tutur Anne.

Rekomendasi