Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengungkapkan bahwa intelijen negaranya mendeteksi indikasi keterlibatan pejabat pemerintah Amerika Serikat dalam upaya manipulasi pasar energi demi meraup keuntungan pribadi.
"Intelijen kami menunjukkan adanya upaya besar untuk memanipulasi pasar energi. Sejumlah elemen pemerintah AS menggunakan media yang mudah dipengaruhi untuk mempengaruhi harga demi keuntungan pribadi... Aktor-aktor yang berpihak pada Israel juga mendorong perang dengan menyampaikan penilaian yang terlalu optimistis," tulis Araghchi melalui akun resminya di platform X, dikutip dari Sputnik, Minggu (30/8).
Ketegangan antar-negara ini sebelumnya sempat memuncak pada 28 Februari, ketika serangan dari Amerika Serikat dan Israel ke sejumlah wilayah sasaran di Iran memicu aksi balasan serupa dari Teheran.
Upaya peredaman konflik sebenarnya sempat membuahkan kesepakatan lewat penandatanganan nota kesepahaman penghentian permusuhan pada pertengahan Juni. Kendati demikian, gencatan tersebut tak bertahan lama setelah kedua belah pihak kembali terlibat saling serang.
Meskipun saat ini tidak ada kontak senjata secara aktif, konflik bersenjata tersebut dasarnya belum sepenuhnya terselesaikan. Sebagai gantinya, Washington memilih mengeskalasi tekanan ekonomi terhadap Iran untuk menciptakan jeratan finansial tambahan bagi Teheran sebagai bagian dari strategi mengakhiri konflik.