Mahasiswa Unhas Bekali Siswa SD Betao Sidrap Mitigasi Bencana dan Pertolongan Pertama

Mahasiswa KKN Unhas membekali siswa UPT SD Negeri 2 Betao, Sidrap, dengan program 'SIAP' untuk mitigasi bencana dan pertolongan pertama, meningkatkan kesiapsiagaan sejak dini.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Mahasiswa Unhas Bekali Siswa SD Betao Sidrap Mitigasi Bencana dan Pertolongan Pertama
Mahasiswa KKN Unhas membekali siswa UPT SD Negeri 2 Betao, Sidrap, dengan program 'SIAP' untuk mitigasi bencana dan pertolongan pertama, meningkatkan kesiapsiagaan sejak dini. (AntaraNews)

Mahasiswa Universitas Hasanuddin (Unhas) yang sedang menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) membekali siswa UPT SD Negeri 2 Betao, Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan, dengan pengetahuan dan keterampilan mitigasi bencana. Program bertajuk “SIAP: Siaga Bencana & Pertolongan Pertama” ini bertujuan menumbuhkan kesadaran serta kemampuan menghadapi kondisi darurat sejak usia sekolah. Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara KKN Profesi Kesehatan (KKN-PK) 69 dan KKN 116 Tematik Inovasi Desa Unhas.

Rektor Unhas, Jamaluddin Jompa, menjelaskan bahwa kegiatan yang berlangsung akhir pekan tersebut sangat penting untuk mempersiapkan generasi muda menghadapi potensi bencana. Pemilihan Desa Betao Riase sebagai lokasi program didasarkan pada kondisi geografis wilayah yang dikelilingi perbukitan dan tebing curam. Kondisi ini menjadikan kawasan tersebut memiliki potensi kerawanan bencana, khususnya tanah longsor.

Melalui program ini, para siswa tidak hanya dikenalkan dengan berbagai potensi risiko bencana di lingkungan sekitar, tetapi juga diajarkan langkah-langkah antisipasi. Mereka dilatih untuk menyelamatkan diri ketika terjadi keadaan darurat, serta diberikan pemahaman mengenai pertolongan pertama pada korban bencana. Inisiatif ini diharapkan dapat menciptakan lingkungan sekolah yang lebih adaptif dan tangguh.

Potensi Bencana dan Kesiapsiagaan Dini

Desa Betao Riase, tempat UPT SD Negeri 2 Betao berada, memiliki karakteristik geografis yang rentan terhadap bencana alam. Dikelilingi oleh perbukitan dan tebing curam, wilayah ini sangat berisiko mengalami tanah longsor, terutama saat musim hujan. Oleh karena itu, pembekalan mitigasi bencana menjadi krusial bagi masyarakat, khususnya anak-anak sekolah.

Program “SIAP” dirancang untuk memberikan pemahaman komprehensif kepada siswa mengenai jenis-jenis bencana yang mungkin terjadi di lingkungan mereka. Selain itu, siswa diajarkan cara mengidentifikasi tanda-tanda awal bencana dan tindakan cepat yang harus diambil untuk mengurangi risiko. Edukasi dini ini diharapkan dapat membentuk karakter siswa yang tanggap dan sigap dalam menghadapi situasi darurat.

Rektor Unhas, Jamaluddin Jompa, menegaskan bahwa penanaman kesadaran bencana sejak dini sangat penting. "Kegiatan yang berlangsung akhir pekan tersebut melibatkan mahasiswa KKN Profesi Kesehatan (KKN-PK) 69 dan KKN 116 Tematik Inovasi Desa Unhas sebagai upaya menumbuhkan kesadaran serta keterampilan menghadapi kondisi darurat sejak usia sekolah," katanya. Hal ini menunjukkan komitmen Unhas dalam berkontribusi pada peningkatan kapasitas masyarakat, terutama di daerah rawan bencana.

Edukasi Interaktif dan Buku Saku Pahlawan Bencana

Pendekatan edukasi dalam program ini dikemas secara interaktif dan menarik agar mudah dipahami oleh siswa. Salah satu inovasi yang diperkenalkan adalah "Buku Saku Pahlawan Bencana". Buku ini berisi panduan praktis mengenai pertolongan pertama pada berbagai kondisi kegawatdaruratan, mulai dari patah tulang hingga henti jantung.

Mahasiswa KKN, Hikmawati, menjelaskan bahwa buku saku tersebut menjadi alat bantu yang efektif dalam menyampaikan materi pertolongan pertama. Selain penyampaian materi, edukasi juga dilengkapi dengan simulasi dan praktik langsung. Metode ini memungkinkan siswa untuk secara langsung mempraktikkan tindakan yang harus dilakukan, sehingga mereka lebih mudah memahami dan mengingat langkah-langkah penyelamatan diri dan pertolongan pertama.

Penggunaan kombinasi metode ini diharapkan dapat meningkatkan retensi informasi pada siswa. Dengan demikian, ketika dihadapkan pada situasi bencana yang sebenarnya, mereka dapat bertindak dengan cepat dan tepat. Kesiapsiagaan ini tidak hanya bermanfaat bagi diri sendiri, tetapi juga bagi teman dan keluarga di lingkungan sekitar.

Kolaborasi KKN dalam Kesiapsiagaan Sekolah

Program mitigasi bencana ini merupakan hasil kolaborasi apik antara dua kelompok KKN Unhas yang berbeda fokus. Tim KKN-PK 69 berkonsentrasi pada edukasi dan pelatihan pertolongan medis awal, membekali siswa dengan keterampilan dasar penyelamatan nyawa. Sementara itu, mahasiswa KKN 116 Tematik Inovasi Desa memiliki peran dalam merancang dan memasang papan penanda jalur evakuasi di lingkungan sekolah.

Pembagian peran ini memastikan cakupan kesiapsiagaan yang komprehensif di UPT SD Negeri 2 Betao. Keberadaan jalur evakuasi yang jelas dan teridentifikasi menjadi sangat penting. Jalur ini berfungsi sebagai panduan bagi siswa dan seluruh warga sekolah untuk menentukan arah penyelamatan yang aman saat terjadi bencana, meminimalkan kebingungan dan kepanikan.

Sinergi antara kedua kelompok KKN ini menunjukkan pendekatan holistik dalam membangun ketahanan bencana di tingkat sekolah. Mereka tidak hanya memberikan pengetahuan teoritis, tetapi juga menciptakan infrastruktur pendukung yang esensial. Kolaborasi ini diharapkan menjadi model bagi program KKN lainnya dalam upaya pemberdayaan masyarakat.

Membangun Budaya Siaga Bencana di Lingkungan Sekolah

Program mitigasi bencana ini diharapkan tidak hanya berhenti pada kegiatan pelatihan saja, melainkan menjadi langkah awal untuk membangun budaya siaga bencana yang berkelanjutan di UPT SD Negeri 2 Betao. Pengetahuan mitigasi, keterampilan pertolongan pertama, dan ketersediaan jalur evakuasi adalah tiga pilar utama yang diperkuat melalui inisiatif ini.

Dengan memadukan ketiga aspek tersebut, lingkungan pendidikan di UPT SD Negeri 2 Betao diharapkan semakin mampu menciptakan siswa dan staf yang adaptif. Mereka akan lebih tangguh dalam menghadapi potensi bencana yang mungkin terjadi di wilayah mereka. Budaya siaga bencana ini akan tertanam kuat, memastikan keselamatan dan kesejahteraan seluruh komunitas sekolah.

Upaya ini merupakan investasi jangka panjang untuk masa depan. Dengan membekali siswa sejak dini, diharapkan mereka akan tumbuh menjadi individu yang tidak hanya sadar bencana, tetapi juga mampu menjadi agen perubahan dalam menyebarkan kesadaran dan keterampilan mitigasi di lingkungan yang lebih luas. Program ini menjadi contoh nyata bagaimana pendidikan dapat berperan aktif dalam pengurangan risiko bencana.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi