Suasana haru dan bahagia menyelimuti Gedung Politeknik Penerbangan Indonesia Curug, Banten, pada Sabtu (09/8), saat kunjungan persiapan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di Sekolah Rakyat Terintegrasi 8 (SRT) Kabupaten Tangerang. Momen ini menjadi saksi bisu kebahagiaan orang tua siswa yang menyambut program pendidikan transformatif.
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul), dan Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono hadir dalam acara tersebut, menyaksikan langsung antusiasme masyarakat. Program Sekolah Rakyat ini bukan sekadar seremoni, melainkan sebuah inisiatif yang mengubah hidup puluhan anak dari keluarga kurang mampu.
Salah satu yang merasakan dampaknya adalah Siti Yuliana, seorang ibu rumah tangga dari pesisir Jakarta Utara, yang tak kuasa menahan air mata. Keterbatasan ekonomi sempat mengancam impian putrinya, Putri Nurdiyanah, untuk melanjutkan pendidikan, namun kini harapan itu kembali menyala berkat Sekolah Rakyat.
Advertisement
Advertisement
Harapan Baru Melalui Sekolah Rakyat Berbasis Asrama
Siti Yuliana, dengan suara bergetar, mengungkapkan kesulitan ekonomi keluarganya di mana sang suami hanya bekerja sebagai buruh harian lepas. Kondisi ini membuat impian putrinya, Putri Nurdiyanah, untuk bersekolah berkualitas nyaris pupus. Namun, dengan keteguhan hati, Yuliana merelakan putrinya tinggal di asrama, percaya pada bimbingan guru dan wali asrama.
“Saya ridho anak saya diasramakan dengan bimbingan guru dan wali asrama,” ujar Yuliana, mencerminkan keteguhan hati para orang tua siswa Sekolah Rakyat. Keteguhan ini adalah respons terhadap kebijakan transformatif dari Kementerian Sosial (Kemensos) di bawah kepemimpinan Menteri Sosial Saifullah Yusuf.
Sekolah Rakyat tidak hanya menyediakan fasilitas belajar gratis, tetapi juga mengusung pendekatan terpadu berbasis asrama selama 24 jam. Model ini bertujuan untuk memulihkan, mendidik, dan membangun karakter anak-anak dari kelompok masyarakat paling rentan. Inisiatif ini secara fundamental mengubah akses pendidikan bagi mereka yang selama ini terpinggirkan.
Advertisement
Advertisement
Gagasan Presiden Prabowo untuk Pendidikan Inklusif
Menteri Sosial Saifullah Yusuf menjelaskan bahwa Sekolah Rakyat adalah gagasan langsung dari Presiden Prabowo Subianto. Ini merupakan program pertama kali diselenggarakan sejak Indonesia merdeka, khusus diperuntukkan bagi keluarga-keluarga paling tidak mampu yang belum tersentuh pembangunan. Kebijakan ini memutus stigma bahwa pendidikan berkualitas sulit diakses oleh masyarakat miskin.
Melalui model sekolah berasrama, siswa mendapatkan lebih dari sekadar kurikulum formal di pagi hari. Mereka juga menerima pendampingan intensif untuk pengembangan karakter, etika, dan pembentukan kebiasaan hidup positif hingga malam hari. Pendekatan holistik ini memastikan pertumbuhan anak yang seimbang dari segi akademis dan moral.
Keberhasilan program Sekolah Rakyat mulai terlihat nyata dalam waktu singkat. Misfan Nazriel Faturrahman, seorang siswa dari Kabupaten Bekasi yang sebelumnya memiliki keterbatasan membaca, kini mampu tampil percaya diri sebagai Master of Ceremony (MC) menggunakan bahasa Inggris dan bahasa Indonesia yang fasih. Bahkan, anak-anak yang sebelumnya tidak lancar membaca saat masuk kelas 1 SMA, kini mampu menunjukkan lompatan prestasi yang luar biasa.
Advertisement
Advertisement
Komitmen Pemerintah Wujudkan 200 Titik Sekolah Rakyat
Kemensos, bersama pemerintah pusat dan daerah, menunjukkan komitmen kuat melalui skema gotong royong yang masif untuk mewujudkan program Sekolah Rakyat. Pemerintah daerah, termasuk Gubernur, Bupati, dan Wali Kota, memfasilitasi penyediaan lahan. Sementara itu, pembangunan fisik permanen dikerjakan oleh Kementerian Pekerjaan Umum menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Target pembangunan Sekolah Rakyat ini sangat ambisius. Pada tahap pertama, direncanakan pembangunan 100 titik sekolah permanen yang ditargetkan tuntas sepenuhnya pada tahun ini. Selanjutnya, Presiden akan menambah 100 titik lagi mulai Oktober 2026, sehingga total menjadi 200 titik Sekolah Rakyat.
Setiap titik sekolah permanen dirancang untuk mampu menampung hingga 2.000 siswa, mencakup jenjang pendidikan SD, SMP, hingga SMA. Gubernur Banten Andra Soni turut mengapresiasi kebijakan ini, mengingat tingginya angka putus sekolah di wilayahnya. Hadirnya Sekolah Rakyat diharapkan menjadi oase yang memutus rantai kemiskinan antargenerasi melalui jalur pendidikan yang berkualitas dan inklusif.
Advertisement
Sumber: AntaraNews