Warga Serang Lestarikan Tradisi Panjang Mulud, Jaga Kebersamaan dan Ekonomi Lokal

Masyarakat Kampung Pekijing, Serang, antusias melestarikan tradisi Panjang Mulud dalam menyambut Maulid Nabi Muhammad SAW, memperkuat gotong royong dan ekonomi lokal.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Warga Serang Lestarikan Tradisi Panjang Mulud, Jaga Kebersamaan dan Ekonomi Lokal
Masyarakat Kampung Pekijing, Serang, antusias melestarikan tradisi Panjang Mulud dalam menyambut Maulid Nabi Muhammad SAW, memperkuat gotong royong dan ekonomi lokal. (AntaraNews)

Masyarakat Kampung Pekijing, Kelurahan Kalanganyar, Kota Serang, Banten, menunjukkan semangat kebersamaan yang tinggi dalam menyambut perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. Mereka secara aktif melestarikan tradisi unik pembuatan kerajinan "Panjang Mulud" melalui kegiatan gotong royong. Tradisi ini tidak hanya menjadi bagian penting dari perayaan keagamaan, tetapi juga mempererat tali silaturahmi antarwarga.

Proses pembuatan kerajinan Panjang Mulud ini memakan waktu sekitar satu bulan dan melibatkan seluruh elemen masyarakat. Warga bergotong royong setiap malam untuk menyelesaikan kerajinan tersebut, menunjukkan dedikasi yang luar biasa. Semangat kebersamaan ini bahkan diikat oleh aturan swadaya yang disepakati bersama oleh komunitas.

Tradisi Panjang Mulud telah dirawat oleh warga setempat selama tujuh tahun terakhir, menjadikannya bagian tak terpisahkan dari identitas budaya mereka. Selain nilai budaya, tradisi ini juga memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi masyarakat. Hasil penjualan kerajinan ini sepenuhnya kembali untuk kemaslahatan warga setempat.

Semangat Gotong Royong dan Aturan Swadaya

Proses pembuatan kerajinan Panjang Mulud di Kampung Pekijing dilaksanakan secara bergotong royong setiap malam. Kegiatan ini menjadi ajang bagi warga untuk berkumpul dan bekerja sama demi melestarikan tradisi leluhur. Kebersamaan ini menjadi inti dari perayaan Maulid Nabi di kampung tersebut.

Salah seorang warga Kampung Pekijing, Satibi, menjelaskan bahwa semangat kebersamaan ini sangat kuat di antara warga. Bahkan, ada aturan swadaya yang mengikat partisipasi warga dalam proses pembuatan. Warga yang tidak ikut bergotong royong akan dikenakan denda sebesar Rp20.000, menunjukkan komitmen kolektif mereka terhadap tradisi.

Besar kecilnya ukuran dan kemegahan kerajinan Panjang Mulud yang dibuat sangat bergantung pada ketersediaan dana dari masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa seluruh biaya dan upaya berasal dari swadaya warga. Tahun ini, proses produksi kerajinan ini menghabiskan bahan baku hingga lima kubik, mencerminkan skala pengerjaan yang cukup besar.

Nilai Ekonomi dan Pemanfaatan Hasil Penjualan

Kerajinan hiasan Panjang Mulud didominasi oleh bentuk satwa seperti macan dan kuda, menjadikannya unik dan menarik secara visual. Setelah selesai dibuat, kerajinan ini diprioritaskan untuk kebutuhan perayaan warga setempat. Ini memastikan bahwa tradisi tetap terjaga dan dinikmati oleh komunitas awal sebelum dipasarkan.

Sisa kerajinan yang tidak terpakai kemudian dijual kepada masyarakat luas dengan harga yang bervariasi. Satibi menyebutkan bahwa harga Panjang Mulud dibanderol mulai dari Rp200.000 untuk ukuran paling kecil, Rp350.000 untuk ukuran sedang, hingga Rp500.000 untuk ukuran yang paling besar. Kisaran harga ini memberikan pilihan bagi pembeli dengan berbagai preferensi dan anggaran.

Meskipun tidak banyak pesanan dari jauh hari, kerajinan ini biasanya habis dibeli secara berurutan oleh warga dari luar daerah. Pembeli sering datang langsung untuk melihat dan membeli, seperti dari wilayah Ciomas. Hal ini menunjukkan daya tarik tradisi Panjang Mulud yang melampaui batas kampung dan menarik perhatian dari luar.

Tradisi ini tidak hanya memiliki nilai budaya yang tinggi, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi yang nyata bagi masyarakat. Hasil penjualan Panjang Mulud sepenuhnya disumbangkan untuk mengisi kas masjid setempat. Selain itu, sebagian dana juga disimpan sebagai modal pembuatan kerajinan untuk perayaan Maulid Nabi di tahun berikutnya, menciptakan siklus keberlanjutan tradisi.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi