Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) mengungkap perkembangan penataan BUMN di bawah pengelolaannya. Melalui proses streamlining atau perampingan, sejumlah perusahaan akan ditutup, dilikuidasi, dijual, dikonsolidasikan, hingga direstrukturisasi.
COO Danantara sekaligus Kepala BP BUMN, Dony Oskaria mengatakan, pemetaan terhadap perusahaan yang akan menjalani masing-masing skema tersebut telah rampung dilakukan.
"Ada yang ditutup, dilikuidasi, ada yang kita divestasi, kita jual, ada yang kita konsolidasi, ada yang kita restrukturisasi," ujar Dony dalam sesi doorstop acara Executive Breakfast Meeting: Dua Tahun Danantara di The Opus Grand Ballroom, The Tribrata Dharmawangsa, Jakarta, Jumat (2/10/2026).
Restrukturisasi perusahaan, lanjut Dony, dapat dilakukan melalui sejumlah skema. Di antaranya penyuntikan modal (equity), pengalihan aset, hingga restrukturisasi pinjaman. Pemerintah menargetkan jumlah BUMN yang dikelola Danantara dapat dipangkas secara drastis hingga menyisakan sekitar 200 perusahaan pada akhir tahun ini.
"Ini sudah selesai kita tentukan, sehingga harapannya yang selalu disampaikan oleh Bapak Presiden, kita harapkan akhir tahun ini tinggal hanya 200 perusahaan saja kita kelola," jelasnya.
Khusus penataan BUMN Karya, Danantara akan mendahulukan merger perusahaan yang prosesnya dinilai lebih mudah. Salah satunya penggabungan PT Adhi Karya (Persero) Tbk, PT Brantas Abipraya (Persero), dan PT Nindya Karya (Persero).
"Merger Adhi Karya, kemudian juga Brantas dan Nindya Karya, ini akan kita selesaikan. Ini yang paling mudah untuk dilakukan mergernya," kata Dony.
Setelah merger awal selesai, Danantara baru akan menangani perusahaan dengan tingkat restrukturisasi yang lebih kompleks. "Ini yang akan kita mulai melakukan merger dulu, kemudian baru berikutnya perusahaan yang harus kita restrukturisasi," tambahnya.
Advertisement
Konsolidasi BUMN Karya
Sebagai informasi, rencana konsolidasi BUMN Karya mencakup tujuh perusahaan, yaitu PT Hutama Karya, PT Waskita Karya, PT Wijaya Karya (WIKA), PT PP, PT Brantas Abipraya, PT Adhi Karya, dan PT Nindya Karya. Danantara menargetkan proses ini rampung pada 2026.
Dony mengakui tidak semua BUMN Karya memiliki tingkat persoalan yang sama. PT WIKA dan PT Waskita Karya menjadi dua entitas yang memerlukan upaya penyehatan lebih besar.
"Terutama sekali WIKA dan Waskita. Kalau yang Hutama Karya, mereka relatif sehat. Jadi hanya WIKA, Waskita yang akan menjadi persoalan karena membutuhkan effort kita untuk melakukan restrukturisasi," tuturnya.
Restrukturisasi kedua perusahaan tersebut nantinya mencakup penjualan (divestasi) aset guna menekan nilai utang. Sisa kewajiban yang ada kemudian ditata kembali melalui skema restrukturisasi.
"Divestasi aset mereka, menurunkan utangnya, sisanya akan kita restrukturisasi," kata Dony.
Advertisement
Persoalan Keuangan
Persoalan keuangan memang menjadi alasan utama mengapa konsolidasi BUMN Karya membutuhkan waktu. Pada April 2026, Dony sempat menyampaikan bahwa unit usaha yang tidak berkaitan dengan bisnis inti (non-core business) akan dilepas terlebih dahulu untuk mengurangi beban utang.
Proses penyehatan WIKA dan Waskita juga membutuhkan kehati-hatian ekstra. Pada Agustus 2026 lalu, Dony menegaskan bahwa perbaikan tidak hanya dilakukan di level induk, tetapi juga melibatkan lini anak usahanya.
Langkah-langkah strategis ini menempatkan perampingan, konsolidasi, divestasi, dan restrukturisasi sebagai pilar utama Danantara untuk menyederhanakan struktur BUMN sekaligus menyehatkan perusahaan yang masih terlilit masalah keuangan.