Pemerintah daerah yang terdampak bencana di Provinsi Aceh masih memiliki peluang besar untuk mengusulkan pekerjaan rehabilitasi dan rekonstruksi agar dapat dimasukkan ke dalam Instruksi Presiden (Inpres). Kesempatan ini disampaikan langsung oleh Kepala Pos Wilayah Satuan Tugas Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Aceh, Safrizal ZA, dalam sebuah diskusi penting di Banda Aceh.
Pernyataan tersebut disampaikan Safrizal ZA pada Jumat (7/8/2026) di Banda Aceh, saat menghadiri Focus Group Discussion (FGD) percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana hidrometeorologi Provinsi Aceh tahun 2026. FGD ini berfokus pada penanganan sektor pertanian, sistem pengairan, dan daerah aliran sungai yang krusial bagi pemulihan wilayah terdampak.
Safrizal ZA menegaskan bahwa “slot” Inpres masih terbuka lebar bagi daerah yang membutuhkan dukungan anggaran nasional untuk percepatan pemulihan. Ini menjadi angin segar bagi pemerintah kabupaten/kota untuk segera mengidentifikasi dan mengajukan proyek-proyek prioritas yang belum terakomodasi dalam rencana induk nasional.
Advertisement
Advertisement
Inpres sebagai Jalur Percepatan Rehabilitasi Bencana Aceh
Kepala Pos Wilayah Satgas PRR Aceh, Safrizal ZA, secara gamblang menyatakan bahwa Inpres merupakan jalur strategis bagi pemerintah daerah untuk memastikan pekerjaan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana dapat segera terealisasi. Menurutnya, Inpres masih terbuka, sehingga setiap pekerjaan yang berada di luar kewenangan nasional namun mendesak dapat diusulkan oleh kepala daerah.
Peluang ini sangat penting mengingat kompleksitas dan skala kerusakan yang seringkali ditimbulkan oleh bencana hidrometeorologi, seperti banjir dan tanah longsor. Dengan masuknya proyek dalam Inpres, diharapkan proses penganggaran dan pelaksanaan dapat lebih cepat dan terkoordinasi secara nasional.
Safrizal menekankan bahwa jika memang dibutuhkan untuk rehabilitasi dan rekonstruksi, daerah masih memiliki peluang untuk dimasukkan ke dalam rencana induk (renduk) nasional melalui Inpres. Ini memberikan kepastian hukum dan dukungan finansial yang kuat untuk proyek-proyek pemulihan di Aceh.
Advertisement
Advertisement
Fokus FGD dan Identifikasi Kebutuhan Rehabilitasi Bencana Aceh
Diskusi kelompok terfokus (FGD) yang dihadiri Safrizal ZA membahas secara mendalam percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana hidrometeorologi di Provinsi Aceh untuk tahun 2026. Pembahasan utama mencakup penanganan sektor pertanian, perbaikan sistem pengairan, serta revitalisasi daerah aliran sungai.
Sektor-sektor ini merupakan tulang punggung ekonomi dan kehidupan masyarakat Aceh, sehingga pemulihan yang cepat dan efektif sangatlah krusial. Kehadiran Satgas PRR Aceh dalam FGD ini menunjukkan komitmen pemerintah pusat untuk mendukung upaya pemulihan di tingkat daerah.
Oleh karena itu, Safrizal meminta kepada seluruh kepala daerah di Aceh yang wilayahnya terdampak bencana untuk segera melakukan identifikasi menyeluruh terhadap jenis-jenis pekerjaan yang belum masuk rencana rehabilitasi dan rekonstruksi. Identifikasi ini menjadi langkah awal yang vital sebelum pengajuan ke Inpres.
Advertisement
Proses identifikasi ini harus detail dan berdasarkan kebutuhan riil di lapangan, agar usulan yang diajukan benar-benar tepat sasaran dan memberikan dampak maksimal bagi masyarakat terdampak. Ini adalah kesempatan untuk mengisi celah-celah pemulihan yang mungkin terlewat.
Advertisement
Sinergi Anggaran dan Pelaksanaan Proyek Rehabilitasi Bencana Aceh
Safrizal ZA menjelaskan bahwa setelah proyek rehabilitasi dan rekonstruksi berhasil masuk ke dalam Inpres, pengerjaannya dapat dilakukan secara bersamaan dengan proyek-proyek yang sudah memiliki anggaran DIPA (Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran). Ini menciptakan sinergi dalam pelaksanaan rencana induk nasional.
Sinergi ini akan memastikan bahwa tidak ada tumpang tindih anggaran atau penundaan yang tidak perlu, sehingga upaya pemulihan dapat berjalan lebih efisien dan efektif. Kepala daerah diharapkan dapat memanfaatkan mekanisme ini sebaik mungkin.
Dengan demikian, percepatan penanganan pascabencana hidrometeorologi di Aceh dapat terwujud, memberikan harapan baru bagi masyarakat untuk bangkit kembali. Kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah menjadi kunci utama keberhasilan program rehabilitasi bencana Aceh ini.
Advertisement
Sumber: AntaraNews