Sengketa Lahan Bikin Sekolah Lumpuh, 945 Siswa Terpaksa Belajar Daring

Ratusan siswa dan guru hendak memulai rutinitas terpaksa gigit jari lantaran gerbang sekolah mereka tiba-tiba digembok pihak mengklaim sebagai ahli waris lahan.

Azzura Galexia
Oleh Azzura Galexia - Reporter
Sengketa Lahan Bikin Sekolah Lumpuh, 945 Siswa Terpaksa Belajar Daring
Suasana di SDN 026 Bojongloa. (merdeka.com/Azzura Galexia).

Pagi yang seharusnya diisi dengan riuh tawa dan semangat belajar di SDN 026 Bojongloa, Kota Bandung, mendadak berubah tegang, pada Kamis (6/8).

Ratusan siswa dan guru hendak memulai rutinitas terpaksa gigit jari lantaran gerbang sekolah mereka tiba-tiba digembok pihak mengklaim sebagai ahli waris lahan.

Insiden 'pengusiran' secara halus ini sempat memicu adu mulut antara pihak pendidik dan perwakilan ahli waris. Beruntung, setelah melalui perdebatan alot, gembok akhirnya bersedia dibuka. Namun, rasa waswas akan adanya aksi susulan membuat pihak sekolah harus mengambil langkah tegas.

Suasana di SDN 026 Bojongloa. (merdeka.com/Azzura Galexia).
Suasana di SDN 026 Bojongloa. (merdeka.com/Azzura Galexia).

Kronologi Pihak Sekolah

Kepala Sekolah SDN 026 Bojongloa, Agus Mohamad Fajari mengaku terkejut dengan aksi penggembokan sepihak tersebut. Dia baru mengetahui insiden ini setelah mendapat laporan darurat dari penjaga sekolah.

"Makanya saya buru-buru datang ke sekolah untuk memastikan. Setelah dicek lewat rekaman CCTV, memang benar ada aksi penggembokan dari pihak ahli waris," ungkap Agus.

Demi mencegah hal serupa, Agus beserta staf penjaga sekolah terpaksa berjaga di area pagar depan. Pemandangan di sekitar sekolah pun kini dihiasi beberapa spanduk kuning mencolok yang mengklaim bahwa lahan seluas kurang lebih 1.500 meter persegi tersebut adalah milik ahli waris bernama Hamim.

945 Anak Terdampak Pembelajaran Jarak Jauh

Buntut dari ketidakpastian keamanan ini, suasana sekolah yang berlokasi tepat di pinggir hiruk-pikuk Jalan Cibaduyut itu kini lengang. Sebanyak 945 siswa dialihkan ke sistem Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau daring. Keputusan ini diambil usai Agus berkoordinasi darurat dengan Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Bandung.

"Kami khawatir terjadi keos atau penumpukan anak-anak di jalan raya. Risikonya sangat tinggi, bisa memicu kecelakaan. Jadi demi keselamatan dan keamanan murid, akhirnya diputuskan untuk kembali PJJ," tegas dia.

Agus sangat menyesalkan minimnya komunikasi dari pihak kuasa hukum ahli waris. Padahal, kejadian serupa pernah terjadi sebelumnya, dan ia sudah meminta agar setiap tindakan diinformasikan terlebih dahulu kepada pihak sekolah.

"Waktu kejadian pertama pasang spanduk itu tidak ada informasi. Termasuk penggembokan yang baru terjadi tadi pagi. Padahal kemarin saat saya pulang jam 4 sore, belum terjadi apa-apa," sesal Agus.

Kini, nasib kegiatan belajar mengajar tatap muka di SDN 026 Bojongloa berada di tangan Pemkot Bandung. Mengingat lahan sekolah berstatus sebagai aset daerah, Disdik Kota Bandung masih menunggu arahan langsung dari Wali Kota untuk mencari jalan keluar terbaik.

"Sementara ini anak-anak akan tetap belajar daring sampai kondisi dinilai benar-benar aman. Kami sangat berharap masalah ini tidak terulang lagi karena korbannya adalah proses belajar anak-anak," tutup Agus.

Rekomendasi