Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi, bereaksi keras terhadap tenaga kesehatan (nakes) di Kota Tasikmalaya yang diduga ikut melontarkan komentar nirempati kepada seorang pasien BPJS, Yurizal Tri Chaerawan. Kasus ini kian menyayat hati publik lantaran Yurizal, yang sempat mengeluhkan antrean panjang delapan jam di rumah sakit, meninggal dunia.
Dedi Mulyadi mendesak Wali Kota Tasikmalaya segera turun tangan dan menindak tegas nakes yang bersangkutan. Menurutnya, sebagai garda terdepan pelayanan publik, seorang nakes pantang kehilangan empati dan etika saat berhadapan dengan pasien maupun keluarganya.
"Tidak boleh seorang pelayan publik melontarkan perkataan yang tidak pantas, apalagi kepada pasien yang kini sudah meninggal dunia," tegas Dedi saat ditemui di Kantor DPRD Jabar pada Rabu (5/8).
Karena status kepegawaian nakes tersebut berada di bawah pemerintah kota, Dedi Mulyadi sepenuhnya menyerahkan pemberian sanksi kepada kepala daerah setempat.
"Kewenangannya ada di bawah Wali Kota. Nanti saya minta Wali Kota memberikan sanksi sesuai ketentuan yang berlaku. Pasti ada aturan yang bisa diterapkan untuk menindak nakes tersebut," tambah dia.
Advertisement
Komentar Nirempati
Kisah pilu ini bermula dari curhatan seorang pasien bernama Yurizal di platform Threads pada 22 Juli 2026. Dia mengeluhkan sistem pelayanan BPJS Kesehatan setelah harus menahan sakit dan menunggu selama delapan jam demi mendapatkan ruang perawatan.
Niat hati membagi pengalaman, unggahan itu justru diwarnai komentar yang memicu amarah warganet. Sebuah akun berinisial NZ, yang diduga kuat terafiliasi dengan RSUD dr. Soekardjo Kota Tasikmalaya, meninggalkan komentar bernada merendahkan dan kasar.
"Yuris org miskin harta miskin akal tp pgn di istimewain. 8 jam sangat sangat wajar apalagi kt lo itu RS rujukan nasional... boleh gue bilang sesuatu? LO G****K BANYAK B***T," tulis akun tersebut tanpa nurani.
Komentar nirempati itu sontak memicu badai kecaman. Publik menilai respons tersebut sangat tidak pantas keluar dari seseorang yang diduga bekerja di fasilitas kesehatan.
Amarah warganet kian memuncak bak bola salju saat pihak keluarga, melalui sepupu pasien, membawa kabar duka. Yurizal dikabarkan telah menghembuskan napas terakhirnya pada 31 Juli 2026. Hinaan yang membekas di akhir hayat sang pasien itulah yang kini membuat publik terus mengawal kasus ini agar keadilan ditegakkan.