Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono kembali menegaskan komitmennya terhadap kebijakan zero tolerance terhadap insiden keamanan pangan. Penegasan ini juga mencakup penyimpangan dalam pelaksanaan program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi fokus utama BGN untuk memastikan kualitas gizi.
Pernyataan tegas tersebut disampaikan setelah Sudaryono melakukan kunjungan langsung kepada siswa-siswa dari SMK Negeri 6 Semarang. Para siswa ini diduga menjadi korban insiden keamanan pangan di beberapa rumah sakit di Semarang pada hari Sabtu, memicu perhatian serius dari pihak BGN.
Di Jakarta pada hari Minggu, Sudaryono menyatakan dalam keterangan resminya bahwa sebagai Kepala BGN yang baru, ia akan memastikan tidak ada toleransi. Hal ini berlaku untuk keracunan makanan, korupsi, dan praktik tidak jujur seperti penggelapan dana, yang semuanya dapat merugikan penerima manfaat program.
Advertisement
Advertisement
Komitmen Tegas Kepala BGN Terhadap Keamanan Pangan
Sudaryono menyoroti pentingnya menjaga integritas dan keamanan dalam setiap aspek program MBG, yang bertujuan untuk meningkatkan gizi masyarakat. Komitmen ini merupakan langkah proaktif untuk melindungi kesehatan dan keselamatan para penerima manfaat program di seluruh Indonesia.
Ia menekankan bahwa setiap insiden keamanan pangan atau penyimpangan akan ditindak tegas tanpa kompromi, menunjukkan keseriusan BGN dalam memastikan program berjalan sesuai standar tertinggi. Ini adalah bagian dari upaya BGN untuk membangun kepercayaan publik.
Pernyataan ini muncul setelah adanya dugaan insiden yang menimpa siswa SMK Negeri 6 Semarang, yang menggarisbawahi urgensi penerapan standar keamanan pangan yang ketat. Kejadian ini menjadi pemicu untuk peninjauan ulang dan pengetatan prosedur.
Advertisement
Advertisement
Kepatuhan SOP dan Tanggung Jawab Kepala Dapur
Semua Unit Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) diwajibkan untuk mematuhi secara ketat Prosedur Operasi Standar (SOP) yang telah ditetapkan oleh BGN. Kepatuhan ini bertujuan untuk mencegah terulangnya insiden keamanan pangan serupa di masa mendatang, memastikan setiap hidangan aman dikonsumsi.
Menurut Sudaryono, kepatuhan terhadap SOP dan sistem manajemen dapur adalah kunci utama dalam menjamin keamanan pangan bagi para penerima manfaat. Aspek ini menjadi fondasi penting dalam operasional SPPG, dari persiapan hingga penyajian makanan.
Ia juga menegaskan bahwa kepala dapur memiliki tanggung jawab penuh untuk memastikan semua prosedur dilaksanakan secara disiplin dan tanpa pengecualian. Kepemimpinan yang kuat di tingkat dapur sangat krusial untuk keberhasilan program dan pencegahan risiko.
Advertisement
"Untuk mencegah terulangnya kembali, kita harus mengikuti SOP, sistem dan kepala SPPG. Saya mengerti Anda memiliki koki, pengawas gizi, atau orang lain yang bekerja di sana, dan mungkin satu atau dua orang yang keras kepala, jadi harus ada kepemimpinan yang tegas," ujar Sudaryono, menekankan pentingnya disiplin.
Advertisement
Tindakan Tegas Terhadap Pelanggaran Prosedur Higienis
Kepala SPPG harus mengambil tindakan tegas terhadap staf yang tidak mematuhi prosedur kebersihan dan keamanan pangan yang telah ditetapkan. Contoh pelanggaran termasuk tidak mencuci tangan, tidak memakai sarung tangan, atau tidak memakai masker saat menyiapkan makanan, yang dapat menjadi sumber kontaminasi.
Sudaryono menegaskan bahwa kesehatan dan nyawa masyarakat adalah hal yang sangat penting dan tidak bisa ditawar. Oleh karena itu, tidak akan ada lagi toleransi terhadap pelanggaran prosedur yang dapat membahayakan penerima manfaat program.
"Jika ada karyawan dapur yang tidak patuh, mereka harus disingkirkan. Harus tegas, karena kesehatan dan nyawa masyarakat sangat penting. Tidak akan ada lagi (toleransi)," tegasnya, menunjukkan keseriusan dalam penegakan aturan.
Advertisement
Langkah-langkah disipliner ini diharapkan dapat menumbuhkan budaya kerja yang lebih bertanggung jawab dan higienis di seluruh unit SPPG. Tujuannya adalah menciptakan lingkungan yang aman dan terjamin untuk penyediaan makanan bergizi.
Sumber: AntaraNews