Universitas Airlangga (Unair) kembali memperkuat kolaborasinya dengan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi melalui program Kuliah Kerja Nyata Belajar Bersama Komunitas (KKN-BBK). Sebanyak 210 mahasiswa diterjunkan ke berbagai desa untuk menjalankan program pengabdian masyarakat sekaligus berkontribusi dalam pengembangan potensi daerah selama hampir satu bulan.
Ratusan mahasiswa tersebut dilepas di Pendopo Sabha Swagata Blambangan, Senin (13/7/2026), untuk melaksanakan pengabdian di empat kecamatan di Banyuwangi.
Mereka akan menjalankan program pengabdian selama 28 hari di Kecamatan Tegalsari, Bangorejo, Siliragung, dan Pesanggaran dengan potensi wilayah yang beragam.
Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Pemkab Banyuwangi, M Yanuar Bramuda, mengapresiasi kontribusi Universitas Airlangga dalam mendukung pembangunan daerah.
"Kami bersyukur Unair terus memberikan kontribusi nyata kepada Pemerintah Kabupaten Banyuwangi dan masyarakat Banyuwangi," kata Bram usai melepas mahasiswa KKN Unair.
Sebelumnya Unair telah bekerjasama dengan Pemkab Banyuwangi untuk pengembangan Rumah Sakit Blambangan dan Genteng sebagai laboratorium pembelajaran bagi mahasiswa kesehatan.
"Kami ingin Rumah Sakit Blambangan dan Rumah Sakit Genteng menjadi rumah sakit rujukan terbaik di wilayah Sekar Kijang. Alat kami siapkan, tetapi tenaga masih kurang," ujarnya.
Advertisement
Kolaborasi Diperluas hingga Penguatan Layanan Kesehatan
Bram juga meminta mahasiswa mengeksplorasi berbagai potensi daerah selama menjalani pengabdian, mulai dari pondok pesantren, pertanian, perkebunan, hingga destinasi wisata.
"Silakan gali dan kembangkan potensi yang kita miliki. Seperti di Tegalsari misalnya, daerah ini memiliki banyak pondok pesantren yang bisa menjadi mitra kolaborasi teman-teman. Bangorejo unggul dengan sektor pertanian dan buah naga, sementara Siliragung dan Pesanggaran menyimpan potensi pertanian dan pariwisata yang luar biasa," kata Bram.
Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam (FIKKIA) Unair Banyuwangi, Dr. Rahadian Indarto Susilo, mengatakan kegiatan tersebut menjadi ruang belajar langsung bagi mahasiswa.
"Kegiatan ini bukan sekadar latihan, tetapi interaksi nyata dengan masyarakat untuk memecahkan persoalan dari berbagai sudut pandang keilmuan dan menghadirkan solusi," ujar Rahadian.
Ia juga mengingatkan mahasiswa menjaga etika selama berada di tengah masyarakat dan bijak menggunakan media sosial karena Banyuwangi memiliki tingkat literasi digital yang tinggi.
(*)